Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong pemerintah mengedepankan pendekatan psikologis dan penguatan pedagogi guru dalam membenahi persoalan pendidikan yang tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Menurutnya, pembenahan pendidikan tidak cukup hanya melalui pemenuhan administrasi maupun perubahan kurikulum secara tertulis.
Fikri menilai pemerintah perlu memperkuat keterampilan guru dan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman sekaligus meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Hal tersebut disampaikannya sebagai respons terhadap tingginya angka perundungan serta penurunan skor Matematika dalam hasil PISA 2025.
“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar mengubah kurikulum di atas kertas menjadi pelatihan intensif untuk mengubah cara guru mengajar di dalam kelas (pedagogi), dari yang tadinya sekadar ceramah dan hafalan menjadi penemuan konsep bersama siswa,” tegas Fikri dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Parlementaria di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Terkait persoalan perundungan, politisi Fraksi PKS itu menilai keberadaan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah belum cukup apabila hanya ditempatkan sebagai pemenuhan kewajiban administratif. Menurutnya, anggota TPPK, baik dari unsur guru maupun komite sekolah, perlu dibekali kompetensi khusus agar mampu menangani kasus kekerasan secara tepat.
Fikri mendorong agar pelatihan bagi anggota TPPK mencakup mediasi psikologis, teknik investigasi yang netral dan tidak menyalahkan korban, serta perlindungan terhadap kerahasiaan pelapor. Menurutnya, pendekatan yang aman dan berorientasi pada perlindungan korban penting untuk membangun keberanian siswa dalam melaporkan kasus perundungan.
“Otak manusia tidak bisa menyerap pelajaran saat berada dalam mode bertahan hidup. Murid yang merasa terancam tidak akan bisa meraih skor akademik yang baik, sehingga anggaran pendidikan besar akan terbuang sia-sia,” ujarnya.
Selain aspek psikologis, Fikri menyoroti perlunya perubahan metode pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan Matematika siswa. Ia mendorong pemerintah mengadopsi praktik pembelajaran yang menitikberatkan pada pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan rumus.
Ia mencontohkan pendekatan pembelajaran di Singapura yang menerapkan penguasaan materi (mastery) dengan menggunakan benda konkret dan visualisasi sebelum siswa diperkenalkan pada simbol-simbol abstrak. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu siswa memahami konsep Matematika secara lebih mendalam dan kontekstual.
Di sisi lain, Fikri mendorong pemberian otonomi yang lebih besar kepada guru dalam menentukan metode pembelajaran sesuai dengan karakter dan kebutuhan siswa di kelas. Ia mencontohkan Estonia yang memberikan ruang kepada pendidik untuk memilih pendekatan pembelajaran tanpa terlalu terbebani birokrasi yang kaku.
“Guru harus diberikan ruang untuk menentukan metode yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhan muridnya. Jangan sampai energi guru habis untuk memenuhi administrasi, sementara waktu dan perhatian untuk mengajar justru berkurang,” pungkas Fikri.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






