Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melalui proyek kerja sama Indonesia–Jerman Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pengembangan pekerjaan hijau (green jobs) yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia melalui Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (2/9).
Bagi Indonesia, agenda tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan transformasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian penting dalam pencapaian sasaran pembangunan jangka panjang dan menengah. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa, “Indonesia telah menetapkan arah transformasi hijau pada agenda pembangunan nasional. Kita menargetkan peningkatan porsi Energi Baru dan Terbarukan dalam bauran energi primer, dari 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada 2045. Selisih 50 persen ini akan menciptakan lapangan kerja baru yang tidak hanya untuk kepentingan Indonesia dan negara tetangga kita, tetapi juga untuk kepentingan dunia.”
Transisi menuju ekonomi hijau merupakan bagian penting dari transformasi pembangunan untuk menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang lebih berkelanjutan. Transformasi tersebut tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi dan investasi hijau, tetapi juga tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor kunci agar manfaat transisi hijau dapat dirasakan secara luas dan mendorong peningkatan produktivitas, daya saing, serta kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan melalui Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia yang diluncurkan oleh Kementerian PPN/Bappenas. Berdasarkan peta jalan tersebut, kebutuhan tenaga kerja hijau Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari 5,3 juta pekerjaan pada 2029, sementara lebih dari 72 juta pekerjaan yang telah ada berpotensi ditransformasikan agar selaras dengan ekonomi rendah karbon. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pekerjaan hijau perlu dipandang tidak hanya sebagai upaya menciptakan jenis pekerjaan baru, tetapi juga sebagai agenda transformasi pasar kerja dan peningkatan kualitas pekerjaan yang telah ada.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan ekosistem pekerjaan hijau yang mampu mempertemukan kebutuhan pembangunan, perkembangan teknologi, dan dinamika pasar kerja. Penguatan kerangka kebijakan dan regulasi perlu berjalan seiring dengan penyelarasan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan dunia usaha, pengembangan green skills, penguatan data dan informasi pasar kerja, serta peningkatan kapasitas berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, pekerja, komunitas, dan mitra pembangunan menjadi penting untuk memastikan pengembangan tenaga kerja dapat merespons kebutuhan sektor-sektor yang berkembang dalam ekonomi hijau.
Dalam konteks tersebut, kemitraan Indonesia–Jerman melalui proyek GESIT menjadi salah satu bentuk konkret kerja sama untuk mendukung pengembangan ekosistem pekerjaan hijau di Indonesia. Kolaborasi ini mendorong pertukaran pengetahuan dan keahlian, peningkatan kapasitas teknis, serta pengembangan dan pengujian solusi yang dapat mendukung transformasi berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang telah dikembangkan mencakup dukungan terhadap kerangka kebijakan strategis, pengembangan modul pelatihan upskilling, pelaksanaan uji coba di tingkat subnasional, serta penguatan kapasitas pemangku kepentingan terkait pekerjaan hijau.
Deputy Head of Mission and Head of Economic Affairs, Embassy of the Federal Republic of Germany to Indonesia Mr. Oliver Sperling menyampaikan bahwa, “Transformasi hijau pada akhirnya bergantung pada manusia yang mewujudkannya. Investasi dan teknologi hijau membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang tepat. Karena itu, investasi pada keterampilan hijau merupakan kunci bagi daya saing ekonomi dan penciptaan peluang kerja masa depan.”
IGJC 2026 yang mengusung tema “From Commitment to Creation” ini menjadi platform untuk memperkuat hubungan antara kebijakan, kolaborasi, dan implementasi. Forum ini mendorong para pemangku kepentingan untuk membangun kemitraan strategis, mengembangkan solusi konkret terhadap kebutuhan keterampilan tenaga kerja, serta mendorong investasi dan inovasi yang dapat mempercepat penciptaan dan transformasi pekerjaan hijau di berbagai sektor.
Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam IGJC 2026. Melalui Call for Papers dan Call for Innovation, mahasiswa, peneliti muda, dan komunitas memperoleh ruang untuk menyampaikan gagasan dan solusi di bidang seperti energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan pertanian berkelanjutan. IGJC 2026 juga menghadirkan showcase inovasi, pameran inisiatif keberlanjutan, dan aktivitas pengembangan keterampilan hijau sebagai ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman antarpemangku kepentingan.
IGJC 2026 menandai langkah penting dalam menerjemahkan agenda pekerjaan hijau Indonesia dari komitmen kebijakan menuju implementasi dan penciptaan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui penguatan kemitraan lintas sektor, pengembangan keterampilan, serta dorongan terhadap inovasi dan investasi hijau, Indonesia terus membangun ekosistem pekerjaan hijau yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memastikan tenaga kerja Indonesia siap mengambil peran dalam transformasi menuju ekonomi hijau.
“Mari kita jadikan transformasi hijau ini sebagai momentum untuk melahirkan tenaga kerja Indonesia yang future-ready serta menciptakan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Kita sudah sepakat from commitment to creation, tetapi itu saja tidak cukup. From commitment to creation and then to action—real action. Bersama Pemerintah Jerman, kita akan bekerja lebih erat,” pungkas Menteri Rachmat Pambudy.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






