Rabu, Januari 28, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BRIN Ajak Mitra Internasional Kolaborasi Pengembangan Reaktor PeLUIt-40

SuaraPemerintah.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama dengan beberapa institusi nasional tengah mengembangkan Desain Pembangkit Listrik dan Uap-panas Industri 40 MWt (PeLUIT-40).

Kepala Pusat Riset Teknologi Nuklir (PRTRN) – BRIN, Topan Setiadipura mengajak stakeholder internasional untuk bekerja sama dalam pengembangan reaktor PeLUIt-40. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri kegiatan South, Central, and East Asia Regional FIRST Conference on Advancing the Safe and Secure Deployment of Small Modular Reactors (SMR) di Seoul, Korea Selatan, pada 11 hingga 13 Juni 2024.

- Advertisement -

“Kami mengundang mitra strategis Internasional untuk berkolaborasi dalam pengembangan bersama PeLUIt-40, untuk persetujuan desain dan atau hingga pembangunan demo plant dan komersialisasi lebih lanjut,” ajaknya.

Dijelaskan Topan, Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan energi nuklir sebagai bagian dari energi baru dan terbarukan dalam upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Terkait hal tersebut, pemerintah mewacanakan commissioning dan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial pertama di Indonesia di antara rentang tahun 2030 – 2034.

- Advertisement -

“Saat ini 80-an desain Small Modular Reactor (SMR) sedang dikembangkan di dunia, dan salah satunya adalah desain Pembangkit Listrik dan Uap-panas Industri 40 MWt (PeLUIT-40) yang sedang dikembangkan oleh BRIN bersama beberapa institusi nasional. Kebijakan nasional di atas memberikan kesempatan terhadap teknologi PeLUIt-40 yang sedang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk berkontribusi bagi dunia energi atau ketenagalistrikan Indonesia,” terang Topan.

Menurut Topan, tahun 2030 sampai 2034, khususnya tahun 2032 merupakan target awal 250 MWe menjadi jendela peluang bagi SMR untuk memasuki pasar ketenagalistrikan atau energi di Indonesia. Hal ini akan menjadi faktor kunci pencapaian transisi energi nasional.

Topan juga menjelaskan dua strategi yang dapat dilakukan untuk merealisasikan SMR sebagai teknologi PLTN pertama di Indonesia. Pertama, melakukan kerja sama dengan vendor internasional untuk menerapkan teknologi SMR mereka.

“Saat ini telah ada beberapa vendor SMR yang membangun komunikasi dengan pihak-pihak di Indonesia, mulai melakukan kesepakatan awal bahkan ada yang sudah lebih jauh melakukan kajian tekno-ekonomi terkait implementasi ternologi SMR tertentu. Ada juga vendor internasional yang memang membuka kantor di Indonesia dan melakukan tahapan-tahapan pengembangan dan implementasi SMR,” jelasnya.

Kedua, dengan kolaborasi untuk mendorong teknologi nasional melalui kerja sama strategis dengan pihak internasional. Teknologi nasional tersebut salah satunya, PeLUIt-40 melalui Kerja sama co-development dan implementasinya di Indonesia.

“Kedua strategi tersebut memerlukan kolaborasi yang progresif antara vendor SMR Internasional dan perusahaan energi di Indonesia,” lanjut Topan.

Pada skema strategi pertama, jelas Topan, untuk membangun dan memanfaatkan teknologi SMR di Indonesia, maka pihak vendor dan perusahaan energi di Indonesia harus melakukan komunikasi intensif untuk membangun target spesifik dan langkah-langkah bersama yang memadukan teknologi yang ditawarkan dengan kebutuhan energi yang akan dipenuhi. “Dalam skema ini BRIN akan berperan sebagai Technical Support Officer (TSO),” ungkapnya.

Untuk itulah, diperlukan mekanisme matchmaking antara technology push dari vendor SMR dan demand energi di Indonesia. “Sangat penting untuk pembentukan suatu konsorsium antara vendor-vendor SMR dan perusahaan energi atau listrik Indonesia agar dapat berkontribusi secara positif untuk merealisasikan PLTN dan membangun kepercayaan dari publik dan stakeholder nasional,” papar Topan.

Lebih lanjut, Topan menjelaskan bahwa PeLUIt-40 telah didesain oleh BRIN sejak tahun 2021 sebagai kelanjutan dari pengembangan yang dilakukan oleh BATAN sebelum bergabung dengan BRIN.

PeLUIt-40 adalah reaktor jenis High Temperature Gas cooled Reactor (HTGR). Dirinya menyebut bahwa dalam era non-SMR, komersialisasi HTGR mengikuti skema tiga langkah yaitu Small Prototype Reactor, Medium Demo Reactor dan Big Commercial Reactor, sedangkan dalam era SMR terbuka peluang untuk hanya dengan dua skema.

Dua tahapan skema komersialisasi HTGR dalam era SMR adalah membangun prototype atau demo skala kecil, lalu reactor yang sama ini dapat diduplikasi as-it-is tanpa memerlukan perubahan lagi untuk aplikasi komersil.

Fitur yang bisa memperkuat kelayakan ekonomi dari reactor kecil di atas adalah fitur kogenerasi, jadi reaktornya tidak hanya bisa digunakan untuk pembangkit Listrik tapi juga bisa untuk pemanfaatan lainnya secara bersamaan.

Sebagaimana namanya, PeLUIt-40 memang didesain untuk pemanfaatan pembangkit Listrik dan uap-panas industri. Khususnya untuk sistem produksi hidrogen zero emisi dengan teknologi solid-oxide electrolysis cell (SOEC).

Sebagaimana diketahui, pertemuan yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat dan Republik Korea ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pandangan terkait peran energi dan teknologi nuklir, khususnya SMR, untuk memenuhi ketahanan critical energy dan climate goals.

Pertemuan ini dihadiri perwakilan dari Kanada, Jepang, Inggris sebagai negara donor dan peserta dari Indonesia, Filipina, Kazakhstan, Malaysia, Mongolia, Sri Lanka, Thailand, Uzbekistan, dan Vietnam. Turut hadir pula perwakilan organisasi internasional dari WINS dan IAEA.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru