Di sebuah bengkel sepatu di Ciomas, Kabupaten Bogor, delapan orang bekerja menghidupkan roda produksi setiap harinya. Ada yang membuat pola, menjahit, melakukan pengepakan, hingga menyiapkan sepatu untuk dikirim kepada pembeli. Sebagian besar merupakan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas produksi di bengkel tersebut.
Di balik aktivitas itu ada Endang Sukarna, pelaku usaha sepatu yang telah menjalankan produksinya sejak 2015. Bagi Endang, mempertahankan usaha bukan hanya soal menjaga bisnis tetap berjalan, tetapi juga memastikan orang-orang yang bekerja bersamanya tetap memiliki penghasilan.
Perjalanan Endang membangun usaha tidak selalu mulus. Awalnya pada tahun 2015, Endang membuat sepatu untuk kebutuhan perjalanan umrah, ia kemudian mencoba memasok berbagai merek dan masuk ke pasar grosir.
Namun, perubahan besar terjadi ketika pandemi Covid-19 membuat pasar konvensional ikut terdampak. Endang kemudian beralih ke penjualan daring. Pilihan tersebut membuka jalan baru. Pesanan mulai datang dari berbagai daerah dan produksi yang semula mengandalkan pasar tertentu perlahan menemukan pola pemasaran yang lebih berkelanjutan.
Kini, Endang lebih banyak memproduksi sepatu pesta dan sepatu anak untuk pasar online. Produksi dilakukan secara manual, mulai dari membeli bahan baku, membuat pola, hingga menjahit dan mengepak produk. Ketika pesanan meningkat, ia menambah tenaga kerja agar kapasitas produksi bisa mengikuti permintaan.
“Kita di sini benar-benar kekeluargaan. Dari sepi sampai ramai, pekerja saya tetap loyal. Kalau orderan banyak, kita tambah orang untuk percepat proses produksi,” ujar Endang.
Bagi sebuah usaha kecil, mempertahankan delapan pekerja bukan perkara sederhana. Permintaan sepatu tidak selalu stabil. Ada masa ketika pesanan meningkat, tetapi ada pula periode ketika pasar cenderung sepi. Dalam situasi seperti itu, Endang harus pintar mengatur modal dan produksi agar usaha tetap berputar.
Tantangan juga datang dari sisi tenaga kerja. Menurut Endang, mencari pekerja yang memiliki keterampilan membuat sepatu menjadi salah satu persoalan yang cukup berat. Padahal, ketika pesanan meningkat, kebutuhan tenaga produksi ikut bertambah.
Masalah lain adalah bahan baku. Beberapa ornamen sepatu masih menggunakan bahan impor. Ketika bahan tertentu sulit diperoleh, produksi dapat ikut tertahan. Endang biasanya menyiasatinya dengan mencari alternatif bahan atau membuat model baru yang menyesuaikan ketersediaan bahan baku.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Endang terus berusaha menjaga produksi agar tidak berhenti. Baginya, stok yang menumpuk bukan alasan untuk menyerah. Produk tetap dipasarkan dengan harga yang disesuaikan agar modal bisa kembali berputar dan produksi berikutnya dapat dilakukan.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa usaha mikro dan kecil memiliki peran lebih luas daripada sekadar menghasilkan barang. Di dalam satu bengkel, terdapat rantai pekerjaan yang melibatkan pembuat pola, penjahit, bagian pengepakan, hingga distribusi. Ketika satu usaha tumbuh, ada lebih banyak orang yang ikut merasakan manfaatnya.
Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat perlu dilihat dari kemampuan usaha untuk bertahan, berkembang, dan menciptakan kesempatan kerja. Dukungan kepada pelaku usaha tidak cukup hanya berupa pelatihan, tetapi juga perlu menyentuh persoalan yang mereka hadapi sehari-hari: pembiayaan, bahan baku, keterampilan tenaga kerja, dan akses pasar.
Endang berharap usahanya bisa terus mendapatkan pesanan sehingga dapat menambah tenaga kerja. Ia juga berharap pekerjanya tetap nyaman dan keterampilan membuat sepatu dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Mudah-mudahan bahan baku murah, pekerja betah sama saya dan ada regenerasi. Karena kan terus berputar,” katanya.
Dari sebuah bengkel sederhana di Ciomas, cerita Endang memperlihatkan bahwa kemandirian ekonomi dibangun dari usaha yang terus bergerak. Ketika akses pembiayaan, bahan baku, keterampilan, dan pasar dapat diperkuat, satu usaha kecil bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi pekerja, keluarga, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News





