Wednesday, March 3, 2021

Dukung Nasabah di Masa Pandemi, Maybank Indonesia Tempuh langkah Proaktif

SuaraPemerintah.idPT Bank Maybank Indonesia, Tbk. hari ini mengumumkan Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020, dimana laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) tercatat sebesar Rp1,3 triliun dibandingkan Rp1,8 triliun pada tahun sebelumnya.

Bank mencatat peningkatan yang signifikan pada transaksi digital banking baik di segmen ritel maupun korporasi seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan digital di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Total volume transaksi yang dilakukan melalui M2U (platform digital banking untuk nasabah ritel) di tahun 2020 melonjak 110% menjadi 10 juta transaksi.

Total dana pihak ketiga yang dihimpun melalui platform M2U melonjak 190,2% menjadi Rp3,4 triliun.

Sementara, total volume transaksi melalui M2E (platform digital banking untuk nasabah korporasi) naik sebesar 36,2% menjadi 970.000 transaksi dan penghimpunan dana melalui platform ini melonjak 78,8% menjadi Rp14 triliun.

Kinerja Bank juga didukung oleh penurunan cost of fund yang berkesinambungan dan pengelolaan overhead cost yang efektif.

Overhead cost turun 10,7% menjadi Rp5,7 triliun sebagai dampak dari pengelolaan anggaran biaya yang dilakukan secara berkelanjutan di seluruh organisasi seiring dengan pengurangan biaya umum dan administrasi sehubungan pelaksanaan work from home selama pandemi.

Namun, Bank mencatat penurunan pendapatan sebesar 10% sebagai akibat dari menurunnya fee income dan net interest income yang terdampak oleh penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan melambatnya aktivitas usaha di masa pandemi Covid-19.

Fee based income Bank turun 8,0% menjadi Rp2,4 triliun di Desember 2020 dari Rp2,6 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, Laporan Keuangan Maybank Indonesia di tahun 2019 mencatat pendapatan one-off dari penyelesaian arbitrase domestik dan pendapatan terkait perpajakan sebesar Rp219 miliar.

Apabila dihitung tanpa memasukkan pendapatan one-off tersebut, maka recurring fee income Bank masih bertumbuh tipis sebesar 0,5%.

Hal ini dikarenakan pendapatan dari transaksi terkait Wealth Management dan Global Market, yang tumbuh lebih dari dua kali lipat di tahun 2020. Kenaikan ini membantu mengimbangi penurunan biaya kredit dan penurunan aktivitas bisnis yang terdampak oleh pandemi.

Pendapatan bunga bersih (net interest income) turun 11,1% menjadi Rp7,3 triliun karena penurunan saldo kredit. Bank mengambil langkah untuk menjaga pertumbuhan kredit secara selektif akibat pandemi.

Margin Bunga Bersih (net interest margin) turun 51 basis poin menjadi 4,6% pada akhir Desember 2020 akibat penurunan imbal hasil dari pemberian kredit (loan yields).

Penurunan loan yields terjadi seiring dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia dan akibat dari restrukturisasi kredit kepada nasabah yang terdampak pandemi Covid-19. 

Bank akan terus disiplin dalam menentukan suku bunga pinjaman dan senantiasa aktif dalam pengelolaan likuiditas untuk memitigasi tekanan pada margin.

Simpanan nasabah, termasuk dana yang terkumpul melalui platform digital banking, tumbuh sebesar 4,0% menjadi Rp115,0 triliun dari Rp110,6 triliun.

Total dana CASA terdongkrak 13,0% menjadi Rp45,8 triliun per Desember 2020 dibandingkan dengan Rp40,5 triliun pada Desember 2019.

Hal ini didukung oleh strategi Maybank Indonesia untuk mengurangi dana berbiaya tinggi dengan meningkatkan penggunaan digital banking dan upaya menambah jumlah nasabah korporasi.

Beban provisi kredit meningkat sebesar 16,5% menjadi Rp2,1 triliun pada Desember 2020 disebabkan oleh penerapan standar akuntansi baru PSAK 71.

Selain itu, Bank juga mengambil langkah konservatif untuk mengalokasikan provisi di hampir seluruh portofolio bisnis sebagai respons terhadap pandemi Covid-19.

Bank senantiasa aktif menjaga kualitas aset dan liabilitas untuk memastikan agar Bank dapat menjalankan operasional yang didukung oleh ketersediaan funding dan cost yang optimal di setiap saat.

Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan-to-Deposit (LDR-Bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 79,2% sementara Rasio Cakupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR-Bank saja) berada di level 214,1% per Desember 2020, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.

Pandemi telah berdampak pada menurunnya permintaan kredit.  Selaras dengan langkah Bank dalam mengelola risiko di tengah pandemi, Bank secara responsif mengambil langkah untuk memantau aset di seluruh segmen bisnis dan bersama-sama dengan para nasabah mengevaluasi dampak pandemic terhadap bisnis mereka.

Bank memanfaatkan program relaksasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara selektif dan memfasilitasi program restrukturisasi dan menjadwal ulang pembayaran kredit untuk membantu nasabah mempertahankan kelangsungan bisnis.

Total kredit yang disalurkan di tahun 2020 turun 14,1% menjadi Rp105,3 triliun. Segmen kredit Community Financial Services (CFS) Non-Ritel turun 23,8% menjadi Rp36,8 triliun dan kredit CFS Ritel turun 19,3% menjadi Rp34,0 triliun.

Sementara segmen Global Banking membukukan pertumbuhan kredit sebesar 7,4% di Desember 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp34,5 triliun.

Tingkat Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 4,0% (gross) dan 2,5% (net) pada Desember 2020 dibandingkan dengan 3,3% (gross) dan 1,9% (net) pada Desember 2019.  NPL Bank berangsur membaik di setiap kuartal sejak semester I 2020, yaitu berada pada 5,0% (gross) di Juni 2020 dan 4,3% (gross) di September 2020.

Bank senantiasa menempuh langkah proaktif untuk mengantisipasi dampak (dari pandemi) terhadap seluruh portofolio-nya. Selain itu Bank juga tetap waspada dalam menjaga kualitas aset dengan melakukan pendekatan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.

Posisi permodalan Maybank Indonesia kokoh dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 24,3% pada Desember 2020 dibandingkan dengan 21,4% pada periode yang sama tahun lalu, dan total permodalan naik menjadi Rp27,1triliun pada Desember 2020, naik dari Rp26,8 triliun pada Desember 2019.

Perbankan Syariah

Perbankan Syariah berkontribusi sebesar 16,2% terhadap laba Bank dan menyumbang 20,4% dari total aset konsolidasi Bank.

Meskipun di tengah kondisi yang penuh tantangan, Perbankan Syariah tetap mencatat pertumbuhan total aset yang sehat, yakni mencapai Rp35,3 triliun pada Desember 2020 atau naik 8,1% dari Rp32,6 triliun pada Desember 2019.

Total simpanan nasabah naik 7,8% menjadi Rp27,4 triliun dari Rp25,5 triliun, didukung oleh pertumbuhan tabungan Syariah sebesar 28,6%.

Kualitas aset Perbankan Syariah sedikit mengalami tekanan akibat pandemi, seperti yang diperlihatkan dari tingkat Non-Performing Financing (NPF) menjadi 3,2% (gross) dan 2,1% (net) pada Desember 2020, naik dari 2,0% (gross) dan 1,6% (net) pada Desember 2019.

Strategi “Sharia First” dan implementasi Leverage Model pada Unit Usaha Syariah memainkan peran strategis bagi peningkatan kinerja Perbankan Syariah Maybank Indonesia secara signifikan.

Dengan dukungan OJK, Leverage Model pada Unit Usaha Syariah diperbolehkan untuk mengakses seluruh sumber daya Bank untuk mengembangkan dan memasarkan produk berbasis Syariah.

Hal ini yang mendongkrak pertumbuhan aset Perbankan Syariah yang impresif dalam lima tahun terakhir, yakni sebesar 17,1%.

Inisiatif Maybank Indonesia untuk membantu pemerintah melawan penularan Covid-19

Sejak dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan pada kuartal kedua tahun 2020, Bank selalu memantau asetnya di seluruh segmen bisnis dan juga proaktif membantu debitur dalam menganalisa dampak pandemi terhadap bisnis mereka.

Bank juga menawarkan asistensi dalam menilai apakah diperlukan restrukturisasi dan penjadwalan ulang (R&R) untuk menjaga kelangsungan bisnis debitur.

Untuk membantu upaya Pemerintah dalam pengadaan vaksin, Maybank Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan fasilitas pembiayaan sebesar USD185 juta. Hal ini merupakan komitmen Maybank Indonesia dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Selain berfokus dalam upaya mempertahankan kinerja, sepanjang tahun 2020 Maybank Indonesia berperan aktif menjalankan kegiatan sosial kemasyarakatan untuk membantu komunitas terdampak pandemi.

Salah satunya, melalui penyediaan alat pelindung diri (APD) yang disalurkan ke beberapa rumah sakit serta penyediaan paket makanan kepada berbagai komunitas marjinal di Jakarta dan sekitarnya.

Bank juga aktif melaksanakan program pelatihan pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dan komunitas marjinal melalui program RISE (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship) 2.0 guna membantu mereka yang terdampak pandemi agar tetap dapat menjalankan usaha.

Tahun lalu, sebanyak 35 program pelatihan dilaksanakan di 16 kota, dengan jumlah peserta mencapai 1.647 orang.

Anak Usaha

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)

Ditengah masa yang penuh tantangan, PT Maybank Indonesia Finance, perusahaan pembiayaan kendaraan roda empat, tetap membukukan kinerja yang solid.

Laba sebelum pajak  turun tipis sebesar 1,3% menjadi Rp470 miliar untuk tahun fiskal 2020 meskipun permintaan pembiayaan kendaraan roda empat turun sebesar 8,7%.

NPL terjaga relatif stabil sebesar 0,3% (gross) dan 0,2% (net) per Desember 2020 dibandingkan dengan 0,3% (gross) dan 0,1% (net) pada periode yang sama tahun lalu.

PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk. (WOM)

PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk. (WOM), perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor roda dua, sangat terdampak oleh melemahnya daya beli konsumen di masa pandemi.

Pembiayaan otomotif turun 38,8% yang menyebabkan laba sebelum pajak turun sebesar 76,0% menjadi Rp87 milyar tahun lalu. NPL WOM naik menjadi 2,8% (gross) dan 1,2% (net) dari 2,0% (gross) dan 0,6% (net).

Ke depan, WOM akan terus fokus untuk menumbuhkan bisnis dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, Kinerja kami terpengaruh oleh tantangan yang tak diduga akibat pandemi Covid-19.

Meski demikian, kami mampu mengatasi penurunan pertumbuhan pendapatan dari kredit dengan menjaga fee income yang dikontribusikan oleh pendapatan dari Global MarketWealth Management dan Bancassurance.

Di saat yang sama, pembatasan kegiatan masyarakat dan kebijakan social distancing telah mengubah perilaku konsumen untuk lebih mengandalkan transaksi secara online. Hal ini mempercepat pertumbuhan digital banking kami.

Ke depan, kami akan terus menyempurnakan layanan perbankan digital.  Kami juga akan mulai menerapkan digitalisasi dan Robotic Process Automation (RPA) di kantor cabang untuk mencapai efisiensi yang lebih besar dan meningkatkan produktivitas kerja.

Kami senantiasa menjaga pertumbuhan aset dan pertumbuhan kredit dengan pendekatan yang selektif di segmen Global Banking dan melakukan penyelerasan model bisnis di segmen CFS Retail yang diharapkan dapat berkontribusi secara positif pada profitabilitas Bank.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, “Meskipun tahun lalu merupakan tahun yang sangat menantang, Maybank tetap tangguh. Kami telah berhasil untuk menerapkan mekanisme, sistem dan proses yang diperlukan untuk memastikan kelancaran karyawan bekerja dari rumah.

“Ke depan, fokus kami untuk tetap berkomitmen mendukung seluruh pemangku kepentingan dalam mengatasi ketidakpastian, dan memastikan bahwa bisnis Bank tetap berlanjut dalam jangka panjang.”

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email suarapemerintah.id@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

HOT NEWS

10,540FansLike
419FollowersFollow
22FollowersFollow
220SubscribersSubscribe

Terpopuler

Suara Rilis

Suara Tokoh