Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Ateng Sutisna Apresiasi Program Business Matching BKPM, Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Industri Besar

Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna mengapresiasi rencana Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang akan menggelar program Business Matching untuk mempertemukan usaha besar (UB) dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program ini dinilai menjadi peluang signifikan bagi UMKM untuk masuk ke dalam jaringan rantai pasok (supply chain) industri besar dan memperluas kapasitas usaha mereka.

“Sebenarnya kita memiliki regulasi yang kuat melalui Permen No. 1 Tahun 2022 dan Permen No. 3 Tahun 2025. Karena itu, inisiatif Business Matching yang dirancang sangat tepat untuk memastikan UMKM dapat terhubung dengan kebutuhan industri besar,” katanya.

- Advertisement -

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa skema kemitraan antara UB dan UMKM bukan hal baru. Upaya serupa telah dilakukan dalam berbagai periode pemerintahan, tetapi belum mencapai hasil yang diharapkan.

“Model kemitraan yang ada selama ini cenderung bersifat formalitas dan tidak menghasilkan integrasi pasokan yang nyata. Inilah mengapa dua Permen tersebut diterbitkan sebagai koreksi sekaligus penyempurnaan kebijakan,” lanjut Ateng.

- Advertisement -

Untuk memperkuat efektivitas program, Ateng mengusulkan novelty berupa penerapan model Creating Shared-Value (CSV) sebagai pendekatan kemitraan UB–UMKM. Konsep CSV yang diperkenalkan Michael Porter dan Mark Kramer dari Harvard ini menekankan bahwa perusahaan dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial secara bersamaan dengan mengintegrasikan kebutuhan masyarakat ke dalam inti bisnisnya.

“Berbeda dengan CSR yang cenderung berupa donasi atau kegiatan sosial jangka pendek, CSV adalah strategi bisnis yang berorientasi jangka panjang. CSV memastikan perusahaan membangun solusi bagi masalah masyarakat, namun sekaligus memperkuat daya saing perusahaannya sendiri,” tegas Ateng.

Ia menjelaskan bahwa inti dari CSV dalam konteks kemitraan UB–UMKM adalah menemukan titik temu (fit) antara kebutuhan strategis UB dan kapabilitas UMKM. Dengan penyelarasan tersebut, UMKM tidak hanya menjadi pemasok pelengkap, tetapi benar-benar menjadi bagian dari ekosistem pasok yang berkelanjutan.

Model CSV dalam hubungan UB–UMKM dapat diterapkan melalui tiga kerangka kolaborasi atau Triple Loop Collaboration, yaitu Loop Economic Value (Nilai Ekonomi Bersama), Loop Social Value (Nilai Sosial), dan Loop Institutional Value (Nilai Kelembagaan)

Menurutnya, model CSV sangat relevan dengan tujuan Kementerian Investasi karena bersifat berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial matching yang berlangsung satu kali.

“CSV memberi dampak ekonomi mikro dan makro, memperkuat posisi UMKM sesuai regulasi, dan menciptakan kemitraan yang berjangka panjang antara usaha besar dan UMKM,” ujarnya.

Ia berharap inovasi kebijakan ini dapat diadopsi Kementerian Investasi sehingga program Business Matching tidak hanya forum pertemuan bisnis, tetapi melahirkan kemitraan strategis yang saling menguntungkan dan memperkuat daya saing industri nasional.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru