Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa layanan Keluarga Berencana (KB) dan pembangunan keluarga memiliki tujuan yang jauh lebih luas dibanding sekadar pengendalian angka kelahiran. Menurutnya, seluruh program yang dijalankan Kemendukbangga/BKKBN bermuara pada satu tujuan utama, yakni mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup keluarga Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat membuka Kick Off Pelayanan KB Serentak dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang digelar secara daring, Senin.
“Semua yang kita kerjakan, hanya satu muaranya ke pengentasan kemiskinan, sehingga dulu ada yang namanya pra-sejahtera 1-4, yang sekarang desil 1-4. Semangatnya KB itu, agar ke depan Warga Negara Indonesia tidak ada yang miskin,” ujar dia dalam Kick Off Pelayanan KB Serentak dalam rangka Hari Keluarga Nasional ke-33 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Menurutnya, pembangunan keluarga menjadi salah satu instrumen penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Dengan perencanaan keluarga yang baik, setiap keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi anggota keluarganya.
Wihaji menjelaskan, meskipun di sejumlah wilayah Indonesia angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) telah mengalami penurunan signifikan, program KB tetap memiliki peran strategis.
Ia menilai pendekatan keluarga berencana saat ini bukan semata-mata berorientasi pada pengurangan angka kelahiran, melainkan memberikan hak kepada setiap keluarga untuk merencanakan kehidupan yang lebih baik.
“Ada yang bilang, (KB) sekarang kan sudah enggak penting lagi? Ada yang TFR-nya sudah satu, tetapi perspektifnya bukan itu, ini hak warga negara untuk mengatur dan mengendalikan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, program KB dijalankan melalui tiga pendekatan utama, yaitu layanan kesehatan, layanan ekonomi, dan layanan psikologis.
“Dari sisi kesehatan, dipastikan ini bagian dari menjaga kesehatan reproduksi, jangan terlalu dekat, terlalu sering, terlalu muda, atau terlalu tua (4T),” ucap Wihaji.
Sedangkan dari layanan ekonomi, KB memiliki perspektif apabila keluarga bisa berencana dan mengatur, maka orang tuanya juga bisa mengendalikan kelahiran untuk mencari rezeki.
“Kalau bisa diatur dengan baik, anaknya bisa mendapatkan pengasuhan maksimal, orang tuanya bisa bekerja, sehingga ini memberikan kesempatan pada bapak atau ibu untuk tetap bisa beraktivitas,” tutur Wihaji.
Sementara dari layanan psikologis, ia mengemukakan bahwa KB memberikan manfaat kepada anak-anak untuk mendapatkan pengasuhan yang seimbang, bagus, dan adil.
“Karena itu bagian dari hak anak-anak kita, maka KB ini menjadi penting,” demikian Wihaji.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)











