BerandaParlemenKomisi X DPR RI Soroti Kondisi Sekolah di Siak, Revitalisasi Sarana Pendidikan...

Komisi X DPR RI Soroti Kondisi Sekolah di Siak, Revitalisasi Sarana Pendidikan Didorong Berkelanjutan

Di SD Negeri 01 Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau, sekolah bukan sekadar tempat anak-anak datang setiap pagi. Di ruang-ruang kelas itulah mereka membaca, berhitung, bertanya, bermain bersama teman, dan perlahan membayangkan masa depan.

Namun, untuk menghadirkan ruang belajar yang aman dan nyaman, sekolah tersebut masih harus berbenah. Bangunan yang telah berdiri sejak lama membutuhkan perhatian, sementara sejumlah bagian sekolah perlu diperbaiki agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

- Advertisement -

Kondisi itu menjadi perhatian Komisi X DPR RI ketika melakukan Kunjungan Kerja Reses ke Kabupaten Siak, pada Rabu (22/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Komisi X melihat langsung pelaksanaan revitalisasi di SD Negeri 01 Benteng Hulu sekaligus mendengar kebutuhan sekolah.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian pada masa itu (periode 2025-2026) mengatakan kondisi bangunan sekolah sebelum direvitalisasi memang cukup memprihatinkan. Beberapa bagian bangunan, terutama atap, dinilai dapat membahayakan keselamatan siswa.

“Tim Kunres Komisi X DPR RI mengunjungi salah satu sekolah yang menerima program revitalisasi. Terbukti setelah melihat secara langsung ruang-ruang kelas yang ada memang sudah sangat tua dan sangat berbahaya bagi anak-anak, terutama bagian atapnya. Selain itu, masih ada beberapa bagian lain yang berpotensi mencelakakan sehingga membuat anak-anak tidak merasa aman saat belajar,” ujar Hetifah.

Sekolah yang dibangun pada 1956 tersebut kini tengah menjalani proses revitalisasi. Bagi Komisi X, perbaikan sekolah tidak semestinya berhenti pada pekerjaan fisik yang terlihat dari luar. Lebih jauh, revitalisasi harus memastikan anak-anak dapat mengikuti pembelajaran dalam lingkungan yang aman dan layak.

Bagi sekolah, kebutuhan tidak selalu berhenti pada satu bagian bangunan. Ketika satu ruang telah diperbaiki, bagian lain yang sudah berusia tua tetap membutuhkan perhatian. Di sinilah pengawasan DPR menjadi penting, agar proses revitalisasi tidak sekadar selesai secara administratif, tetapi memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan warga sekolah.

Anggota Komisi X DPR RI Karmila Sari menilai perhatian terhadap pendidikan di Siak juga perlu menjangkau sekolah-sekolah lain, terutama yang berada di wilayah pelosok. Saat mengunjungi SD Negeri 01 Benteng Hulu, ia menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan sekaligus memastikan kebutuhan pembangunan sarana pendidikan di daerah mendapat perhatian.

“Masih banyak sekolah lain yang memerlukan perhatian, terutama di wilayah pelosok Kabupaten Siak,” ujar Karmila, Legislator dapil Riau I.

Pengawasan revitalisasi sekolah tidak hanya berbicara tentang satu bangunan. Ada persoalan pemerataan yang ikut mengemuka, yaitu bagaimana memastikan sekolah yang membutuhkan perbaikan dapat memperoleh perhatian, termasuk sekolah-sekolah yang letaknya jauh dari pusat daerah.

Hal serupa juga menjadi perhatian Komisi X ketika menyerap aspirasi pendidikan di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara pada Rabu (22/7/2026). Anggota Komisi X DPR RI, dapil Sumatera Utara I, Sofyan Tan menemukan masih terdapat ruang kelas yang membutuhkan revitalisasi. Dari enam ruang yang diusulkan sekolah, baru tiga yang memperoleh revitalisasi, sehingga ia meminta seluruh kebutuhan, termasuk fasilitas toilet, turut diperhatikan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lebih baik.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan revitalisasi sekolah tidak selalu selesai ketika pembangunan dimulai. Ada kebutuhan untuk memastikan proses pengusulan, penetapan, pelaksanaan, hingga hasil akhirnya benar-benar sesuai dengan kondisi sekolah.

Karena itu, Komisi X juga mendorong pemerintah memiliki perencanaan yang lebih panjang. Anggota Komisi X DPR RI Muhamad Nur Purnamasidi meminta pemerintah menyusun peta jalan revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan secara nasional. Menurutnya, perencanaan yang terukur dan berkelanjutan diperlukan agar perbaikan sekolah tidak selalu menunggu sampai kerusakannya menjadi berat.

“Revitalisasi sekolah harus terencana, jangan tunggu rusak berat,” tegas Muhamad Nur.

Gagasan tersebut membawa persoalan di Benteng Hulu ke dalam konteks yang lebih luas. Sebuah sekolah yang telah berusia puluhan tahun mengingatkan bahwa pemeliharaan sarana pendidikan membutuhkan perhatian secara berkelanjutan. Sekolah tidak semestinya baru menjadi perhatian ketika atap mulai rusak, ruang kelas tidak lagi nyaman, atau fasilitas pendukung tidak dapat digunakan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM