SuaraPemerintah.ID – Safari politik Ketua DPR Puan Maharani ke rumah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto akhir pekan lalu menuai beragam reaksi. Di media sosial, Puan dicibir. Juga Prabowo. Begitu pun Ketum PKB Muhaimin Iskandar yang kebagian getah nyinyir netizen.
Berbasis data yang ditabulasi Drone Emprit, cibiran untuk Puan seputar kontradiksi momentum kenaikan harga BBM dengan kegiatannya naik kuda bersama Prabowo. Sebagian netizen mengungkit mengapa Puan tidak menangis, sebagaimana ia pernah tampilkan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga bensin.
Setali tiga uang, Prabowo juga dihardik netizen. Bukannya empati ke rakyat terdampak kenaikan harga BBM yang diumumkan Presiden, Prabowo malah asyik kampanye naik kuda. “Mantap mba Puan dan Pak Prabs bisa kampanyekan ayo naik kuda saat BBM meroket,” begitu cuit salah satu influencer.
Hal demikian berbeda dengan yang terjadi pada Cak Imin – sapaan akrab Muhaimin Iskandar. Cak Imin, dibilang netizen, sudah sedari awal melakukan panjat sosial terhadap Prabowo namun tidak pernah diajak naik kuda, lewat tagar spesifik, yakni #GakDiajakNaikKuda.
“Kesimpulannya jadi begini, mau beratus kali Gak Imin pansos ke sana sini tetap gak ngefek. Faktanya Imin Nol Koma di hasil survei harus diterima sebagai kenyataan. #GakDiajakNaikKuda sama Prabowo Subianto mestinya Gak Imin sadar bahwa tak laku sebagai Capres maupun Cawapres. LOL,” demikian olok-olok salah satu warganet.
Analisis Konten
Percakapan di media sosial maupun pemberitaan di media online untuk Prabowo dan Puan sama-sama melonjak saat berlangsung pertemuan keduanya di Hambalang, Bogor—kediaman pribadi Ketum Gerindra, Minggu (4/09).
Tingginya percakapan disumbang oleh silang pendapat dan pro-kontra pada safari politik Capres 2024 tersebut. Gelombang cibiran dari haters dan rupa-rupa apresiasi dari masing-masing mendukung turut mewarnai dinamika narasi.
Berbasis profiling akun yang digelar Drone Emprit, netizen yang menyerang Puan sebagian di antaranya terafiliasi ke kelompok yang selama ini dikenal menjadi pendukung loyal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Demikian halnya dengan pencibir Prabowo yang terpantau berasal dari eks pendukungnya yang kini hijrah menjadi simpatisan Anies. Sementara akun-akun yang nyinyir ke Cak Imin terdeteksi punya kecondongan narasi positif ke putri mendiang Gus Dur, Yenny Wahid.
Kecuali kecaman ke tiga figur yang digadang-gadang masuk bursa capres-cawapres tersebut, disinggung pula nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pernyataan Prabowo yang membuka kemungkinan berduet dengan Puan dikapitalisasi para haters Ganjar, yang menyebut pintu pencapresannya di PDIP sudah tamat.
Jika di media sosial perang opini begitu semarak, media berita punya agenda berbeda. Pers terdeteksi fokus pada beragam pernyataan kedua tokoh dalam pertemuan politik itu. Misalnya ungkapan Puan yang menyampaikan pesan Megawati Soekarnoputri ke Prabowo Subianto. Juga, pernyataan Prabowo tentang peluang koalisi Gerindra-PDIP.
Kendati demikian, baik para aktor media sosial maupun jurnalis media berita, kedua pihak sama-sama memandang safari politik Puan ke Prabowo sebagai langkah menuju Pilpres 2024. Bedanya, topik pemberitaan pers lebih normatif ke seremonial pertemuan itu, sedangkan aktor-aktor media sosial justru mengerucut pada penggalangan opini.


.webp)















