Jumat, September 17, 2021
spot_img

Restrukturisasi dan Gebrakan Dirut Baru Selamatkan Jiwasraya

SuaraPemerintah.ID – Pada Mei 2021, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjuk Angger P. Yuwono sebagai Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Ia menggantikan Hexana Tri Sasongko yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG). Sejumlah PR (Pekerjaan Rumah) harus Angger selesaikan untuk menyelamatkan Jiwasraya.

“Penunjukan saya sebagai Dirut Jiwasraya bukan hal yang perlu dibesarkan. Ini hanya semacam melanjutkan program dalam rangka upaya menyelamatkan Jiwasraya,” kata Angger saat wawancara di program Special Interview yang ditayangan di Youtube Suara Pemerintah TV.

Dipilihnya Angger sebagai nahkoda Jiwasraya memang menjadi keputusan yang tepat. Angger sendiri bukan orang baru di dunia asuransi. Ia sudah puluhan tahun malang melintang menggeluti lika liku industri asuransi. Keberadaaan dan perkembangan Jiwasraya sebagai perusahaan asuransi milik negara juga tak luput menjadi perhatiannya baik dari pengamatan eksternal maupun internal.

Sebelumnya Angger dipercaya Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Direktur Teknik di Jiwasraya. Angger juga sudah tergabung dalam tim penyelamatan Jiwasraya dan penyusunan roadmap Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) Jiwasraya. Setelah, Hexana menjabat sebagai Wakil Dirut IFG, maka Angger pun menggantikan posisinya sebagai Dirut di Jiwasraya.

“Jadi memang bukan hal yang baru, Jiwasraya sudah sangat familiar. Saya hanya melanjutkan recana yang sudah dibuat tim dan keputusan untuk melakukan penyelamatan terhadap jiwasraya. Tapi memang bukan hal yang mudah. Permasalahan Jiwasraya sangat rumit dilhat dari berbagai sisi,” ungkap Angger.

Dalam kesempatan wawancara tersebut Angger juga mengungkapkan betapa dahulu asurani Jiwasraya menjadi salah satu asuransi lokal dengan market share paling tinggi, bahkan mengalahkan asuransi asing. Kini kondisi sudah berbalik, asuransi asing lebih mendominasi market share Indonesia.

“Asuransi merupakan usaha jangka panjang, ratusan tahun. Reputasi dan kepercayaan adalah hal terpenting yang harus dibangun dan itu butuh waktu yang panjang. Asuransi asing sudah berpengalaman, mereka telah membangun kepercayaan yang kuat, memiliki standar operasional yang matang, dan banyak inovasi yang dilakukan,” jelas Angger.

Sementara asuran lokal, menurut Angger, masih lemah dari segala sisi. Termasuk juga Jiwasraya yang harusnya lebih mudah membangun kepercayaan karena milik pemerintah. Terkait Jiwasraya, Angger juga mengatakan bahwa sudah sejak lama terjadi miss di dalam manajemen. Ada sebuah kesalahan yang tidak terlihat dari luar.

“Saya ibaratkan seperti meledaknya api dalam sekam. Kalau soal reputasi, Jiwasraya masih cukup dipercaya sebagai asuransi milik negara. Namun secara internal manajemen, sekarang baru terlihat setelah masalahnya meledak,” kata Angger.

Restrukturisasi Upaya Penyelamatan Jiwasraya

Angger mengungkapkan setidaknya ada beberapa hal yang menjadi permasalahan hingga kasus Jiwasraya meledak. Pertama adalah kesalahan pada bisnis model Jiwasraya, misalnya menjanjikan polis dengan manfaat yang berlebihan di atas kemampuan.

Kedua, adanya kasus pengelolaan investasi yang tidak mengindahkan manajemen resiko yang dilakukan oknum.

“Akhir tahun 2018, ekuitas Jiwasraya minus Rp 30,4 triliun. Akhir tahun 2019 makin besar hingga minus Rp 34,6 triliun. Di akhir 2020 makin membesar hingga negatif Rp 38,4 triliun. Akibatnya kerugian semakin besar, ekuitas makin curam dan negatif. Kalau sudah seperti itu masalahnya menjadi sangat rumit,” ungkat Angger.

Ketiga, Keterpurukan Jiwasraya yang dalam dengan ekuitas negatif hingga Rp 38,4 triliun merupakan kerugian yang besar. Keempat, permasalahan Jiwasraya menjadi semakin rumit karena ini merupakan perusahaan milik negara.

Pemerintah sebagai pemegang saham dihadapkan pada dua pilihan, yaitu likuidasi atau menyelamatkan Jiwasraya. Hingga keputusan pun ditetapkan untuk menyelamatkan Jiwasraya. Untuk itu maka dibentuklah tim gabungan sebagai upaya untuk menyelamatkan Jiwasraya. Perusahaan bekerja sama dengan tim gabungan mulai dari Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, IFG, dan lembaga terkait.

“Dari tim ini kemudian disusunlah sebuah skema penyusunan buku Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) Jiwasraya. Di dalam skema juga tercantum roadmap penyelamatan polis dengan melakukan restrukturisasi polis Jiwasraya ke IFG Life,” ungkap Angger.

IFG Life adalah perusahaan bentukan IFG (Indonesia Financial Group), holding BUMN perasuransian dan penjaminan, brand baru dari PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) alias Bahana.

Angger menambahkan bahwa proses restrukturisasi polis dari Jiwasaraya ke IFG Life akan dirampungkan tahun ini.

“Pemerintah sebagai pemegang saham menginginkan sebanyak-banyaknya pemegang polis diselamatkan bahkan kalau bisa semua pemegang polis ikut program resrikturizasi untuk diselamatkan. Kami harus menyelesaikan rangkaian penyelamatan polis Jiwasraya di akhir tahun. Dari nasabah yang selama ini dapat dihubungi dan menerima penawaran reatrukturisasi yang sudah menyetujui program restrukturisasi sebanyak 98%. Sampai dengan akhir tahun nanti jiwasraya akan melanjutkan untuk menuntaskan restrukturisasi kepada sejumlah besar polis-polis kecil yang selama ini belum dapat dihubungi. Tentunya, tugas selanjutnya adalah merapikan polis-polis hasil restrukturisasi untuk dialihkan ke IFG Life,” ungkap Angger.

 

 

 

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email suarapemerintah.id@gmail.com

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
1,350PelangganBerlangganan

Terpopuler

Suara Rilis

Suara Tokoh

close