BerandaPemerintahKabinetWatak Sejati Manusia

Watak Sejati Manusia

Suarapemerintah.id – “Selama manusia hidup di dunia, hiduplah dengan beribadah kepada-Nya”

Setiap manusia dilahirkan dengan membawa sifat Tuhan dalam dirinya. Sifat itu disebut Watak Sejati. Sifat dalam Watak Sejati ada empat, yaitu: cinta kasih, kebenaran, susila, dan bijaksana.

- Advertisement -

Selama hidup di dunia, manusia berkewajiban mengenali, menjaga, menjalankan, dan mengembangkan watak sejatinya. Hal itu bukan hanya untuk dirinya, bahkan sampai ke seluruh manusia se-dunia.

Selain itu, manusia juga diajarkan untuk mengendalikan dorongan nafsu dalam dirinya. Itulah tujuan belajar agama menurut ajaran agama Khonghucu.

Dalam badan manusia terdapat empat dimensi tubuh, yaitu: dimensi rohani (spiritual), dimensi jasmani (psikomotorik), dimensi intelektual (pikiran), dan dimensi emosional (hati/perasaan). Keempat dimensi ini mencerminkan empat kebutuhan dasar hidup manusia, yaitu:

1. Kebutuhan untuk meninggalkan nama baik

2. Kebutuhan untuk mempertahankan hidup

3. Kebutuhan untuk belajar

4. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai

Selama manusia hidup, ia harus berusaha melakukan segala sesuatu dengan keempat dimensi badannya.  Jadi, misalnya kita sedang duduk, maka harus duduk juga rohani, pikiran dan hati kita. Atau saat sedang makan atau berjalan, kita harus menyatukan seluruh dimensi tubuh kita.

Bila kita sering tidak bersatu dimensi tubuhnya, maka lama kelamaan kita akan sakit. Sering kita rasakan hati dan pikiran tidak menyatu dengan tubuh, istilahnya sedang galau. Itu harus diperhatikan lalu kita kembalikan ke dalam tubuh kita.

Setiap manusia juga perlu memperhatikan kebutuhan dirinya. Kebutuhan masing-masing dimensi tubuh yang berbeda, harus dipenuhi dengan cukup. Jangan kekurangan maupun kelebihan. Cukup adalah yang terbaik, harmonis, selaras dengan sekitarnya.

Penting juga disadari bahwa kewajiban kita adalah berbuat kebajikan semampu kita, semaksimal mungkin, selama hidup. Karena selama hidup, sesungguhnya kita sedang beribadah kepada Tuhan Sang Pencipta. Tiada tempat dan kesempatan bagi kejahatan, perusak yang menguasai tubuh kita.

Pembinaan diri ini seharusnya dilakukan sejak kita kecil, sejak usia dini, agar menjadi kebiasaan hidup penuh kebajikan. Kita hidup dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan memberi manfaat bagi dirinya, maupun kepada sekitarnya. Anak kita dikenalkan ajaran-ajaran perilaku luhur budi, dari tidak paham, berjalan sesuai bertambahnya usia dan pengalaman hidupnya.

Peran orangtua, guru, rohaniwan, tokoh masyarakat, para pejabat, bahkan seluruh orang dewasa seyogyanya turut memberi teladan, contoh pemikiran, contoh perasaan dan contoh perilaku baik dan terpuji. Bila hal ini dilakukan oleh masing-masing kita, niscaya kedamaian tercipta dalam diri setiap manusia, dalam keluarganya, dalam kotanya, dalam negaranya, bahkan sampai sedunia akan mencapai kebersamaan agung.

Perlu pula kita sadari, dan ingatkan selalu bahwa bila ada kerusakan di satu bagian tubuh atau bagian negara, sebenarnya akan berpengaruh negatif juga pada bagian lainnya. Para dewasa harus menceritakan kondisi ini, kepada yang belum menyadari, terutama pada kawula muda.

Alam semesta beserta isinya sebagai sarana hidup kita perlu dijaga, dirawat, juga dilestarikan agar kita terhindar dari bencana dan kerusakan alam lain. Bila alam semesta rusak, maka hidup manusia juga terancam. Misal ketersediaan air bersih, udara bersih yang saat ini dengan mudah kita dapatkan, harus kita hemat dan gunakan seperlunya.

Marilah para orangtua, para guru, para tokoh masyarakat, para artis, para  pejabat negara, sebagai panutan, binalah diri kita masing-masing agar semua sehat, panjang umur, hidup damai dan bahagia bersama-sama.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM