BerandaSerba-SerbiCerita Film 3 Idiot Untuk Pendidikan Indonesia

Cerita Film 3 Idiot Untuk Pendidikan Indonesia

Suarapemerintah.ID-Film India berjudul “3 Idiots”, seolah menjadi sindiran manis namun telak terhadap praktek pendidikan kita. Film yang dibintangi oleh Amir Khan (memerankan Raccho alias Rachhodas Shyamaldas Chanchad), R. Madhavan (sebagai Farhan Qureshi), Sharman Joshi (sebagai Raju Rastogi), dan Kareena Kapoor (memerankan Pia, putri Direktur Imperial College of Engineering/ICE) ini, menceritakan tiga mahasiswa dari latar belakang yang berbeda.

Mereka kuliah di ICE, perguruan tinggi (PT) terkenal di Delhi-India. ICE selalu melahirkan insinyur-insinyur, yang di akhir tahun kuliahnya mendapat tawaran kerja di berbagai perusahaan.

- Advertisement -

Soal lulusan ICE ini, beda banget dengan realitas di Indonesia. Selesai kuliah, ribuan lulusan PT berebut “mengorek-ngorek” peluang kerja. Bahkan data Badan Pusat Statistik/BPS, Februari 2021, menyebutkan sebanyak 205,36 juta usia kerja orang Indonesia merebutkan 2,3 juta lapangan kerja baru di tahun 2021.

Ini artinya peluang satu lowongan kerja diperebutkan oleh 89,2 orang. Itupun dengan syarat pertumbuhan ekonomi mencapai 4,5 persen. Tak percaya? Silahkan tanya Direktur Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Parwita Saronto.

Balik lagi ke film “3 Idiots”. Film yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra ini diangkat dari novel Five Point Someone karangan Chetan Bhagat, menceritakan tentang bagaimana kehidupan dan kebiasaan belajar mahasiswa di ICE. Film drama komedi yang dirilis 25 Desember 2009 ini, menceritakan model pembelajaran di ICE yang mengutamakan prestasi akademik, dan hafalan.

Sang Direktur ICE, Dr. Viru Sahastrabudhhe diperankan oleh Boman Irani, menggenjot para mahasiswanya untuk bisa berprestasi dengan baik. Sang direktur berprinsip, prestasi akademik akan menghasilkan kesuksesan dengan indikator diterima di perusahaan besar.

Hal menarik lainnya dari film ini adalah Amir Khan yang cerdas dan berbakat. Amir Khan sendiri dalam film tersebut memiliki nama Phunsukh Wangdu. Ayah Phunsukh Wangdu bekerja sebagai pembantu pada keluarga ayah Ranchoddas Shamaldas Chanchad. Karena kecerdasannya tersebut, Phunsukh Wangdu menjadi “joki” Ranchodas Shamaldas Chanchad, anak dari majikan ayahnya, malas untuk kuliah di ICE.

Dan ternyata praktek sebagai “joki” tersebut sudah dilakukan Phunsukh Wangdu sejak mereka bersekolah di sekolah dasar hingga masuk ICE. Jadi ingat, dulu di negeri kita ada “joki” Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Tapi untungnya tak sampai “joki” kuliah. Yang ada joki makalah atau tesis atau buku. Alias ghost writer.

Ternyata praktek “joki” tersebut ulah Ayah Racco. Dia berpikir, sebagai orang kaya, tak penting anaknya sekolah atau kuliah. Yang penting anaknya bisa dapat IJAZAH. Dengan punya ijazah dari ICE, anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi.

Film “3 Idiots” ini mengkritik tiga hal praktek pendidikan yang mungkin juga terjadi di Indonesia. Pertama, mengkritik rezim kompetensi atau rezim prestasi akademik mengabaikan bakat dan potensi siswa. Kedua, mengkritik sistem pendidikan yang mengedepankan pencapaian kompetensi yang harus dimiliki siswa tanpa mengembangkan sisi kemanusian, karakter dan religius siswa.

Ketiga, mengkritik kecenderungan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya karena tujuan mendapatkan ijazah, agar anaknya mudah mendapatkan pekerjaan. Tentu setelah lulus kuliah.

Perguruan tinggi ICE -dan bisa jadi PT di Indonesia pun, dalam film tersebut hanya menjadi penyedia tenaga terampil yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan. Sehingga sekolah atau PT hanya menjadi komodifikasi dari kebutuhan industri dalam menyediakan kebutuhan tenaga kerja. Sekolah dalam pandangan kapitalis tidak lebih dari jasa penyedia calon tenaga kerja memiliki keterampilan dibutuhkan industri.

Model Pendidikan yang diselenggarakan ICE tersebut membenarkan tesis, Carlo Fanelli, profesor dari Political Studies Department Ryerson University, “Pendidikan lebih dari sekedar struktur institusi formal dan transaksi di ruang kelas”.

Ruang kelas akan didominasi oleh kepentingan kebutuhan industri. Mulai dari kurikulum yang sesuai kebutuhan industri/perusahaan multi nasional, hingga sikap dan karakter yang dibutuhkan oleh industri. Jadi, kira-kira model mana pendidikan kita saat ini?.

(Kang Marbawi (Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM