Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BRIN Dorong Pemanfaatan Iradiasi untuk Ekspor Produk Pertanian

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi iradiasi untuk meningkatkan daya saing ekspor produk pertanian Indonesia. Teknologi ini dinilai strategis untuk memperpanjang masa simpan produk segar, menjaga mutu produk selama distribusi, dan memenuhi standar keamanan pangan internasional. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan infrastruktur, regulasi, hingga pemahaman pelaku usaha dan masyarakat.

Sebagai upaya memperkuat pemahaman dalam pemanfaatan iradiasi pangan, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Aplikasi Iradiasi Pangan untuk Mendukung Ekspor Produk Pertanian Indonesia”. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Gedung 720, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, pada Selasa (29/7).

- Advertisement -

Pada kesempatan tersebut, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menyatakan bahwa FGD ini merupakan salah satu bentuk peran BRIN dalam memperkuat ekonomi berbasis teknologi dan inovasi, khususnya untuk mendukung ekspor produk pertanian.

Menurutnya, pemahaman terhadap teknologi iradiasi perlu ditingkatkan yang mencakup identifikasi peluang dan tantangan dalam pengawasan ekspor, kesiapan infrastruktur, regulasi, serta riset yang mendukung. “Diperlukan pula penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan peneliti untuk mendorong penerapan teknologi iradiasi secara efektif dan berkelanjutan,” jelas Hendrian.

- Advertisement -

Senada dengan itu, Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni, memaparkan pentingnya peran teknologi iradiasi dalam mendukung ekspor dan keamanan pangan. Menurutnya, Indonesia memiliki avokad lokal yang berukuran besar, berkualitas baik, dan bercita rasa lezat. Namun, banyak avokad yang rusak sebelum sampai ke konsumen karena belum mendapatkan sentuhan teknologi, termasuk iradiasi. Akibatnya, hanya sekitar 80% yang dapat bertahan saat proses distribusi.

“Hal ini (teknologi iradiasi) harus kita angkat, karena menjadi salah satu fondasi yang sangat kuat dalam mewujudkan kedaulatan pangan, pertahanan pangan, dan peningkatan ekspor,” kata Tri. “Secara kebijakan, BRIN juga memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong pemanfaatan teknologi ini. Bersama Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, akan kita bahas bersama dewan pengarah BRIN,” tambahnya.

Peran Riset Dalam Pengembangan Teknologi Iradiasi
Terkait dengan itu, Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menjelaskan terkait peran riset dalam pengembangan teknologi iradiasi dan akselerator. “Saat ini ekspor produk hasil iradiasi baru sekitar 26% untuk pangan, sedangkan sisanya ditujukan untuk alat kesehatan seperti jarum suntik, sarung tangan, peralatan bedah seperti pisau, gunting bedah, dan alat lain yang berpotensi teriradiasi,” jelas Syaiful.

Dijelaskannya, BRIN telah mengembangkan basis data mengenai dosis dan proses iradiasi untuk mendukung industri, termasuk tata cara penanganan produk, seperti buah mangga dan buah naga. Makanan yang telah melalui proses ini diberi label radura. Selain bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan memperpanjang masa simpan, produk yang telah melalui proses iradiasi tersebut aman untuk dikonsumsi.

Syaiful juga menjelaskan tentang Irradiator Gamma Merah Putih (IGMP) Serpong yang digunakan untuk mengiradiasi sampel. Ia berharap fasilitas ini dapat mendorong industri mengembangkan produk pangan berstandar ekspor.

Kolaborasi Lintas Sektor
Kegiatan FGD ini juga menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dari Australia, Andrew Jessup yang pernah bekerja di pemerintahan Australia selama lebih dari 30 tahun dan memiliki pengalaman sebagai peneliti entomologi di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Pada kesempatan tersebut, Andrew membahas pasar global produk segar teriradiasi dan menyampaikan gambaran umum global mengenai iradiasi fitosanitari.

Selain itu dari BPOM, Siti Maimunah menyampaikan memaparkan tentang peluang dan tantangan dalam ekspor produk segar, dan Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Utama dari Badan Karantina Indonesia, Antarjo Dikin, memberikan pandangan mengenai aspek perkarantinaan, serta Su Bin dari China National Nuclear Corporation (CNNC) memaparkan penerapan teknologi iradiasi pangan dari perspektif internasional. Kemudian dari BAPETEN, Badan Pangan Nasional (BAPANAS), dan sejumlah industri seperti PT Biro Fasifikasi Indonesia, PT Oneject Indonesia.

Melalui pertemuan ini, diharapkan dapat memperkuat regulasi, merumuskan peta jalan pengembangan infrastruktur iradiasi, meningkatkan pemahaman pelaku usaha, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menghasilkan komitmen kerja sama antara lembaga riset, industri, dan regulator.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru