Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong kreativitas menjadi bagian dari proses pemulihan anak-anak terdampak bencana di Sumatera melalui showcase “Bukit Mimpi” yang digelar di KiN Space, SCBD, Jakarta, pada 29 September hingga 28 Oktober 2026.
Pameran tersebut menghadirkan 20 karya lukis anak terdampak bencana dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Pariaman. Karya-karya tersebut menjadi medium bagi anak untuk menuangkan pengalaman, harapan, serta cita-cita setelah menghadapi bencana.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan kreativitas dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk kembali berekspresi, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan harapan.
“Kreativitas mungkin tidak dapat menghapus jejak bencana, tetapi kreativitas dapat menjadi ruang untuk memulihkan harapan. Melalui karya, anak-anak dapat kembali berekspresi, membangun rasa percaya diri, dan melihat masa depan dengan optimisme,” ujar Teuku Riefky.
Menurutnya, anak-anak dari Aceh Tamiang dan Pariaman tidak hanya diberikan kesempatan untuk menghasilkan karya, tetapi juga memperoleh ruang agar kreativitas mereka dapat diapresiasi masyarakat secara lebih luas.
“Bukit Mimpi” merupakan bagian dari Program EKRAF Peduli – Pulih Bersama, Bangkit Berdaya serta rangkaian Program Melukis Bersama Anak-Anak.
Program tersebut melibatkan sebanyak 200 anak, terdiri atas 100 peserta dari Aceh Tamiang dan 100 anak dari Kota Pariaman.
Melalui kegiatan melukis, anak-anak didorong menuangkan pengalaman dan cita-cita sekaligus mengembangkan kreativitas serta memperoleh ruang ekspresi yang mendukung proses pemulihan psikososial pascabencana.
Dari 200 peserta, sebanyak 20 karya inspiratif dipilih untuk ditampilkan dalam showcase di Jakarta. Karya tersebut terdiri atas masing-masing 10 lukisan dari anak-anak Aceh Tamiang dan Kota Pariaman.
Konsep “Bukit Mimpi” membawa pesan bahwa pengalaman bencana yang sebelumnya terasa seperti “mimpi buruk” dapat menjadi titik awal bagi anak-anak untuk kembali membangun harapan dan berani bermimpi tentang masa depan.
“Teruslah berkarya dan jangan pernah berhenti bermimpi. Apa yang kalian lukiskan hari ini mungkin berawal dari sebuah pengalaman, tetapi kelak bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kreativitas merupakan kekuatan yang dapat terus tumbuh apabila diasah dan diberikan kesempatan,” kata Menteri Ekraf.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menilai ekonomi kreatif memiliki ruang besar untuk meningkatkan nilai tambah berbagai karya masyarakat, termasuk karya yang dihasilkan anak-anak terdampak bencana.
Menurutnya, seni lukis juga memiliki potensi untuk menjadi bagian dari proses pemulihan pascabencana.
“Ekonomi kreatif itu bisa masuk ke wilayah yang paling substantif meningkatkan nilai tambah dari seluruh karya-karya anak bangsa Indonesia termasuk untuk talenta yang luar biasa bisa menghasilkan karya seni yang bisa terus kita kembangkan,” ujar Muhaimin.
“Saya semakin menyadari melukis juga bisa menjadi terapi pascabencana. Bahkan, ini bisa menjadi usulan kurikulum penanggulangan bencana,” lanjutnya.
Showcase “Bukit Mimpi” menjadi tahap akhir rangkaian Program Melukis Bersama yang sebelumnya melalui sejumlah tahapan, mulai dari persiapan, survei, training of trainers, bootcamp, hingga local showcase di Aceh Tamiang dan Pariaman.
Pembukaan pameran turut ditandai dengan kegiatan collaborative painting serta dilanjutkan dengan sesi lelang terhadap 20 karya anak yang dipamerkan.
Salah satu peserta, Irga Al Fachryansyah dari SMPN 1 Kejuruan Muda, Aceh, mengaku program tersebut membantunya meningkatkan keterampilan sekaligus mengembangkan kreativitas dalam melukis.
“Dari kegiatan ini, saya belajar cara melukis yang lebih baik lagi. Kegiatan ini berguna untuk melatih kreativitas supaya saya bisa menghasilkan lukisan yang lebih bagus. Saya berharap kegiatan melukis seperti ini akan terus ada dan semakin banyak anak-anak yang mau mengikutinya,” kata Irga.
Dalam pameran tersebut, Irga menampilkan karya berjudul “Kembali Membangun, Kembali Bermimpi bersama EKRAF”.
Selain program untuk anak-anak, EKRAF Peduli juga dilaksanakan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui sejumlah intervensi ekonomi kreatif.
Program tersebut antara lain berupa sertifikasi barista, peningkatan kapasitas juru masak, serta pengembangan kemampuan konten kreator di wilayah terdampak bencana.
Melalui rangkaian EKRAF Peduli, pemerintah berupaya menempatkan ekonomi kreatif tidak hanya sebagai penggerak aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai salah satu instrumen pemberdayaan dan pemulihan masyarakat setelah bencana.
Showcase “Bukit Mimpi” sekaligus menunjukkan bagaimana ruang kreatif dapat digunakan untuk membantu anak-anak kembali menemukan kepercayaan diri, mengekspresikan pengalaman, dan membangun harapan setelah melewati situasi sulit.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






