Bukan sekadar berganti kendaraan dinas. Mulai hari ini, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar menggunakan Maung MV3 Garuda Limousine dengan pelat RI 27, ada pesan yang ingin ia bawa, yaitu Indonesia harus semakin percaya diri menggunakan dan mengembangkan produk buatan sendiri.
“Bangga Buatan Indonesia!” ujar Muhaimin saat membagikan momen pertamanya berangkat bertugas menggunakan Maung Garuda buatan PT Pindad (Persero) pada laman Instagram pribadi, Senin (05/10/2026).
Baginya, Maung bukan hanya kendaraan yang mengantarkannya menjalankan tugas sebagai menteri. Kendaraan tersebut menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan industri Indonesia terus berkembang dan mampu menghasilkan produk bernilai tinggi untuk kebutuhan strategis negara.
“Bukti penting kalau Indonesia mampu. Dirancang, dirakit, dan dikerjakan oleh tangan anak bangsa sendiri,” katanya.
Maung menjadi contoh menarik bagaimana sebuah produk dalam negeri berkembang melalui proses panjang. Cikal bakal kendaraan ini berawal dari pengembangan kendaraan taktis 4×4, sebelum kemudian pengembangan dan produksinya ditangani PT Pindad dan melahirkan berbagai varian.
Salah satu pengembangan terbarunya adalah MV3 Garuda Limousine. Varian ini dikembangkan dengan desain yang lebih elegan, kabin berfitur tinggi serta perlindungan khusus untuk kebutuhan kenegaraan. Sebelumnya, Maung Garuda juga telah digunakan Presiden Prabowo Subianto sebagai kendaraan kepresidenan.
Di balik satu unit Maung, terdapat rantai pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada sekadar proses perakitan. Pengembangannya mencakup desain, rekayasa, pengujian, validasi hingga produksi, dengan keterlibatan pemasok dan industri pendukung dari berbagai daerah.
Komponen buatan dalam negeri juga diutamakan dalam pengembangannya. Sementara sejumlah bagian yang belum tersedia di Indonesia, seperti mesin dan transmisi, diperoleh melalui kerja sama dengan mitra global. Pola tersebut menunjukkan bahwa membangun produk nasional juga berarti membangun ekosistem industri secara bertahap.
Karena itu, bagi Menko Muhaimin, ukuran keberhasilan produk dalam negeri bukan hanya soal seberapa besar produknya atau seberapa canggih teknologinya. Yang tidak kalah penting adalah seberapa luas manfaat ekonomi yang tercipta di belakangnya, mulai dari tenaga kerja, pemasok, pelaku usaha hingga masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya.
Cara pandang tersebut juga berlaku pada UMKM. Produk yang dibuat pelaku usaha di desa mungkin berbeda skala dengan Maung, tetapi memiliki persoalan yang sama, yaitu bagaimana membangun kualitas, kepercayaan, pasar, dan keberanian untuk menggunakan karya sendiri.
Dari kendaraan yang digunakan pejabat negara hingga produk yang dijual pelaku UMKM di pasar desa, Menko Muhaimin ingin melihat tumbuhnya kepercayaan bahwa karya Indonesia memiliki tempat di negeri sendiri. Pemerintah, menurutnya, dapat menjadi salah satu bagian dari proses tersebut dengan memberi ruang, menggunakan, dan memperluas pasar produk dalam negeri.
Penggunaan Maung oleh sejumlah pejabat negara menjadi salah satu contoh bagaimana produk industri nasional mulai hadir di ruang-ruang strategis pemerintahan. Saat ini, sejumlah unit kendaraan buatan PT Pindad telah dialokasikan kepada pejabat negara, khususnya jajaran menteri koordinator.
Baginya, semangatnya tetap sama, yaitu pakai karya sendiri, besarkan bangsa sendiri. Maung mungkin menjadi salah satu wajah dari kemampuan industri nasional, tetapi di baliknya ada jutaan karya lain yang juga menunggu untuk dipercaya, digunakan, dan dibesarkan di negeri sendiri.
Semangat itulah yang menurutnya perlu diperluas. Kebanggaan terhadap produk Indonesia tidak seharusnya berhenti pada produk industri besar, tetapi juga menjangkau produk-produk masyarakat yang tumbuh dari desa, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Kita ingin masyarakat bangga pada produk dalam negeri. Dari kendaraan dinas, sampai UMKM di pasar desa, semangatnya sama, pakai karya sendiri, besarkan bangsa sendiri,” ujar Menko Muhaimin.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






