Rabu, Januari 28, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Terungkap! Ini Biang Kerok Utama Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia

SuaraPemerintah.ID – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati membeberkan alasan utama penyebab cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia akhir-akhir ini.

Dwikorita menuturkan setidaknya ada 3 faktor utama penyebab cuaca panas di Indonesia semakin tinggi. Selain itu ia juga memastikan, meski cuaca panas menyengat, Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di wilayah lain. Hal itu karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki perairan yang luas.

- Advertisement -

Keberadaan lautan di kepulauan Indonesia itu, jelasnya, berfungsi sebagai pendingin sehingga Indonesia tak sampai mengalami kenaikan suhu rata-rata sampai atau lebih 5 derajat Celcius selama 5 hari berturut-turut.

“Apa penyebab suhu tinggi di Indonesia? Ada tiga penyebab. Pertama, karena adanya anomali iklim El Nino yang dipengaruhi suhu muka permukaan laut pasifik di ekuator bagian timur yang berakibat pada minimnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia,” jelasnya dalam Nation Hub CNBC Indonesia, dikutip Jumat 13/10/2023).

- Advertisement -

“Kedua, akibat adanya anomali iklim di Indian Ocean Dipole (IOD) positif di wilayah Samudera Hindia di ekuator bagian barat. Ini juga menyebabkan minimnya pembentukan awan hujan di Indonesia,” tambah Dwikorita.

Akibat minimnya pembentukan awan hujan tersebut, terang dia, penyinaran matahari di wilayah Indonesia di selatan ekuator langsung ke bumi tanpa ada tameng pelindung berupa awan hujan.

“Akibatnya, penyinaran itu lebih intensitas penyinaran matahari lebih kuat,” ujarnya.

“Dan, karena efek gerak semu matahari di bulan September-Oktober ini, menyebabkan wilayah di selatan ekuator, Jawa, juga Nusa Tenggara mengalami penyinaran matahari yang lebih intens,” imbuhnya.

Penyebab ketiga, lanjut Dwikorita, cuaca panas menyengat kali ini dipengaruhi angin dari Australia yang lebih kering. Menyebabkan musim kemarau kali ini lebih menyengat.

“Angin dari Australia ini kering, mengakibatkan kelembaban semakin rendah. Jadi, sudah panasnya meningkat, kelembaban rendah, jadi terasa semakin menyengat,” katanya.

Dia menjabarkan, wilayah Indonesia yang mengalami panas tertinggi saat ini adalah Kota Semarang dan Kertajati, Majalengka.

“Pantauan stasiun klimatologi pada 6 Oktober 2023, suhu maksimum harian di Semarang mencapai 38,6 derajat Celcius, dan pada 7 Oktober di Kertajati mencapai 38,8 derajat Celcius,” katanya.

“El Nino saat ini ada di level moderat dan diprediksi berlanjut sampai Januari-Februari tahun depan, dan melemah hingga Maret. Sehingga El Nino masih berlangsung sampai akhir Maret, Insya Allah berakhir di April,” pungkas Dwikorita.

Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru