BerandaParlemenDorong Budaya Literasi, Willy Aditya Sumbang 250 Buku ke Lapas Perempuan Bandung

Dorong Budaya Literasi, Willy Aditya Sumbang 250 Buku ke Lapas Perempuan Bandung

Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menyerahkan bantuan sebanyak 250 buku bacaan untuk Perpustakaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong budaya membaca dan menulis sebagai instrumen pembinaan warga binaan.

 

- Advertisement -

Bantuan itu diserahkan Willy dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jumat (25/9/2026). Ia mengatakan, buku yang diberikan memiliki beragam genre agar warga binaan memiliki pilihan bacaan yang luas sesuai minat dan kebutuhannya.

 

“Buku yang saya serahkan ini banyak genre, ada genre sastra, ada genre agama, ada genre ekonomi produktif, ada eko bisnis dan lain sebagainya. Spektrumnya sangat luas,” kata Willy.

 

Tidak berhenti pada penyediaan buku, Willy juga berencana memberikan 100 buku harian atau diari kepada warga binaan pada pekan depan. Menurutnya, menulis diari dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk mengenali dan merefleksikan dirinya sendiri.

 

“Insya Allah minggu depan saya akan kirim 100 diari, karena dulu saya belajar menulis dari diari. Diari itulah yang menjadi medium korespondensi, kalau membaca kita memahami pikiran-pikiran orang, menulis kita berkorespondensi dengan diri kita dan melihat ke dalam,” ujarnya.

 

Willy menilai, aktivitas membaca dan menulis memiliki kekuatan dalam membangun proses kontemplasi warga binaan. Karena itu, literasi semestinya ditempatkan sebagai bagian dari proses pembinaan dan reintegrasi, bukan sekadar aktivitas tambahan di dalam lapas.

 

Sebelumnya, Ia mengungkapkan telah menyampaikan dalam rapat kerja bersama Menteri terkait gagasan agar kemampuan membaca dan menulis dapat menjadi salah satu variabel dalam pengurangan masa tahanan. Menurutnya, selama ini ukuran pembinaan cenderung bertumpu pada kepatuhan terhadap aturan.

 

Menurut Willy, apabila lapas benar-benar diarahkan sebagai ruang reintegrasi dan memanusiakan manusia, maka keberhasilan pembinaan harus dilihat dari perubahan dan produktivitas warga binaan. Literasi dinilai dapat membantu menghadirkan proses tersebut secara lebih nyata.

 

“Kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” tuturnya.

 

Ia mencontohkan aktivitas menulis dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk merekam pengalaman dan interaksi selama menjalani masa pembinaan. Dari tulisan tersebut, proses perubahan diri warga binaan dapat terlihat secara lebih autentik.

 

“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM