SuaraPemerintah.ID – Industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan September 2024, terjadi peningkatan kecil sebesar 0,03 poin dari bulan Agustus, mencapai 52,48. Meski melambat dibandingkan September 2023, IKI masih berada di atas angka 50, yang mengindikasikan industri manufaktur tetap berada dalam fase ekspansi.
Menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin), meski ekonomi global masih diliputi ketidakpastian, terdapat sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan industri manufaktur. Salah satunya adalah inflasi yang mulai terkendali di beberapa negara mitra utama, serta penguatan ekonomi Amerika Serikat yang didukung oleh rencana The Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, dalam rilis resmi IKI bulan September 2024, menyatakan bahwa meskipun terdapat peningkatan tipis pada IKI, secara umum indeks cenderung stagnan karena belum adanya kebijakan signifikan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mendorong sektor manufaktur.
“IKI September 2024 nilainya adalah 52,48. Yang berarti IKI berada di atas 50, dengan demikian kita mengatakan bahwa industri manufaktur pada September 2024 berada pada level ekspansi,” katanya, dikutip Selasa (1/10/2024).
“Jika dibandingkan dengan IKI bulan Agustus 2024, IKI bulan September cenderung stagnan, hampir sama. Ya sedikit ada selisih (kenaikan) sebesar 0,08 poin,” tambahnya.
Febri menjelaskan bahwa sektor manufaktur masih menunggu beberapa kebijakan penting, seperti revisi Permendag No. 8 Tahun 2024, Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Gas Bumi untuk kebutuhan domestik, serta regulasi terkait Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) untuk komoditas impor. Kebijakan ini dinilai krusial untuk mendukung pertumbuhan industri manufaktur nasional.
“Misalnya kebijakan merevisi Permendag No. 8 Tahun 2024, Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Gas Bumi untuk Kebutuhan Domestik, Peraturan Menteri Keuangan terkait Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) ubin keramik impor dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) kain impor,” paparnya.
“Saat ini Kementerian Perindustrian masih menunggu sikap perbankan terhadap kebijakan penurunan suku bunga, sehingga dapat memperbanyak kredit manufaktur. Demikian juga untuk kebijakan harga gas industri yang berkorelasi kuat dengan IKI. Semakin tinggi harga gas, akan semakin menekan IKI,” ucapnya.
Febri menuturkan, dari hasil analisis IKI bulan September 2024 yang cenderung stagnan ini, 21 subsektor mengalami ekspansi dan subsektor kontraksi. Subsektor yang ekspansi memiliki kontribusi 97,3% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2024.
“Artinya sektor-sektor yang berkontribusi besar terhadap PDB masih ekspansi. Ini juga alasan kenapa IKI itu masih di atas 50, masih ekspansif,” ujar Febri.
Dia menambahkan, pelaku industri juga mengakui masih ada peningkatan kegiatan usaha. Sebanyak 77,4% responden menyampaikan peningkatan dan stabil, turun dari sebulan sebelumnya yang mencapai 79,1%.
“Dari sisi optimisme pelaku usaha untuk 6 bulan ke depan, pesimisme kembali turun. Pandangan pelaku usaha cenderung tetap, baik pesimisme, maupun stabil, dan optimisme. Ini sejalan dengan IKI yang stagnan tadi,” jelasnya.
Di sisi lain, imbuh dia, ada faktor-faktor yang menopang IKI di bulan September. Diantaranya, penguatan nilai tukar rupiah, pertumbuhan investasi khususnya di sektor bangunan seiring dengan penyelesaian proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta konsumsi rumah tangga, terutama dari kelas menengah ke atas, yang terus menopang perekonomian.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)













