SuaraPemerintah.ID – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar acara sidang pengukuhan untuk tiga Guru Besar Tetap UNJ dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) serta Fakultas Ekonomi (FE). Ketiga Guru Besar tersebut adalah: (1) Prof. Dr. Dwi Kusumawardani, M.Pd. dari FBS, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Pendidikan Tari; (2) Prof. Dr. I Gusti Ketut Agung Ulupui, S.E., M.Si., Ak., CA., ASEAN CPA. dari FE, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Akuntansi Keuangan; dan (3) Prof. Dr. Gatot Nazir Ahmad, M.Si. dari FE, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Risiko Keuangan.
Acara ini berlangsung di Aula Latief Hendraningrat, Gedung Dewi Sartika, Kampus A UNJ pada Selasa, 23 Juli 2024. Sidang tersebut dihadiri oleh Rektor UNJ, Ketua Senat UNJ, Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, Dekan, dosen, serta sivitas akademika UNJ. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube EduraTV UNJ.
Prof. Komarudin, Rektor UNJ, secara resmi membuka dan memimpin sidang pengukuhan yang berjalan dengan khidmat. Dalam sambutannya, Rektor UNJ menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar ini merupakan rangkaian pertama dalam gelaran Pengukuhan Guru Besar di Tahun 2024. Dengan dikukuhkannya tiga Guru Besar ini (satu dari FBS dan dua dari FE), UNJ memiliki tambahan SDM yang mumpuni dan telah teruji keilmuannya, khususnya dalam bidang Teknologi Pendidikan Tari, Akuntansi Keuangan, dan Manajemen Risiko Keuangan. Diharapkan, penambahan guru besar ini dapat meningkatkan performa dan reputasi akademik UNJ, terutama pada Fakultas Bahasa dan Seni serta Fakultas Ekonomi.
Pada kesempatan pertama, Prof. Dr. Dwi Kusumawardani, M.Pd menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Penguatan Kepekaan Estetis dan Soft Skill Abad 21 dalam Pembelajaran Tari melalui Pendekatan Teknologi Pendidikan”. Menurut Prof. Dwi, Pendidikan Tari adalah kunci untuk meningkatkan kepekaan estetis, yang merupakan akar dari sikap menghargai keindahan atau karya seni. Dia menjelaskan bahwa penguatan kepekaan estetis dan soft skill abad 21 dilakukan oleh pendidik melalui pembelajaran tari yang didesain, dikelola, dan diimplementasikan secara sistematis dan berorientasi pada peserta didik. Penguatan tersebut dalam pembelajaran tari melalui pendekatan Teknologi Pendidikan menunjukkan: 1) Peran dan fungsi pendidik yang penting dalam pembelajaran tari; 2) Penggunaan pendekatan teknologi pendidikan yang sistematis menghasilkan pembelajaran tari yang efektif, efisien, menarik, dan memberikan nilai tambah bagi peserta didik.
Selanjutnya, Prof. Dr. I Gusti Ketut Agung Ulupui menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Akuntansi Keberlanjutan untuk Mengelola Reputasi Perusahaan Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”. Menurut Prof. Lupi, isu-isu keberlanjutan dalam 17 tujuan SDGs mempengaruhi perkembangan ilmu akuntansi dan mencetuskan konsep akuntansi keberlanjutan. Dia menyatakan bahwa pengungkapan dimensi EESG dalam laporan akuntansi keberlanjutan dapat menjaga reputasi perusahaan. Laporan akuntansi keberlanjutan yang mengintegrasikan dimensi EESG berfungsi sebagai metrik bagi pemangku kepentingan untuk mengevaluasi praktik bisnis perusahaan dan keterbukaannya dalam mengatasi masalah lingkungan dan sosial. Berdasarkan penelitiannya, Prof. Lupi memberikan rekomendasi kepada perusahaan, regulator, dan dewan standar untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan melalui pengungkapan EESG: 1) Integrasi EESG ke dalam strategi bisnis; 2) Penetapan indikator kinerja utama (KPI) untuk mengukur kinerja EESG; 3) Pelaporan dan transparansi; 4) Keterlibatan stakeholder; 5) Biaya dan sumber daya; 6) Kredibilitas dan kepercayaan; serta 7) Pemahaman dan pelatihan terkait EESG.
Terakhir, Prof. Dr. Gatot Nazir Ahmad menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Model Pengelolaan Risiko untuk Meningkatkan Kinerja dan Nilai Tambah Perusahaan Indonesia”. Berdasarkan penelitiannya, Prof. Gatot menjelaskan bahwa model pengelolaan risiko yang dikembangkannya adalah transformasi dari pemikiran pengelolaan risiko yang dibangun melalui tiga fase teoretisasi: Fase 1: Theory of the Firm; Fase 2: MM 1,2,3 Trade-off Theory and Pecking Order Theory; Fase 3: Agency Theory, Upper Echelon Theory, Resources Dependent Theory, and Legitimacy Theory. Dia menambahkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya sebatas kajian teoritis tetapi juga berkembang dalam praktik terbaik (best practices). Pengelolaan risiko yang awalnya melekat pada fungsi asuransi telah bertransformasi menjadi fungsi yang lebih luas dan melekat pada strategi tingkat korporasi dan publik.
Prof. Hafid Abbas, Ketua Senat UNJ, menyampaikan bahwa pengukuhan 12 guru besar baru UNJ di tahun 2024 ini terjadi bersamaan dengan perubahan status UNJ dari PTNBLU ke PTNBH. Pada 23 Juli 2024, UNJ kembali mengukuhkan tiga guru besar, yaitu: Prof. Dwi Kusumawardani, Prof. Gatot Nazir Ahmad, dan Prof. I Gusti Ketut Agung Ulupui. “Selamat kepada ketiga guru besar yang dikukuhkan hari ini atas raihan puncak pangkat akademik ke jenjang guru besar. Teruslah berimajinasi dan berkarya untuk kebesaran UNJ, negeri tercinta, dan seluruh umat manusia,” ujar Prof. Hafid Abbas.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)


















