SuaraPemerintah.ID-Rieke Diah Pitakola adalah seorang pemain sinetron, penulis buku, pembawa acara dan politikus asal Indonesia. Ia mengawali kariernya di dunia hiburan sebagai model. Rieke mulai dikenal publik lewat sinetron bajai bajuri.
Rieke kerap membintangi sejumlah sineton di layar kaca, hingga akhirnya namanya melejit berkat perannya sebagai Oneng dalam sinetron komedi Bajaj Bajuri pada 2002 hingga 2007, dengan lawan mainnya Mat Solar.
Perempuan kelahiran 8 Januari 1974 ini juga terjun ke dunia layar lebar. Debut akting filmnya melalui Berbagi Suami sebagai Dwi pada 2006.
Berkat peran itu ia berhasil masuk dua nominasi, salah satunya Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2006. Sepanjang karir beraktingnya, Rieke telah membintangi empat film dan 14 belas sinetron. Rieke juga mencoba peruntungannya sebagai pembawa acara untuk beberapa program, antaralain Book Riview, Good Morning, dan Reportase Malam.
Tidak sampai di situ, Rieke telah menerbitkan dua buah buku yang berjudul Renungan Kloset dan Kekerasan Negara Menular Ke Masyarakat.
Setelah sukses di dunia hiburan, Rieke Diah Pitaloka mencoba terjun ke dunia politik pada 2012. Ia menjadi anggota DPR periode 2009 hingga 2014 dari PDI-P.
Selain itu, Rieke juga aktif di kegiatan sosial. Ia mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Pitaloka yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.
Ia pernah menikah dengan pira bernama Donny Gharal Adian pada 2005. Dari pernikahan itu, dikaruniai tiga orang anak, diberinama Jalumanon Badrika, Sagara Kawani Hadiansyah dan Misesa Adiansyah.
Kiprah Rike Dyah Pitaloka di Kancah Politik Nasional
Rike merupakan wanita dengan pendidikan tinggi. Ia merupakan Sarjana di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia (UI). Tak hanya itu, Rieke juga bergelar Sarjana Filsafat di STF Driyakara, Jakarta. Lulus dari pendidikan S1, Rieke melanjutkan pendidikan di jurusan Filsafat UI.
Bahkan tesisnya yang berjudul Banalitas Kejahatan: Aku yang tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat diterbitkan oleh Galang Press.
Tak hanya di bidang akademis, Rieke juga menunjukkan eksistensinya di isu-isu sosial dan politik. Alhasil ia juga dikenal sebagai seorang aktivis yang vokal menyuarakan beragam keresahan masyarakat.
Ia Jadi anggota DPR RI 3 Periode Rieke kini dikenal aktif dalam dunia politik. Ia bahkan sempat menduduki jabatan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar.
Setelah itu, Rieke memutuskan untuk bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri. Diusung PDI-P, Rieke mencalonkan diri dalam Pemilihan Umum Legislatif tahun 2009.
Rieke pun terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II. Di DPR, Rieke menjadi salah satu anggota dari Komisi IX yang berkonsentrasi pada bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Kemudian pada tahun 2013 Rieke juga sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat bersama Teten Masduki. Namun saat itu perolehan suara Rieke dan Teten tak cukup untuk membuat mereka menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Pada pemilu legislatif 2014, untuk kedua kalinya Rieke maju sebagai calon legislatif DPR dapil Jawa Barat VII. Ia pun kembali lolos ke Senayan dan menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dengan perolehan suara 255.044 suara.
Rieke kembali dipercaya menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024 untuk menjadi penyalur aspirasi rakyat dan pengawas kebijakan-kebijakan eksekutif.
Vokal suarakan hak buruh Selama menjabat sebagai anggota dewan, nama Rieke cukup sering didengar. Hal ini karena sikap vokal Rieke dalam menanggapi berbagai persoalan sosial.
Ia merupakan salah satu anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Rieke Dyah Pitaloka juga mendirikan sebuah yayasan diberi nama “Yayasan Pitaloka” bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan seperti dilansir dari kompas.com.
Tak hanya itu, meski sudah menjadi dewan kehormatan, Rieke masih kerap turun ke lapangan untuk mendampingi masyarakat yang tengah menyampaikan aspirasinya melalui aksi unjuk rasa. Pada tahun 2018, bahkan Rieke turut serta dalam aksi May Day yang digelar di sekitar Monas. Saat itu Rieke hadir memimpin massa sebagai Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) dalam peringatan Hari Buruh Internasional itu.
Rieke menegaskan, dalam aksinya memperjuangkan nasib buruh, KRPI berjuang dengan damai tanpa harus ada caci maki terhadap pihak manapun. Rieke mengatakan, dalam aksi ini, KRPI meminta agar pemerintah memperhatikan nasib para pekerja. Harus ada Tri Layak yang didapat para buruh, yakni Kerja Layak, Upah Layak dan Hidup Layak.


.webp)












