SuaraPemerintah.ID– Nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini masih melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS), meski demikian kinerjanya masih lebih baik ketimbang negara-negara ASEAN lainnya. Khusus di ASEAN 5, rupiah menjadi terbaik kedua setelah dolar Singapura.
Melansir data Refinitiv, sepanjang tahun ini rupiah membukukan pelemahan 2,67 persen melawan dolar AS sepanjang tahun ini, sementara dolar Singapura sebesar 2,42 persen, unggul tipis. 3 mata uang lainnya, yakni peso Filipina merosot 4,27 persen, ringgit Malaysia minus 4,3 persen, dan bath Thailand ambrol 8,9 persen.
Semua negara ASEAN 5 belakangan ini mengalami lonjakan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19). Tetapi Indonesia bisa dikatakan lebih sukses melandaikan kurva infeksi ketimbang Filipina, Malaysia, dan Thailand. Singapura, tentu lebih baik dari Indonesia.
Tetapi, bukan itu faktor utama yang membuat rupiah perkasa di tahun ini, melainkan imbal hasil (yield) obligasi yang paling tinggi ketimbang negara-negara lainnya.
Yield obligasi Indonesia (SBN) tenor 10 tahun saat ini berada di 6,172 persen, jauh lebih tinggi ketimbang Filipina sebesar 4,245 persen. Yield obligasi Filipina menjadi yang terdekat dengan Indonesia, sementara negara lainnya jauh di bawah.
Yield obligasi Malaysia sama berada di 3,256 persen, kemudian Thailand 1,635 persen, dan Singapura yang terendah 1,434 persen. Tingginya yield obligasi tersebut tentunya menarik minat investor untuk mengalirkan modalnya ke dalam negeri.
Menariknya yield obligasi Indonesia terlihat dari besarnya minat investor asing. Di pasar primer, penawaran masuk (incoming bids) dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) dilakukan pemerintah pada 3 Agustus lalu sebesar Rp 107,8 triliun, lebih tinggi dari lelang sebelumnya Rp 95,6 triliun, sekaligus menjadi rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah penerbitan SUN.
Dari incoming bids tersebut, yang dimenangkan oleh pemerintah sebesar Rp 34 triliun, lebih tinggi dari target indikatif Rp 33 triliun. Selain itu, tingkat partisipasi investor asing juga meningkat di lelang kemarin, yakni sebesar 11,6 persen dari sebelumnya 7,6 persen. Sentimen pelaku pasar terhadap rupiah juga cukup bagus dibandingkan mata uang lainnya.
Hal tersebut tercermin dari survei 2 mingguan Reuters, dimana posisi jual (short) semakin rendah. Dari 9 mata uang disurvei, rupiah menjadi yang terbaik kedua. Survei tersebut menggunakan skala -3 sampai 3, angka negatif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) mata uang Asia dan jual (short) dolar AS. Semakin mendekati -3 artinya posisi long diambil semakin besar.
Sementara angka positif berarti short mata uang Asia dan long dolar AS, dan semakin mendekati angka 3, semakin besar posisi short mata uang Asia.
Survei terbaru yang dirilis hari ini, Kamis (26/8/21) menunjukkan sentimen mata uang ASEAN 5 membaik, tetapi rupiah menjadi yang terbaik. Angka untuk rupiah di 0,18, membaik dibandingkan 2 pekan lalu 0,20.
Dari 9 mata uang, hanya rupee India yang posisinya sudah berbalik, dari short menjadi long. Data terbaru menunjukkan angka -0,08, jauh lebih baik dari sebelumnya 0,37. Rupiah berada di urutan kedua terbaik, sementara mata uang lainnya posisi short-nya masih cukup besar, bahkan ada mengalami peningkatan.


.webp)












