Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Apa yang Terjadi pada G30S/PKI? Fakta dan Dampak Peristiwa 1965

SuaraPemerintah.ID – Gerakan 30 September (G30S) atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI merupakan peristiwa bersejarah yang menyisakan luka mendalam dalam sejarah Indonesia. Tragedi ini terjadi pada tahun 1965 dan melibatkan pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat, yang kemudian berujung pada penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan massal terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan simpatisannya. Peristiwa ini tidak hanya mengubah arah sejarah politik Indonesia, tetapi juga memicu perubahan sosial yang besar.

Pada awal tahun 1960-an, Indonesia berada dalam keadaan politik yang sangat tegang. Persaingan ideologi antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan militer semakin memanas, sementara kehidupan masyarakat sehari-hari dipenuhi dengan krisis ekonomi dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. PKI, yang saat itu menjadi partai politik terbesar di Indonesia, berusaha untuk memperluas pengaruhnya, sementara Angkatan Darat merasa terancam oleh pertumbuhan kekuatan PKI.

- Advertisement -

G30S PKI adalah sebuah gerakan yang memiliki tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno serta mengubah Indonesia menjadi negara yang menerapkan sistem komunis. Gerakan tersebut dipimpin langsung oleh DN Aidit yang saat itu adalah ketua dari PKI atau Partai Komunis Indonesia. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, Letkol Untung yang merupakan anggota dari Pasukan Pengawal Istana atau seringkali disebut Cakrabirawa, memimpin pasukan yang dianggap setia atau loyal kepada PKI.

Gerakan tersebut mengincar Perwira Tinggi TNI AD Indonesia. Mereka menangkap enam orang dari anggota perwira tersebut. Namun 3 orang diantaranya langsung dibunuh di rumahnya. Sementara yang lainnya dibawa paksa menuju Lubanh Buaya. Semua jenazah perwira TNI AD ditemukan selang beberapa hari kemudian.

- Advertisement -

Berikut ini adalah keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi G30S/PKI.

– Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani
– Mayor Jendral Raden Soeprapto
– Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono
– Mayor Jenderal Siswondo Parman
– Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan
– Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Sedangkan Panglima TNI yaitu AH Nasution yang menjadi sasaran utama berhasil kabur dan meloloskan diri. Namun, putri dari AH Nasution yang bernama Ade Irma Nasution meninggal dunia karena tertembak. Ia tewas bersama ajudannya yang bernama Lettu Pierre Andreas Tendean yang diculik dan ditembak di Lubang Buaya.

Setelah terjadinya tragedi G30S/PKI, Soekarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk menghilangkan dan membersihkan semua unsur pemerintahan dari pengaruh Partai Komunis Indonesia. Hal tersebut dilakukan atas desakan warga Indonesia karena menganggap peristiwa tersebut sudah memberikan luka mendalam bagi merek.

Setelah diperintah Soekarno, Soeharto langsung bergerak dengan sigap. Setelah itu, PKI dinyatakan sebagai penggerak dari adanya kudeta dan kemudian pada dalang dibelakangnya diburu dan ditangkap. Termasuk juga DN Aidit yang sempat lari dan kabur ke Jawa Tengah. Namun kemudian Ia berhasil ditangkap.

Operasi penangkapan dan pembunuhan massal dimulai. Diperkirakan antara 500.000 hingga 1 juta orang tewas dalam rentang waktu satu tahun setelah peristiwa G30S. Banyak di antara mereka adalah anggota PKI, tetapi juga termasuk orang-orang yang tidak terlibat dalam politik. Pembunuhan ini sering dilakukan secara brutal, dengan penangkapan, penyiksaan, dan penguburan massal.

Kejadian ini menyisakan trauma yang mendalam di masyarakat Indonesia dan menciptakan ketakutan yang berlangsung lama. Banyak keluarga kehilangan anggota mereka dan hingga kini, banyak yang belum mendapatkan kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah peristiwa G30S, Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan dan mendirikan rezim Orde Baru. Kebijakan anti-komunis menjadi dominan, dan PKI secara resmi dinyatakan terlarang. Pendidikan sejarah pun diarahkan untuk menggambarkan PKI sebagai musuh negara, sementara kisah korban G30S jarang dibahas secara terbuka.

Meskipun demikian, di tahun-tahun terakhir, ada upaya untuk mengingat dan merefleksikan peristiwa ini, termasuk diskusi publik dan penelitian mengenai tragedi tersebut. Berbagai organisasi masyarakat sipil berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan bagi para korban dan keluarganya.

Sejarah kelam G30S/PKI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Tragedi ini mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi, menghargai perbedaan, dan menyadari bahaya dari kekuasaan yang tidak terkendali. Memahami peristiwa ini adalah langkah penting untuk mencegah terulangnya sejarah kelam serupa di masa depan.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru