SuaraPemerintah.ID – Pasca pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh tentang tiga kandidat yang bakal diusung sebagai capres 2024, nama Andika Perkasa sontak melambung. Melejitnya nama Panglima TNI itu terjadi di media online maupun media sosial.
“Tiga nama bakal capres yang diusulkan Rakernas Nasdem itu cukup mengejutkan, terutama pada nama Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Terlihat di percakapan media sosial dan media siber, nama Andika menyita perhatian dengan segala pro dan kontranya,” ujar Analis Drone Emprit, Munib Ansori di Jakarta, Minggu (19/06).
Kendati masuk bursa, di media sosial, Andika bisa dibilang belum punya pendukung loyal. Berbeda dengan dua sosok lain yang disebut Surya Paloh, yaitu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Di lintas platform media sosial, Gubernur Anies memiliki pendukung kuat, yang merepresentasikan antitesa pemerintah Jokowi. Sebaliknya, Gubernur Ganjar kerap dilabeli The Next Jokowi, dan memiliki struktur simpatisan yang gesturnya pro Jokowi.

Sepanjang periode pemantauan (13-19 Juni), kata Munib, percakapan tentang Andika belum menggambarkan kesolidan para penyokongnya. “Influencer pendukung Ganjar teridentifikasi secara jelas. Begitu pula Anies. Keduanya solid dalam diskusi dan pertengkaran narasi. Sebaliknya, belum teridentifikasi influencer utama Andika. Sehingga pekerjaan rumah besarnya adalah memperkuat basis pendukung Andika di media sosial,” jelasnya.
Kecuali soal soliditas, pembangunan operasi media sosial oleh simpatisan Andika penting dilakukan, mengingat masih rendahnya popularitas bekas KSAD tersebut di kalangan warganet dibanding dua figur lain yang didukung Nasdem.

Anies membukukan share of voice tertinggi, mencapai 52 persen (115 ribu mentions), disusul Ganjar sebesar 43 persen (95 ribu mentions), baru Andika yang hanya mendapatkan 4 persen (9 ribu mentions) di seluruh kanal media. “Pada komparasi tiga tokoh ini, SoV Andika belum perkasa, jauh dari Anies dan Ganjar,” tutur Munib.
Namun untuk persentase favorabilitas, sentimen negatif untuk Andika merupakan yang terendah (12,51 persen), disusul Ganjar (18,55 persen), dan Anies (25,78 persen). Hal demikian menunjukkan, Andika belum banyak memiliki haters. Berbeda dengan Anies dan Ganjar yang sudah punya pendukung fanatik dan pada saat yang sama punya haters loyal.

Adapun untuk pergerakan volume mentions, penyebutan Andika melonjak luar biasa sesaat setelah pengumuman oleh Surya Paloh pada 18 Juni. Tren kemudian bergerak menurun secara perlahan pasca tanggal tesebut. “Ini artinya, nama Andika di media sosial dan media berita elastis terhadap momentum. Karenanya, perlu menciptakan dan menjaga momentum yang mampu mendorong popularitasnya di media lintas platform,” pungkas Munib.


.webp)












