Titik Tiba yang menjadi Destinasi dan Tujuan
Berkembangnya minat riset, banyaknya temuan-temuan baru, tumbuhnya mindset inovatif dan munculnya pelbagai hal baru yang bermanfaat pada beberapa waktu yang akan datang atau lima tahun ke depan bersamaan terllaksananya renstra Pendidikan Islam, ini adalah Titik Tiba yang kita harapkan. Walaupun belum sepenuhnya seperti yang kita harapkan, tetapi paling tidak ini sudah menjadi tanda-tanda yang menyenangkan. Tahap berikutnya harus lebih dimatangkan agar kita tidak terpana hanya melihat bukti-bukti fisik pendidikan yang hanya dalam wujud bangunan. Bangunan-bangunan mejadi ruang yang lengang karena ditinggalkan komunitas yang telah berubah dalam pelbagai aspek pembelajaran. Mereka bisa belajar dimana saja dan kapan saja karena telah memnfaatkan dunia digital yang terasa lebih tepat, efekktif dan fleksibel.
Mungkin pada awalnya kita kaget dan terhentak mendadak mendapatkan musibah pandemi covid-19. Tetapi karena disikapi dengan cepat dan tepat, kini pesantren, madrasah dan perguruan tinggi keagamaan Islam sudah bisa memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. Berbekal dari pengalaman ini, lima tahun ke depan kita akan menyaksikan ketrampilan anak-anak didik dalam pemanfaatan dunia dgital. Tidak hanya itu saja, pemahaman-pemahaman moderasi beragama yang kita tanamkan sejak dini di seluruh jenjang pendidikan Islam baik untuk pendidik maupun peserta didik diharapkan tidak hanya otak dan keterampilannya yang sesuai dengan harapan zaman tetapi juga prilaku keseharian yang penuh toleran dan moderat dalam menyikapi pelbagai pemahaman. Ini semua adalah Titik Tiba yang ingin dijadikan destinasi dan tujuan.
Dengan terus mengajak masyarakat dan pemerintah daerah di mana lembaga pendidikan Islam berada, maka target sasaran lima tahun renstra yang menginginkan meningkatnya sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing yang mencakup program peningkatan pemerataan layanan pendidikan berkualitas dan peningkatan produktivitas dan daya saing serta pembinaan Ideologi Pancasila, revolusi mental dan penguatan Moderasi Beragama bisa diwujudkan. Tentu saja ini harus didukung dan ditopang oleh transformasi layanan publik yang memadahi dengan memprioritaskan Reformasi Kelembagaan Birokrasi untuk memberi pelayanan publik yang berkualitas.
Pekerjaan besar biasanya yang takut adalah memulai. Dan hari ini, di tahun 2020 saat ini kita telah berani memulai sebuah pekejaan besar untuk lima tahun yang akan datang yaitu mempersiapkan penyelenggaraan pendidikan Islam yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan zaman. Kita optimis, dengan dinahkodai para pimpinan yang sangat pengalaman, kerja keras dan berani menghadapi tantangan, Kementerian Agama dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam akan mampu mengantarkan seluruh gagasan, cita-cita dan harapan sesuai dengan renstra yang telah ditetapkan. Masa depan adalah milik mereka yang yakin terhadap mimpi-mimpi indahnya.


.webp)


















