Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, melakukan peninjauan terhadap dua lokasi calon pembangunan Sekolah Garuda Baru di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (22/11). Kunjungan ini menjadi langkah penting dalam percepatan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Dalam kunjungannya, Wamen Stella kembali memaparkan skema penyelenggaraan Sekolah Garuda yang terdiri dari dua jalur utama
“Sekolah Garuda memiliki dua skema. Pertama, pembangunan Sekolah Garuda Baru yang dibangun dari nol, dengan target 20 sekolah hingga 2029. Kedua, pembinaan terhadap SMA yang sudah ada melalui Sekolah Garuda Transformasi, dengan target 80 sekolah hingga 2029. Tahun ini, empat lokasi Sekolah Garuda Baru telah memasuki tahap pembangunan dan siap beroperasi pada tahun ajaran 2026–2027, serta 12 Sekolah Garuda Transformasi sedang berjalan. Total ada 16 sekolah yang berjalan tahun ini,” ujar Wamen Stella.
Peninjauan pertama dilakukan pada lahan seluas lebih dari 20 hektare di Menanga Baris Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya. Lahan ini telah bersertifikat dan berada dalam pengelolaan pemerintah daerah.
Kepala Dinas PUPR Lombok Timur, Achmad Dewanto Hadi, menjelaskan bahwa lokasi ini memiliki akses yang sangat mendukung pembangunan fasilitas pendidikan.
“Fasilitas pendukung cukup lengkap. Jaraknya sekitar 60 km dari Bandara Internasional Lombok, 68 km dari kantor gubernur di Mataram, dan 28 km dari kantor bupati. Lokasinya juga dekat dengan Pelabuhan Kayangan, sekitar 1,9 km. Fasilitas seperti pemadam kebakaran, SPBU, hingga polsek tersedia di sekitar area,” jelas Dewanto.
Secara geologis, kawasan ini juga menunjukkan potensi baik. Lahan yang selama ini dimanfaatkan untuk perkebunan jambu mete dan srikaya—buah khas Lombok—mengindikasikan karakteristik tanah yang stabil untuk pengembangan fasilitas pendidikan.
Lokasi kedua berada di area Kebun Raya Lemor, kawasan yang memiliki potensi lingkungan yang kuat serta ekosistem yang telah lama dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. Empat taksonomi pohon, termasuk pohon polong dan mahoni, menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati yang ada.
Dalam peninjauan tersebut, Wamen Stella menegaskan bahwa meskipun kawasan ini memiliki nilai strategis, Kebun Raya Lemor dinilai lebih tepat dipertahankan sebagai pusat riset dan konservasi.
“Kawasan ini sangat baik dan potensial, terutama untuk kegiatan penelitian. Karena itu, lebih tepat jika kawasan ini tetap difokuskan menjadi pusat riset dan dimanfaatkan lebih optimal” jelas Wamen Stella.
Wamen Stella juga menyoroti potensi besar Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, dengan nilai pasar global telah mencapai 12 miliar USD. Namun, pemanfaatannya belum optimal. Rumput laut disebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sustainable aviation fuel, dan Lombok kini menjadi salah satu wilayah fokus untuk riset tersebut.
Pembangunan Sekolah Garuda merupakan wujud nyata strategi Kemdiktisaintek dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












