BerandaBerita HumasInvensi Belum Menjadi Inovasi, Kalau Tidak Punya Nilai Komersial

Invensi Belum Menjadi Inovasi, Kalau Tidak Punya Nilai Komersial

SuaraPemerintah.ID-Berdasarkan Undang-Undang Pangan Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, menyatakan bahwa kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa, secara mandiri menentukan kebijakan pangan. Menjamin hak atas pangan bagi rakyat, dan memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan, sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Kata kuncinya ada istilah sistem, kemandirian, sumber daya lokal, dan seterusnya. Apabila dirangkai menjadi satu, tampak benang merahnya, yaitu kedaulatan pangan terkait dengan inovasi. Hal tersebut disampaikan oleh Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, selaku Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Talkshow bertajuk Riset dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan, saat perhelatan Indonesia Research and Innovation (InaRI) Expo 2022, yang berlangsung di Gedung Innovation Convention Center (ICC), Cibinong, Jawa Barat, Kamis (27/10).

Menurutnya, kalau berbicara kedaulatan pangan sebagai salah satu pengertian di dalam UU pangan terdapat beberapa terminologi, termasuk kedaulatan pangan, ketahanan pangan, dan kemandirian pangan. “Hal ini hanya bisa diwujudkan melalui inovasi, dengan melakukan pendekatan lima unsur Supply Chain Management (SCM). Pertama perencanaan, baik itu rencana pengadaan input atau pengadaan bahan baku, rencana untuk memproduksinya. Kedua source, sebagai tahap pengembangan yang menghubungkan pengadaan bahan baku, untuk diproduksi,” ungkapnya.

- Advertisement -

Kemudian ketiga, lanjutnya, produksi bahwa proses produksi dilakukan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Keempat, transportasi dan pengiriman produk yang akan dikirimkan. “Bagaimana supaya produk makanan tersebut, bisa diterima oleh konsumen. Kelima, adalah pengembalian, hal ini sebagai pendekatan SCM yang akan memastikan bahwa kedaulatan pangan, ketahanan pangan itu bisa kita wujudkan,” tambahnya.

Sudhamek menjabarkan, riset dan inovasi dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan, sebuah tema yang relevan, dan ada korelasinya, karena rohnya pada dasarnya inovasi. “Inovasi sebuah proses panjang, yang bisnis prosesnya dari pengalaman kami, sebagai pelaku bisnis. Diawali dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masuk ke tahap berikutnya, yaitu kegiatan riset. Setelah riset dilalui, akan diperoleh hasilnya dalam bentuk temuan-temuan baru, sebagai invensi,” ujarnya.

Invensi belum menjadi inovasi, kata dia, kalau tidak memiliki nilai komersial. Inovasi pada dasarnya, adalah invensi ditambah komersialisasi. “Tahapan terakhir inilah, harapan dari para entrepreneur. Enterpreneur sama saja dengan innovator, jadi antara inovator dan enterpreuner tidak bisa terpisahkan,” ungkapnya.

Bos Garuda Food itu juga menyampaikan pengalamannya, sebagai seorang enterpreuner yang telah membesarkan Garuda Food, diawali dengan upaya melalui inovasi. “Sekedar ilustrasi, pada 1994 produk yang kami jual itu hanya 4 produk olahan kacang, dengan omzet sekitar 12 Milyar per tahun. Sekarang menjadi 140 an produk, beromzet sekitar 14 Trilyun per tahun. Hal ini karena faktor inovasi, oleh sebab itu tagline perusahaan kami adalah leading in innovation,” jelasnya.

Puji Lestari Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, dalam paparannya menyampaikan strategi riset inovasi, untuk kebijakan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, dengan intensifikasi pertanian berkelanjutan. “Proteksi keanekaragaman hayati terkait ekosistem, air, kesuburan tanah, dan reduksi polusi. Penekanan food loss, dan food waste. Kemudian, pemberdayaan masyarakat dengan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, berbasis agroindustri,” katanya

Puji melanjutkan, tantangannya yaitu kebutuhan pangan terus meningkat. Peningkatan produksi padi melandai, lahan optimal makin terbatas. “Pengembangan padi di lahan sub optimal menghadapi kendala, baik biotik maupun abiotik. Dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan, terjadi turunnya produktivitas dan luas panen. Prevalensi kekurangan gizi mikro, masih tinggi,” ucapnya.

Dia menegaskan, dengan tantangan tersebut, kita dapat menghasilkan varietas unggul serealia dan jagung yang pasti tahan karena biotik dan abiotik, dan cara memaksimalkan jagung sebagai pangan fungsional. “Sedangkan target output pada tanaman pangan, yaitu dengan galur harapan padi, baik inbrida maupun hibrida. Spesifik zona agroekologi galur harapan padi, dengan kandungan nutrisi tinggi,” ulasnya.

Puji menyimpulkan, ada beberapa cara untuk mengatasi berbagai kendala pada tanaman pangan, yaitu pertama mengurangi impor gandum dan meningkatkan produksi pangan pokok yang masih bergantung impor, yaitu kedelai, bawang putih, daging sapi atau kerbau dan gula. “Memanfaatkan lahan produktif, mengendalikan konversi lahan. Kedua, mendorong diversifikasi pangan. Khususnya pemanfaatan pangan lokal, untuk meningkatkan konsumsi pangan yang lebih bergaram, bergizi seimbang dan aman,” bebernya.

Selanjutnya, ketiga, mengurangi ketergantungan impor gandum. “Meningkatkan produksi dan konsumsi tepung lokal di antaranya sagu, singkong, jagung, dan sorgum untuk mengurangi impor gandum. Keempat, perbaikan teknologi dan jenis pengolahan nilai tambah, yaitu gizi dan mutu. Preferensi konsumen dan keamanan pangan lokal, serta penurunan food loss dan waste,” pungkasnya. (ns, mul)

mulyadi, S.Sos
mulyadi, S.Sos
Senang berorganisasi, olahraga, membaca, Travelling, Social network
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM