SuaraPemerintah.id – Novel Eat, Pray, Love menjadi salah satu novel terlaris sepanjang sejarah. Penulisnya adalah Elizabeth Gilbert asal Amerika Serikat.
Perempuan ini mencoba menggambarkan cerita hidupnya dalam novel tersebut. Perceraian yang membuatnya kalut membuatnya harus pergi ke sesuatu tempat.
Dalam wawancara bersama Oprah Winfrey, Elizabeth yang biasa disapa Liz ini menceritakan sebuah pengalaman haru ketika ia datang ke Lombok, Indonesia.
“Kala itu saya ada di Indonesia. Saya sedang mengalami perceraian yang begitu mengerikan di usia 31 tahun. Saya sangat tertekan. Saya putuskan pergi ke pulau kecil ini dan menjalani 10 hari untuk menyendiri dan berdamai dengan diri saya,” kata Elizabeth.
Untuk memulihkan pikirannya, Liz beraktivitas mengelilingi pulau sembari menikmati suasana di sana.
Di sebuah pulau di Lombok itu, Liz melihat aktivitas masyarakat saat bekerja, terutama nelayan yang mencari ikan di laut.
Ia juga sempat disapa oleh perempuan muslim saat berjalan mengitari pulau. Padahal, menurutnya mereka tidak pernah berkenalan.
“Dengan meletakkan tangan di dada, wanita itu menyapa saya dengan senyuman, saya pun membalasnya,” tutur Liz.
Ditolong oleh perempuan muslim
Pada suatu malam, Liz merasa kurang enak badan. Ia pun menyelimuti dirinya di dalam kabin sendirian. Pada Oprah, ia menjelaskan ketakutan saat sendirian itu.
Namun, tak disangka perempuan muslim yang setiap hari menyapanya datang ke penginapan.
“Saya dehidrasi dan ketakutan. Lalu perempuan itu datang dan memberikan pertolongan untuk saya. Padahal saya tidak kenal dengan dia,” kata Liz.
Wanita muslim itu memberi perhatian yang luar biasa pada Elizabeth. Meski tak mengenal satu sama lain, namun ketulusan wanita itu begitu terpancar.
“Tapi ketika dia tidak melihat saya berkeliling seperti biasa, dia datang dan mengetuk pintu. Melihat keadaan saya demikian, dia memberi isyarat seperti ini,” tutur Elizabeth sembari menunjukkan jari telunjuknya.
Hingga akhirnya Elizabeth menangis seketika dalam pelukan wanita muslim tersebut. Selama sakit, wanita yang tak diketahui identitasnya itu merawat Liz bagaikan anaknya sendiri.
“Lalu ia kembali satu jam kemudian dengan membawa makanan segar dan air putih untuk saya. Saya mulai menangis di pelukannya. Dia merangkul saya seperti saya anaknya sendiri. Menenangkan dan merawat saya,” tutur Liz terharu.
Cerita haru Liz ditanggapi langsung oleh Oprah. Betapa terkejutnya Oprah mendengar cerita yang sangat menyentuh itu.
Kebaikan perempuan muslim Indonesia diajungi jempol oleh Oprah. Kemurahan hati perempuan yang menolong Liz menjadi simbol betapa ramahnya perempuan Indonesia. Mereka tak sungkan membantu seseorang walaupun tidak mengenal sekalipun.
Simbol Kartini
Seorang politisi Indonesia menganggap bahwa semua perempuan Indonesia memiliki naluri saling tolong menolong walaupun mereka tidak mengenalnya.
“Separuh dari rakyat Indonesia adalah perempuan. Ini berarti separuh dari energi bangsa Indonesia adalah kaum perempuan,”
Lebih luas, Bung Karno pernah menyampaikan bahwa perempuan adalah salah satu dari dua sayapnya seekor burung. maka jelas diperlukan peran aktif perempuan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Sosok yang menolong Liz adalah perempuan yang memperlihatkan keindahan dalam tolong menolong.
Bukan tak mungkin, wanita Lombok itu mendapatkan inspirasi dari kisah Kartini dan para pahlawan masa lalu.
Melalui Kartini, rakyat Indonesia masa kini bisa merasakan cerita kegigihan banyak perempuan Indonesia yang berjuang untuk Indonesia. Bahwa banyak perempuan Indonesia yang menjadi teladan pendidikan dan perjuangan hak-hak perempuan.
Semangat yang sama bisa dirasakan lewat para atlet perempuan Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih di pentas olahraga internasional.






