Rabu, Maret 25, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Prabowo soal Polusi Jakarta ke Anies: Anggaran Rp80 T Tak Mampu Kurangi Polusi

SuaraPemerintah.ID – Calon Presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto memberikan pernyataan masalah polusi udara Jakarta yang menerima indeks polusi tertinggi sebagai kota yang paling berpolusi di dunia selama dipimpin Anies Baswedan.

Prabowo juga sempat mempertanyakan, apakah anggaran DKI Jakarta setahun sebesar Rp80 Triliun tidak bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk mengurangi polusi Jakarta?.

- Advertisement -

“Mas Anies pernah jadi gubernur lima tahun di DKI (Jakarta), anggaran DKI setahun sekitar Rp80 Triliun, jumlah peduduk DKI kira-kira 10 juta, kurang lebih. APBD Jawa Barat Rp35 Triliun jumlah penduduknya 50 juta, 5 kali DKI. Tapi selama mas Anies mimpin sering sekali DKI menerima indeks polusi tertinggi di dunia, bagaimana dengan anggaran Rp80 Triliun pak Anies sebagai gubernur tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti untuk mengurangi polusi,” kata Prabowo di panggung Debat Pilpres 2024 di Kantor KPU, Menteng yang dilansir dari detik.com, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2023) malam.

Capres nomor urut 1, Anies Baswedan menyebut sudah menempuh berbagai cara untuk mengurangi polusi di DKI Jakarta. Mulanya Anies menjawab soal alat pengukur yang dimiliki DKI Jakarta. Dia mengibaratkan dengan kasus Covid-19. Prabowo menegaskan kalau dirinya bertanya soal penanganan polusi di DKI Jakarta.

- Advertisement -

“Saya bukan tanya Covid, saya tanya polusi,” timpal Prabowo.

Anies melanjutkan salah satu penyebab polusi di Jakarta ialah polutan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang terbawa angin ke Jakarta. Namun, lanjut Anies, polusi itu tak hanya di Jakarta, tapi juga ke Lampung namun tidak ada sensor yang menangkap polusi udara.

“Di Jakarta kami memasang alat pemantau polusi udara, bila masalah polusi udara bersumber dari dalam kota Jakarta maka hari ini, besok, minggu depan konsisten selalu akan kotor.” jawab Anies.

Dia menambahkan, pembangkit listrik tenaga uap yang kemudian cerobongnya menghasilkan polutan. Ketika arah anginnya bergerak ke arah Jakarta, maka dia tertangkap oleh sensor. Jakarta menjadi kota polusi.

“Tetapi apa yang terjadi? ada hari di mana kita bersih, ada hari di mana kita kotor. Ada masa minggu pagi Jagakarsa sangat kotor. Apa yang terjadi? polusi udara tak punya KTP, angin tak ada KTP-nya. Angin itu bergerak dari sana sini. Ketika polutan yang muncul dari pembangkit listrik tenaga uap mengalir ke Jakarta maka Jakarta punya indikator karena Jakarta itu mengatakan ada polusi udara, ketika anginnya bergerak ke arah Lampung, ke arah Sumatera, ke arah Laut Jawa, di sana tidak ada alat monitor maka tidak muncul (polusi), Jakarta pada saat itu bersih,” jelas Anies.

“Kalau problemnya dari dalam kota saja, maka konsisten tiap waktu. Ya, kita punya masalah polusi karena itu kita kerjakan dengan apa? kita lakukan, pak. Satu dengan pengendalian emisi dari kendaraan bermotor, pengujian emisi sekarang wajib. Yang kedua, elektrifikasi kendaraan umum. Yang ketiga konversi kendaraan umum, dan dulu yang naik kendaraan umum hanya 350 ribu per hari, sekarang sudah satu juta perhari. Jadi itu yang kita kerjakan untuk menangani polusi di Jakarta,”

Prabowo mempertanyakan peran Anies sebagai pemimpin DKI Jakarta saat diselimuti polusi. Capres nomor urut 2 itu mempertanyakan langkah konkret yang sudah dilakukan Anies.

“Ya susah kalau kita menyalahkan angin. Dari mana…. Ya. Jadi saya bertanya dengan anggaran segitu besar, Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk dengan real dalam lima tahun mengurangi polusi, juga di mana rakyat Jakarta begitu banyak yang mengalami sakit pernafasan. Jadi saya kira kalau kita dengan gampangnya menyalahkan angin, hujan dan sebagainya. Ya… mungkin tidak perlu ada pemerintahan kalau begitu,” jawab Prabowo.

Anies lalu merespons bahwa untuk masalah polusi yang bersumber dari dalam kota. Dia sudah melakukan langkah-langkah seperti uji emisi kendaraan bermotor hingga mendorong orang untuk menggunakan transportasi umum. Namun ada masalah polutan yang bersumber dari DKI Jakarta yang terbawa oleh angin.

“Ya memang ada sumber polutan dari dalam kota. Tapi kalau sumber polutan itu hanya dari dalam kota, maka pakai logika sederhana sekali, jumlah motor dari hari ke hari sama. Jumlah mobil dari hari ke hari, sama. Maka harusnya angka polusinya sama setiap waktu. Betul tidak? tapi jumlah motor sama, jumlah mobil sama. Ada kita sangat polusi, ada sisi sangat tidak polusi, nanti kalau perlu saya kirimkan gambar satelitnya kepada bapak, supaya bapak bisa menyaksikan. Dan inilah mengapa kita mengambil langkah itu pakai ilmu pengetahuan pakai data dan menggunakan scientist untuk terlibat. Kalau tidak pakai itu maka tidak akan ada langkah yang benar,” jelas Anies.

Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru