Menjaga kesehatan di tengah rutinitas pekerjaan menjadi bagian penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas hidup pegawai. Kebiasaan duduk terlalu lama, postur tubuh yang kurang tepat, hingga minimnya aktivitas fisik menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan, khususnya bagi pekerja kantoran.
Topik tersebut dibahas dalam Health Talk “Deteksi Dini Risiko Saraf Terjepit dan Teknologi Terkini Penanganannya” yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Rumah Sakit Lamina di Kantor Badan Pangan Nasional, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Ketua DWP Bapanas Tyas Sarwo Edhy mengatakan, kegiatan yang menjadi bagian dari program Bidang Pendidikan DWP Bapanas ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kepedulian peserta terhadap kesehatan diri dan keluarga.
“Saya berharap kegiatan yang kita laksanakan dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan, serta memberikan manfaat nyata bagi peserta, keluarga, lingkungan kantor, dan masyarakat pada umumnya,” ujar Tyas.
Antik Wijayanti Herdiarto, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi inisiatif DWP Bapanas dalam menyelenggarakan edukasi kesehatan bagi anggota dan keluarga besar Bapanas. Ia berharap pengetahuan yang disampaikan dr. Renkey Pratama Hermansyah dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dan dr. Renkey yang sudah berkenan hadir dan berbagi ilmu bersama kita. Semoga apa yang disampaikan hari ini bisa menambah pengetahuan dan tentunya bermanfaat bagi kita semua.”
Hadir sebagai narasumber, dr. Renkey Pratama Hermansyah dari Rumah Sakit Lamina menjelaskan sejumlah faktor risiko saraf terjepit yang perlu diperhatikan pekerja kantoran. Di antaranya kebiasaan duduk dengan postur kurang baik selama berjam-jam, kurangnya aktivitas fisik, serta gerakan berulang saat mengetik dan menggunakan mouse.
Menurut Renkey, posisi tubuh selama bekerja perlu menjadi perhatian. Posisi punggung saat duduk perlu dijaga tetap tegak, ketinggian meja disesuaikan, dan tubuh tidak dibiarkan berada pada posisi yang sama terlalu lama.
“Duduknya harus dengan punggung tegak dan tulang belakang tidak melengkung. Atur ketinggian meja dengan benar, kemudian jangan lupa lakukan peregangan ringan setiap satu sampai dua jam,” jelas Renkey.
Renkey juga mengingatkan peserta untuk memperhatikan keluhan yang muncul pada tubuh. Pada saraf terjepit di bagian pinggang, misalnya, rasa nyeri dapat menjalar ke bokong hingga kaki. Keluhan juga dapat berkembang menjadi kebas, kesemutan, maupun kelemahan otot. Sementara pada bagian leher, nyeri dapat menjalar ke bahu dan belikat.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan sesuai kondisi pasien. Dalam paparannya, Renkey turut mengenalkan perkembangan teknologi penanganan saraf terjepit, mulai dari terapi konservatif hingga tindakan minimal invasif berdasarkan hasil pemeriksaan dan diagnosis dokter.
Diskusi berlangsung dengan sejumlah pertanyaan dari peserta mengenai pengalaman mengalami nyeri pada tulang belakang dan saraf terjepit. Pertanyaan yang disampaikan antara lain terkait aktivitas fisik, terapi berenang, pemeriksaan MRI, serta aktivitas yang perlu diperhatikan agar keluhan tidak semakin berat.
DWP Bapanas berharap pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat diterapkan dalam keseharian. Menjaga postur tubuh saat bekerja, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta memeriksakan diri ketika mengalami keluhan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan menunjang aktivitas sehari-hari.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News





