Anggota Komisi X DPR RI Reni Astuti menilai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat edukasi budaya bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia. Keberadaan Keraton Yogyakarta, museum, situs sejarah, dan berbagai destinasi budaya dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan secara langsung.
Hal tersebut disampaikan Reni saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke DIY, Kamis (24/9/2026). Menurutnya, Yogyakarta selama ini telah menjadi salah satu tujuan pelajar dari berbagai daerah untuk mengenal sejarah dan kebudayaan.
“Kita tahu bahwa Jogja ini istimewa. Banyak sekali museum, kemudian juga situs-situs budaya. Di sini ada keraton, dan juga banyak sekali destinasi budaya yang lain,” ujar Reni.
Reni mengatakan, tradisi kunjungan pelajar ke Yogyakarta telah berlangsung sejak lama. Menurutnya, tingginya minat tersebut dapat menjadi momentum untuk memperluas pengenalan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Ia berharap, pengalaman mengunjungi museum maupun situs budaya tidak berhenti pada pengenalan sejarah Yogyakarta. Para pelajar juga dapat membawa pulang semangat untuk mengenali dan melestarikan kebudayaan di daerah asal masing-masing.
“Di situlah kemudian kecintaan anak-anak muda terhadap budaya Indonesia melalui museum dan situs-situs budaya yang ada di Yogyakarta ini. Pulangnya itu membawa semangat. Mereka juga bisa melestarikan budaya di daerahnya,” jelas Reni.
Ia mencontohkan Surabaya yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya tersendiri. Menurut Reni, pengalaman mengenal budaya di Yogyakarta dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk menggali dan merawat warisan budaya di daerahnya masing-masing.
Selain memperkuat fungsi edukasi, Reni menilai keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan destinasi budaya juga penting. Saat mengunjungi Keraton Yogyakarta, ia melihat adanya anak-anak muda yang terlibat melalui program magang maupun sebagai pegawai yang membantu memperkenalkan kawasan tersebut kepada wisatawan.
Menurutnya, keterlibatan tersebut dapat mendukung regenerasi pelaku budaya sekaligus memastikan pengetahuan mengenai warisan budaya terus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati menilai Keraton Yogyakarta sebagai cagar budaya memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, wisata, dan pembelajaran sejarah. Menurutnya, status keistimewaan DIY juga menjadi salah satu modal dalam menjaga keberlangsungan berbagai warisan budaya di daerah tersebut.
Esti menyebut Dana Keistimewaan DIY yang setiap tahun mencapai sekitar Rp1 triliun dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemanfaatan sekaligus perlindungan tempat-tempat yang memiliki nilai budaya.
“Tentu kita harapkan dari dana istimewa itulah tempat-tempat seperti itu bisa tetap dimanfaatkan, tapi tetap terlindungi, tidak menjadi rusak,” ujar Esti.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan kawasan budaya harus berjalan seiring dengan pemahaman terhadap nilai sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Keraton Yogyakarta, menurutnya, tidak semata-mata merupakan bangunan atau destinasi wisata, tetapi juga bagian dari entitas budaya yang menyimpan nilai kehidupan masyarakat Jawa.
Karena itu, Esti mengajak masyarakat, khususnya warga Yogyakarta, turut menjaga dan menghormati warisan budaya yang ada. Nilai filosofi dan budaya Jawa yang terkandung dalam berbagai peninggalan tersebut dinilai dapat menjadi bahan pembelajaran untuk membangun karakter masyarakat.
“Sebagai warga Yogyakarta tetap harus punya niatan dengan baik, tetap uri-uri budaya Yogyakarta, termasuk bagaimana kita juga menghormati Keraton Yogyakarta ini sebagai sebuah entitas,” tuturnya.
Komisi X DPR RI memandang potensi tersebut dapat terus dikembangkan agar Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan generasi muda dengan sejarah dan kebudayaan secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan mendorong kecintaan sekaligus kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia, termasuk di daerah asal masing-masing.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






