Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

RI Menuju Swasembada BBM, Impor Solar Ditargetkan Stop Pertengahan 2026

Pemerintah menargetkan penurunan signifikan impor bensin beroktan tinggi hingga 3,6 juta kiloliter (kl) per tahun seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Proyek strategis nasional ini disebut mampu meningkatkan kemandirian energi dan memperkuat ketahanan pasokan BBM nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai 38,5 juta kl per tahun. Adapun rinciannya meliputi bensin RON 90 sebanyak 28,9 juta kl per tahun, RON 92 sebanyak 8,7 juta kl per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun.

- Advertisement -

Melalui optimalisasi RDMP Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 diproyeksikan meningkat hingga 5,5 juta kl per tahun. Tambahan produksi ini memungkinkan pemerintah menekan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 hingga sekitar 3,6 juta kl per tahun.

“Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” ungkap Bahlil dikutip Senin (19/1).

- Advertisement -

Tak hanya menekan impor bensin, peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan juga membuka peluang Indonesia untuk menghentikan impor solar mulai pertengahan 2026. Bahlil menjelaskan kebutuhan solar nasional mencapai 39,8 juta kl per tahun. Program B40 berkontribusi menyediakan pasokan FAME sekitar 15,9 juta kl per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun. Dengan produksi solar domestik mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah optimistis impor solar dapat dihentikan.

RDMP Balikpapan saat ini telah dilengkapi fasilitas utama berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Keberadaan CDU membuat kapasitas kilang meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Sementara RFCC berfungsi mengolah residu minyak mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi.

Sementara itu, unit RFCC menjadi pengolah minyak mentah yang mampu mengubah residu menjadi produk yang bernilai tinggi. “Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” tegas Bahlil.

Proyek RDMP Balikpapan juga terintegrasi dengan dua tangki raksasa Lawe-lawe berkapasitas total 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kl yang memperkuat distribusi BBM ke wilayah Indonesia bagian timur.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru