SuaraPemerintah.ID – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menambah impor beras sebanyak 1,6 juta ton guna melengkapi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di dalam negeri. Impor beras ini akan dilakukan oleh Perum BULOG.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Isy Karim menyatakan bahwa Kemendag telah mengeluarkan persetujuan impor untuk menambah jumlah impor beras sebesar 2 juta ton yang sebelumnya telah ditetapkan oleh pemerintah.
“Kementerian Perdagangan sudah menerbitkan persetujuan impor untuk penugasan Bulog. Yang pertama dengan 2 juta ton (beras) untuk 2024, penugasannya sudah dikeluarkan, untuk tambahan impor 1,6 (juta ton) juga. Untuk tambahan impor 1,6 juta ton juga persetujuan impornya sudah diterbitkan,” kata Isy mengutip laman Antara.
Berdasarkan laporan dari Perum Bulog, hingga saat ini realisasi impor beras telah mencapai 500 ribu ton. “Bahkan dari laporan yang disampaikan oleh Bulog, realisasinya sudah mencapai lebih dari 500 ribu ton (beras) pada triwulan pertama ini,” tambah Isy.
Isy menjelaskan bahwa penambahan impor beras diperlukan untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN).
Menurut survei Kemendag, Isy memprediksi adanya lonjakan permintaan hingga 45,13 persen selama periode Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri. Saat ini, terjadi penurunan harga beras di tingkat pasar induk, namun belum signifikan di tingkat pasar tradisional.
“Memang kalau kita lihat, khusus untuk beras masih ada kenaikan harga dibanding bulan lalu. Untuk beras medium masih terkena kenaikan harga 6,16 persen,” tutur Isy.
Berdasarkan panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Maret 2024, beras medium tercatat naik 0,41 persen menjadi Rp14.390 per kilogram (kg), dan berasa premium naik 0,67 persen menjadi Rp16.570/kg.
Untuk itu, dalam menghadapi lonjakan permintaan, Kemendag menyampaikan beberapa arahan untuk para pelaku usaha/asosiasi. Pertama, Kemendag mengimbau para pelaku usaha untuk mempersiapkan penambahan pasokan dan stok guna mengantisipasi peningkatan permintaan.
Kedua, memanfaatkan pola kerjasama perdagangan antar daerah dan informasi potensi panen Kementan/Pemda untuk mengisi pasokan. Ketiga, Kemendag mengimbau para pelaku usaha untuk mengambil keuntungan secara wajar dan tidak melakukan spekulasi harga dan penimbunan
“Keempat, memenuhi kewajiban DMO (Domestic Market Obligations) bagi asosiasi dan produsen minyak goreng, dan kelima, pemerintah akan membantu melalui Bulog agar mengakselerasi pengisian beras di ritel,” jelas Isy.
Sebelumnya, Kemendag juga memastikan stok beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) produksi Bulog melimpah dan tersebar di seluruh pasar tradisional dan ritel modern di Indonesia. Masyarakat yang biasa mengonsumsi beras premium diminta mulai beralih mengonsumsi beras SPHP. Peralihan konsumsi masyarakatini diharapkan menurunkan harga beras premium.
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengungkapkan, “kalau beras premium sedang mahal, kami harap masyarakat bisa membeli alternatif yaitu beras komersial Bulog atau beras SPHP. Berasnya enak dan bagus. Sehingga, laju kenaikan harga beras lokal yang belum panen ini bisa ditahan kalau permintaannya turun.”
Lebih lanjut menurut Zulkifli, pemerintah mengestimasi panen beras paling cepat adalah pada Maret 2024. Pergeseran musim dan dampak El Nino telah menggeser jadwal tanam beras diIndonesia.
“Jadwal tanam kita bergeser, biasanya Agustus atau September sudah tanam, saat ini baru tanam. Artinya, panen paling cepat di Maret 2024. Puncaknya saya kira April atau Mei, baru harga beras lokal akan stabil. Tapi, beras yang disediakan pemerintah harganya tetap, tidak naik,” jelas Zulkifli.
Pemerintah menyediakan beras SPHP Bulog sepanjang tahun dengan harga Rp10.900/kg. Selain itu, tersedia juga beras komersial Bulog yang saat ini dijual dengan harga Rp15.000/kg.
Zulkifli memastikan, kedua jenis beras tersebut akan tersedia bagi masyarakat yang ingin beralih mengonsumsi beras Bulog untuk sementara waktu maupun jangka panjang.
“Beras SPHP dan beras komersial yang disediakan Bulog stoknya banyak, harga tidak naik. Sementara itu, beras lokal sedang proses tanam. Permintaan beras lokal yang terus meningkat akan berdampak pada harganya,” kata Zulkifli.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga pun mengungkapkan pemerintah telah meningkatkan distribusi beras SPHP yang sebelumnya digelontorkan sebanyak 100 ribu ton per bulan menjadi 250 ribu ton per bulan sebagai upaya menekan harga beras.
Harga jual beras SPHP juga harus sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), yaitu maksimal Rp10.900 ditingkat konsumen.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)













