Tingkat inklusi keuangan nasional yang mencapai 93,57 persen pada 2026 menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal. Namun, kesenjangan dengan tingkat literasi keuangan masih menjadi tantangan agar masyarakat tidak hanya menggunakan produk keuangan, tetapi juga memahami manfaat dan risikonya.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Financial Expo dan Puncak Bulan Inklusi Keuangan Tahun 2026 yang dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, di Pekanbaru Xchange Mall, Minggu (25/10/2026). Pemerintah Provinsi Riau bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri jasa keuangan terus mendorong peningkatan literasi agar perluasan akses keuangan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kepala OJK Provinsi Riau, Moh Fredly Nasution, menjelaskan bahwa hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan pada 2026 menunjukkan tingkat inklusi keuangan mencapai 93,57 persen, sedangkan tingkat literasi berada di kisaran 69,6 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan perlunya penguatan edukasi agar masyarakat lebih memahami produk dan layanan keuangan yang digunakan.
“Capaian inklusi keuangan nasional sudah mencapai 93,57 persen, bahkan melampaui target yang sebelumnya diproyeksikan tercapai pada 2029. Namun, tingkat literasi masih perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak hanya menggunakan produk keuangan, tetapi juga memahami karakteristik dan risikonya,” tuturnya.
Menurut Fredly, edukasi keuangan perlu diperluas melalui berbagai kegiatan yang mudah dijangkau masyarakat. Financial Expo diharapkan menjadi sarana bagi pengunjung untuk memperoleh informasi secara langsung, membandingkan layanan, serta mengenali produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai layanan keuangan formal. Semakin baik literasi masyarakat, semakin besar peluang mereka memanfaatkan layanan keuangan secara bijak dan terhindar dari keputusan yang merugikan,” ungkapnya.
Sementara itu, SF Hariyanto menegaskan bahwa perluasan akses keuangan harus diiringi dengan pembiasaan menabung dan pengenalan pengelolaan keuangan sejak dini. Pemprov Riau, katanya, telah mendorong pelajar memiliki rekening sebagai langkah awal mengenalkan layanan keuangan formal sejak usia sekolah.
“Kita ingin anak-anak sejak sekolah sudah mengenal kebiasaan menabung dan menggunakan layanan keuangan secara bertanggung jawab. Upaya memperluas akses ini harus terus berjalan bersama edukasi agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan dengan lebih baik,” kata SF.
Ia berharap Financial Expo tidak sekadar menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, OJK, perbankan, dan industri jasa keuangan. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat layanan keuangan, mendukung pengembangan usaha, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Yang ingin kita capai bukan hanya semakin banyak masyarakat memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga semakin banyak usaha yang berkembang dan penghasilan keluarga meningkat. Kita berharap akses keuangan benar-benar menjadi salah satu penggerak kesejahteraan masyarakat Riau,” tutupnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






