spot_img

BERITA UNGGULAN

Bos BUMN Angkat Bicara Soal IPO Anak Usaha Krakatau Steel

SuaraPemerintah.ID – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beri target anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), terutama yang bergerak di bisnis kawasan industri, dapat melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Rencananya IPO ini dapat dilakukan setelah restrukturisasi dan penyehatan perusahaan dilakukan.

Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan proses restrukturisasi Krakatau Steel terus dilakukan secara bertahap. Sebelumnya perusahaan telah melakukan restrukturisasi organisasi dan bisnisnya, kemudian perusahaan juga melakukan restrukturisasi keuangan.

“Di Krakatau Steel sama, itu restrukturisasi ada step 1, step 2. Salah satunya konsolidasi di anak perusahaan, bagaimana kawasan industri Krakatau Steel bisa sehat dan bisa di go public-kan,” tutur Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (22/9/21).

Dapat diketahui, saat ini Krakatau Steel menjadi perusahaan holding investasi untuk produsen baja pelat merah. Sedangkan operasional pabrik-pabrik baja yang dimiliki perusahaan dipegang melalui anak usahanya.

Pada tahun lalu, perusahaan ini juga telah menyelesaikan restrukturisasi utang-utangnya dengan nilai mencapai US$ 2,005 miliar atau setidaknya setara dengan Rp 31 triliun. Proses restrukturisasi ini telah dilakukan sejak akhir 2018 dan baru bisa diselesaikan di awal 2020 lalu.

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim membeberkan, utang ini sebagian besar berasal dari kebutuhan dana untuk menutupi investasi perusahaan di masa lampau.

Namun nyatanya terjadi mismatch antara investasi dan realisasi yang terjadi, meski investasi besar namun tak menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

“Jadi kalau ditanya utang buat apa, ya satu buat investasi, tetapi investasi tersebut tak menghasilkan tambahan penjualan dan juga keuntungan. Kemudian ada pembayaran utang menggunakan utang. Mismatch lah,” papar Silmy.

Sesudah restrukturisasi, pada 2020 lalu, KRAS mencatatkan perolehan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 23,67 juta di 2020. Ini setara Rp 339 miliar, dengan asumsi kurs Rp 14.300 per US$.

Sementara, untuk kinerja terbaru, KRAS mencatatkan laba bersih US$ 32,46 juta atau setara dengan Rp 471 miliar (asumsi kurs Rp 14.500/US$) hingga semester I tahun ini atau periode Juni 2021.

Laba bersih semester I ini melesat 619,59 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$ 4,51 juta atau Rp 65,39 miliar.

Pendapatan perusahaan naik 90,88 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi senilai US$ 1,05 miliar (Rp 15,30 triliun) dari sebelumnya di akhir semester I-2020 yang sebesar US$ 552,82 juta atau Rp 8,02 triliun.

Di Januari 2021, Silmy mengatakan KRAS berencana mendivestasikan anak usahanya, baik melalui IPO di pasar modal maupun dengan melakukan spin-off dan berpartner dengan mitra strategis.

Silmy mengungkapkan, saat ini perusahaan masih tetap pada rencana untuk IPO tiga anak usahanya. Namun, aksi korporasi ini juga mempertimbangkan kondisi pasar akibat pandemi Covid-19.

“Kondisi di pandemi covid bukan waktu yang tepat untuk aksi korporasi tersebut dan belum bisa diukur dampaknya ke Perseroan, kita masih konsultasi ke Kementerian mana perusahaan yang IPO,” kata Silmy dalam dokumen paparan publik virtual, dikutip Senin (4/1/2021).

Dia menyebut, tiga anak usaha yang dimaksud adalah PT Krakatau Bandar Samudera, PT Krakatau Tirta Industri dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekt@suarapemerintah.id

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru