SuaraPemerintah.ID – Berbeda dengan ayahnya, tak nampak cambang atau mata yang tajam. Matanya justru teduh. Senyum tak lepas dari wajahnya. Itulah Prananda Surya Paloh, anggota DPR RI sejak 2014 yang juga merupakan salah satu pendiri Partai Nasdem. Pribadinya yang suka bersahabat dengan siapa saja dengan sikapnya yang terkesan santai menjadikannya mudah berbaur dalam pola komunikasi yang egaliter.
Lantasi bagaimana kiprah pemuda kelahiran Singapura, 21 September 1988 yang juga Ketum Garda Nasdem ini sebagai wakil rakyat? Berikut kutipan wawancara Prananda Surya Paloh yang dilansir dari pranandapaloh.info.
Keluarga Anda sangat mapan. Tapi Anda memilih dunia politik, dan meyakinkan orang lain tentang diri Anda. Mengapa? Apa yang Anda cari?
Saya akui saya dari keluarga mampu dan mapan. Juga besar dalam tradisi politik, Saya paham dengan seluk beluk politik itu. Saya lulus kuliah tahun 2012 akhir. Saat itu ada penerimaan Daftar Calon Sementara (DS) Partai Nasdem. Partai ini baru terdaftar untuk ikut pemilu. Saya waktu itu tidak ada planning tidak terlalu jauh. Umur saya masih 24. Orangtua tanya, mau gak masuk politik? Dia tidak memaksa saya. Saat itu, saya pikir ada peluang dan kesempatan. Saya juga baru lulus, Saya kampanye dengan spirit sama dengan partai yakni “Restorasi Indonesia”, Selama satu tahun setengah di Dapil, saya belum banyak tahu keadaan. Saya bukannya shock. Saya melihat kesenjangan sosial. terlalu jauh kalau membandingkan Jakarta dan Medan. bandingkan saja kota Medan dengan daerah pinggiran. Kesenjangannya sangat jauh. Saya ingin berbuat banyak.
Apa yang menjadi jualan Anda saat kampanye?
Saya punya jargon kampanye. Kalau saya terpilih, maka gaji dan tunjangan saya akan diserahkan sepenuhnya ke Dapil saya. Alhamdulillah, setelah terpilih dan dilantik pada 1 Oktober, saya turun lagi ke Dapil. Tempat pertama saya kunjungi, Desa Sibolangit, di Kabupaten Deli Serdang. Kenapa itu jadi desa pertama saya kunjungi? Karena desa itu mendulang suara terbanyak buat saya. Saya simpati dengan warga desa. Mereka juga simpati sama saya. Hanya saya anggota DPR yang mengunjungi desa itu.
Jangankan anggota DPR, anggota DPRD tak ada yang ke sana. Saya bangga karena dipercayai mereka. Saya disambut luar biasa. Saya tidak memberi bantuan luar biasa. Hanya pupuk, cangkul, dan peralatan olahraga. Dari situ, terbangun kepercayaan. Saya kaget karena suara daerah itu bulat. Ada 3.000 suara saya dapat di situ.
Saat itu mulai muncul ide untuk kembalikan gaji dan tunjangan. Timbul gagasan bagaimana kalau kita buat yayasan biar terarah dan terukur. Namanya Prananda Surya Paloh (PSP) Foundation. Kami ke notaris. Kami buat konsep, memilih ketua yayasan, ketua harian, dan seterusnya. Setelah rampung di-brainstorming lagi, tapi outflow-nya terukur. Setelah terbentuk, kami mulai jalan.
Apa saja yang dilakukan?
Kami pertama bangun program peternakan di salah satu desa. Di situ kami launching yayasan. Kami kasih bibit unggul ternak, yakni kambing dan sapi. Kami jelaskan bahwa kami tidak menuntut pengembalian. Kami minta supaya mereka tidak menjual bantuan itu. nanti setelah dipelihara dan punya anak, baru bisa dijual. Di situ kita hanya men-supervisi saja. Program ternak itu jalan.
Kami lalu ke kecamatan lain. Mulai bergulir program nelayan. Sejauh ini sudah banyak program nelayan. Tapi seringkali kendalanya adalah pengetahuan dan pendidikan, dan juga bagaimana bersaing dengan nelayan yang lebih modern. Kami kasih pendampingan serta bantuan mesin tempel (speedboat). Saya anggap kegiatan di ranah peternakan dan kelautan, sudah cukup bagus. Yayasan ini dibentuk untuk membantu masyarakat, dengan terukur, teruji, dan terbukti. Yayasan ini juga dibuat untuk mengetahui peta di mana saja daerah yang membutuhkan.
Ada anggapan politisi muda itu biasanya yang muda dianggap hijau dan tidak berpengalaman. Bagaimana menurut Anda?
Saya sering temui anggapan itu. Memang, saya masih muda, Saya masih hijau. Tapi itu bukan kekurangan. Justru karena muda, saya punya energi besar. Saya masih punya nurani. Saya punya ketulusan untuk membantu orang-orang. Salah satu kandidat yang melawan status quo hanya saya. Di Dapil itu ada 10 kursi, dan yang bersaing adalah 11 incumbent (petahana). Mungkin saja masyarakat kecewa dengan janji sebelumnya. Bagi saya, dapil itu kekuatan. Tidak mungkin saya lupakan. Orang melihat bahwa muda itu bukan berarti bodoh atau tidak punya pengalaman cukup. Jam terbang boleh kalah, Tapi kita punya motivasi untuk berubah. karena satu-satunya yang muda adalah saya, itu menjadi kekuatan. Ada calon lain, tapi tidak berani.
Apa ada bantuan lain?
Ada. Tapi sifatnya masih insidental. Misalnya kita reses ke SMP. Mereka butuh bantuan, kami sumbang. Baru-baru ini saya menyumbang komputer untuk SMP. Bantuan itu atas nama yayasan.
Basic anda adalah ilmu politik. Setelah tiga tahun jadi anggota jadi dewan, apa dirasakan ada kesenjangan yang cukup jauh antara teori dan praktik?
Saya sering diskusi dengan teman-teman. Apa yang kami pelajari tidak berlaku dengan realita. Yang dipelajari seperti ideologi, teori, itu hanya penopang. Beda dengan bisnis dan manajemen. Itu kan applied. Politik ini learning by doing. Selain pengalaman, jam terbang, juga naluri dan wawasan.
Tapi, kesenjangan antara orang yang memahami konsep dan orang tidak paham kelihatan bedanya. Politik kita masih jauh. Apalagi saya belajar sistem politik Australia, Amerika, yang sudah matang. Sementara kita masih dalam proses menuju kematangan. Sistem kita sudah baik, tapi dalam sistem masih kacau. karena kematangan, kedewasaan, masih sangat minim.
Di luar politik, apa aktivitas Anda?
Saya mengawasi perusahaan dan kantor. Dalam sebulan, saya beberapa kali ikut rapat dengan direksi dan teman-teman. Saya juga disibukkan dengan Garda Pemuda Nasdem, sebagai sayap pemuda partai. Jujur saja, di luar politik, palingan saya mengawasi bisnis.
Palingan mengisi waktu dengan cara bersenang-senang dan makan-makan. Saya sering lakukan hobi yakni main pingpong. Saya sama dengan orang-orang muda lainnya. Kadang ke mall, kadang jalan-jalan saja. Masih bisa enjoy. Balancing penting, Syukur saya masih menikmati kebahagiaan dalam politik.
Banyak anggota dewan ingin jadi pejabat publik. Apa Anda tidak ingin jadi gubernur?
Ada masukan itu di konstituen. Saya nggap permintaan itu positif. karena kinerja saya dianggap bagus. Tapi kalau posisi gubernur, saat ini tidak. Saya masih muda, masih banyak hal lain yang dilakukan. Gubernur kan harus konsentrasi, dedikasi dan stamina 100 persen. Saya gak tertarik.
Apakah Anda membayangkan jadi Ketua Umum Nasdem?
Saya belum pikirkan Saya menjalani step by step. Saya sadar konsekuensi sebagai putra ketua umum. Saya tidak ingin memforsir diri. Orangtua juga tidak forsir saya. Kalau ada orang lain yang lebih baik dan lebih mumpuni, kenapa tidak.
Kalau ada yang lebih punya visi, punya kemampuan, logistik yang baik, mengapa tidak. Tapi kalau tidak ada yang mampu, mungkin kita lihatlah. Saya tidak menutup kemungkinan itu, Silakan yang lain dulu, yang cukup mampu. Lagian itu masih lama. Mungkin 20 tahun lagi.
Anda masih lajang khan? Kapan rencana menikah?
Hahaha. Itu off the record. Saya kan belum 30 tahun. Mungkin dalam dua atau tiga tahun lagi. Saya belum punya calon.






