BerandaPemdaBerdiri Berdampingan dengan Masjid Syuhada, Gereja Kotabaru Jogja Genap Berusia Satu Abad

Berdiri Berdampingan dengan Masjid Syuhada, Gereja Kotabaru Jogja Genap Berusia Satu Abad

Tiga rumah ibadah berdiri berdekatan di jantung Kota Yogyakarta: Gereja St. Antonius Padua atau Gereja Kotabaru, Gereja HKBP, dan Masjid Syuhada. Selama puluhan tahun, keberadaannya menjadi bagian dari wajah Kotabaru yang mempertemukan keragaman iman, budaya, dan kehidupan masyarakat. Saat Gereja Kotabaru menapaki usia satu abad, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak semua pihak melihat perjalanan itu bukan sekadar catatan usia, melainkan cahaya yang terus dijaga agar tetap menerangi kehidupan bersama.

“Pada hari ini kita tidak sekadar menghitung seratus tahun sebagai angka, melainkan menatap seratus tahun sebagai sebuah ziarah panjang cahaya kecil yang tak pernah padam,” ujar Sri Sultan dalam Puncak Perayaan Syukur 100 Tahun Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Sabtu (26/09) malam.

- Advertisement -

Sri Sultan mengisahkan, perjalanan Gereja Kotabaru bermula dari sebuah rumah sewaan yang digunakan sebagai tempat berdoa. Setelah melalui proses panjang untuk memperoleh tanah, pada akhir September 1926 berdiri sebuah bangunan yang kemudian diberkati dan diberi nama St. Antonius Padua. “Yang besar, selalu berawal dari yang nyaris tak kasat mata,” tuturnya.

Menurut Sri Sultan, perjalanan tersebut seperti mata air yang bermula dari tetes-tetes kecil di sela bebatuan, lalu menjadi sungai yang menghidupi lembah di sekitarnya. Semangat itu sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawana, yakni komitmen untuk menjaga dan memperindah kehidupan bersama.

Karena itu, keberagaman Yogyakarta, menurut Sri Sultan, bukan sekadar sesuatu yang ditoleransi, melainkan perlu terus dirawat seperti taman yang tumbuh dari beragam benih. Perbedaan iman, budaya, dan latar kehidupan justru menjadi bagian dari kekayaan ruang bersama yang harus dijaga.

Sri Sultan juga mengutip gambaran Jalaluddin Rumi tentang lentera. Bentuk dan kaca lampu boleh berbeda, tetapi cahaya yang menerangi berasal dari satu sumber. Pesan tersebut ia hubungkan dengan spiritualitas Katolik, Menemukan Tuhan Yang Hadir Dalam Segala Hal, yang mengajak manusia menemukan kehadiran Tuhan dalam pekerjaan, pelayanan, dan kesederhanaan sehari-hari.

Semangat itu, lanjut Sri Sultan, tercermin dalam gagasan “Gereja Terbuka”. Pintu gereja tidak hanya menjadi batas sebuah bangunan, tetapi juga lambang keterbukaan bagi siapa pun yang mencari Tuhan, makna, maupun pertolongan. Ia mengingatkan pesan Paus Fransiskus bahwa gereja adalah rumah Bapa dengan pintu yang senantiasa terbuka.

Dalam perspektif Sangkan Paraning Dumadi, setiap manusia merupakan peziarah yang pada akhirnya kembali kepada asalnya. Karena itu, Sri Sultan berharap setiap rumah ibadah dapat menjadi persinggahan yang menyalakan pelita bagi perjalanan manusia.

“Setiap rumah ibadah, dalam pandangan saya, adalah persinggahan yang seharusnya menyalakan pelita bagi para peziarah itu,” ungkapnya.

Atas nama Pemerintah Daerah DIY, Sri Sultan menyampaikan penghormatan atas perjalanan panjang Gereja Kotabaru sekaligus ucapan selamat atas satu abad keberadaannya. Ia berharap cahaya yang telah dijaga selama seratus tahun terus menerangi perjalanan gereja dan kehidupan masyarakat pada tahun-tahun mendatang.

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan usia 100 tahun menjadi momentum untuk mengikat kembali perjalanan panjang Gereja Kotabaru. Ia menyebutnya sebagai bundheli atau ngaleni, yakni menautkan kembali suka-duka, keberhasilan maupun kegagalan sebagai bagian dari jejak rahmat Tuhan.

Menurutnya, usia satu abad bukan alasan untuk berhenti pada kebanggaan atas masa lalu. Gereja justru perlu menatap seratus tahun berikutnya dengan semakin hadir bagi masyarakat, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan, orang sakit, lanjut usia, anak-anak, kaum muda, penyandang disabilitas, hingga mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi.

“Iman tidak boleh berhenti di dalam gedung. Doa menjadi pelayanan, Ekaristi menjadi kepedulian, dan kasih kepada Tuhan menjadi kasih kepada sesama,” ungkapnya.

Romo Paroki Gereja Kotabaru Rm. Nicolaus Fajar Trinugroho, SJ, mengatakan peringatan seabad menjadi ungkapan syukur atas perjalanan gereja sebagai bagian dari sejarah Indonesia dan Yogyakarta. Gereja Kotabaru, menurutnya, tumbuh di kawasan pusat kota yang menjadi ruang berkembangnya pendidikan dan kebudayaan sekaligus menjadi rumah bagi banyak orang, khususnya kaum muda.

Berada berdekatan dengan Gereja HKBP dan Masjid Syuhada, Gereja Kotabaru juga menjadi bagian dari ruang perjumpaan yang mencerminkan keberagaman kawasan tersebut. Mengusung tema “Teman Seperjalanan dalam Berpengharapan”, gereja ingin terus berjalan bersama kaum muda, mereka yang membutuhkan, lanjut usia, dan berbagai kelompok masyarakat untuk menghadirkan harapan baru.

Puncak Perayaan Syukur 100 Tahun Gereja St. Antonius Padua Kotabaru diawali dengan Misa dan dilanjutkan Pesta Umat. Acara puncak dibuka oleh Dalijo Angkring dan tim serta ditutup penampilan NdarBoy Genk. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono.

Seratus tahun Gereja Kotabaru akhirnya bukan sekadar tentang sebuah bangunan yang bertahan melewati zaman. Dari rumah sederhana tempat doa bermula hingga menjadi bagian dari wajah Kotabaru hari ini, perjalanan itu menunjukkan bagaimana sebuah cahaya dapat tumbuh ketika dirawat bersama. Memasuki abad berikutnya, cahaya tersebut diharapkan terus hadir dalam keterbukaan, pelayanan, persaudaraan, dan kepedulian, menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk merawat keberagaman dan kehidupan Yogyakarta.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM