BerandaZ Hot NewsMahasiswa S2 dan S3 IPB University Kaji Dampak Digitalisasi terhadap Kehidupan Keluarga...

Mahasiswa S2 dan S3 IPB University Kaji Dampak Digitalisasi terhadap Kehidupan Keluarga Baduy

Mahasiswa pascasarjana IPB University mengkaji dampak digitalisasi dan penetrasi teknologi terhadap kehidupan keluarga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, pada 12–13 September 2026.

Kajian tersebut menyoroti bagaimana kehadiran telepon pintar (smartphone) dan internet mulai bersinggungan dengan kehidupan keluarga yang memiliki sistem nilai dan aturan adat kuat, terutama dalam aspek komunikasi, pengasuhan, hubungan antargenerasi hingga pewarisan nilai budaya.

- Advertisement -

Kegiatan pembelajaran lapang diikuti 43 mahasiswa, terdiri atas 36 mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) serta tujuh mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Keluarga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University.

Melalui wawancara keluarga dan observasi langsung, mahasiswa menelaah bagaimana perkembangan teknologi memasuki kehidupan keluarga masyarakat Baduy.

Kajian dilakukan terhadap sejumlah aspek, mulai dari akses dan penggunaan telepon pintar serta internet, perbedaan pengalaman antargenerasi, perubahan pola komunikasi dalam keluarga, hingga batasan adat dalam pemanfaatan teknologi.

Digitalisasi juga dikaji dalam kaitannya dengan pendidikan anak, mata pencaharian, pemasaran produk, pariwisata, serta interaksi masyarakat Baduy dengan masyarakat luar.

Teknologi di satu sisi dinilai dapat membuka akses informasi yang lebih luas sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi keluarga.

Namun, penggunaan teknologi juga dapat menghadirkan sejumlah tantangan, terutama berkaitan dengan pengawasan orang tua, kualitas interaksi antaranggota keluarga, perlindungan anak, privasi hingga keberlanjutan nilai budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Guru Besar Ilmu Keluarga IPB University sekaligus dosen pembimbing program, Prof Euis Sunarti, mengatakan teknologi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai simbol kemajuan maupun ancaman bagi kehidupan keluarga.

Hal terpenting adalah bagaimana keluarga mampu memahami, mengendalikan, dan menggunakan teknologi sesuai kebutuhan serta nilai yang dianut.

“Persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya teknologi, tetapi bagaimana keluarga memaknai, mengendalikan, dan menggunakannya. Teknologi dapat menjadi sumber daya keluarga, tetapi juga membawa risiko apabila tidak disertai batasan yang sesuai dengan nilai keluarga serta komunitas,” ujar Prof Euis.

Menurutnya, kemampuan dalam mengelola penetrasi teknologi menjadi bagian dari dinamika sekaligus ketahanan keluarga.

Respons setiap keluarga terhadap perkembangan teknologi dapat berbeda. Hal tersebut dipengaruhi kepatuhan terhadap nilai dan aturan adat, tingkat pengetahuan dan literasi digital, pola pengasuhan, kondisi sosial ekonomi, akses teknologi, serta lingkungan sosial.

Kajian mahasiswa IPB University juga menunjukkan pentingnya membangun lingkungan digital yang ramah terhadap keluarga.

Lingkungan digital tidak cukup hanya memberikan akses terhadap teknologi, tetapi juga harus mampu memberikan perlindungan kepada anak dan meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendampingi penggunaan teknologi.

Selain itu, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan secara bertanggung jawab dengan tetap memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan nilai serta identitas budayanya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi komunitas masyarakat adat yang menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi, tetapi pada saat yang sama memiliki nilai dan tata kehidupan yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Pembelajaran lapang tersebut mengintegrasikan pendekatan project-based learning dan problem-based learning pada mata kuliah Dinamika Keluarga, Ketahanan dan Kebijakan Keluarga, serta Keluarga dan Pembangunan.

Mahasiswa didorong menghubungkan berbagai teori dan konsep yang dipelajari di ruang kuliah dengan realitas perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga dan komunitas.

Kuliah lapang dibimbing Prof Euis Sunarti sebagai pengampu mata kuliah, serta didukung Dr Defina, Rahmi Damayanti, MSi, dan Muhammad Fikri Maulana, MPsi.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan analisis dan rekomendasi yang tidak hanya responsif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan serta karakteristik masyarakat adat.

Kajian mengenai digitalisasi pada keluarga Baduy juga diharapkan memperkuat pemahaman bahwa perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan ketahanan keluarga, perlindungan anak, literasi digital, serta penghormatan terhadap nilai dan identitas budaya masyarakat.

Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM