BerandaPemerintahHamburg Sustainability Conference 2026: Indonesia Perkuat Kemitraan Global Demi Pembangunan Berkelanjutan

Hamburg Sustainability Conference 2026: Indonesia Perkuat Kemitraan Global Demi Pembangunan Berkelanjutan

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menghadiri Hamburg Sustainability Conference: Global Alliances For A Shared Future 2026 di Hamburg, Jerman, Senin (29/6). Forum ini menjadi sarana meningkatkan kemitraan internasional dan menjaring peluang investasi untuk mendukung pembiayaan dan pelaksanaan agenda pembangunan nasional.

Di hari yang sama, Menteri Rachmat Pambudy mengikuti side event Why Climate Action Can Become One of the World’s Biggest Job Creators yang membahas penciptaan lapangan kerja melalui aksi iklim. Menteri Rachmat Pambudy menjelaskan bahwa tantangan global saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri. Ketidakpastian ekonomi, fragmentasi geopolitik, dan degradasi lingkungan telah menjadi tantangan pembangunan yang berdampak langsung pada ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pemerataan sosial, dan stabilitas ekonomi.

- Advertisement -

“Jendela waktu untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030 semakin sempit. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk pesimis, melainkan panggilan untuk memperkuat aksi kolektif. Paradigma pembangunan lama sudah tidak lagi memadai. Indonesia telah mengintegrasikan SDGs ke dalam RPJPN dan RPJMN karena transisi hijau harus menjadi mesin penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan kesejahteraan. Saatnya dunia beralih dari komitmen normatif menuju implementasi nyata melalui pembiayaan global yang lebih responsif, transfer teknologi, dan kemitraan yang saling menguatkan,” ujar Menteri Rachmat Pambudy.

Menteri Rachmat Pambudy mengimbuhkan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan peluang besar untuk memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan produktivitas nasional apabila didukung oleh pengembangan keterampilan dan kebijakan yang inklusif.

“Berdasarkan Green Job Roadmap, kebutuhan tenaga kerja hijau Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari 5,3 juta pekerjaan pada 2029, dengan potensi mentransformasikan lebih dari 72 juta pekerjaan yang telah ada agar selaras dengan ekonomi rendah karbon. Investasi pada teknologi bersih harus berjalan beriringan dengan investasi pada keterampilan, pendidikan vokasi, dan perlindungan sosial. Tanpa SDM yang siap, kekurangan tenaga kerja terampil akan menjadi hambatan terbesar dalam transisi hijau. Karena itu, kemitraan internasional harus berfokus tidak hanya pada pembiayaan, tetapi juga pada penguatan kapasitas, transfer pengetahuan, dan kesiapan institusi,” kata Menteri Rachmat Pambudy.

Kerja sama antara Indonesia dengan Jerman, termasuk melalui GIZ dan Program GESIT, menunjukkan bahwa kolaborasi internasional dapat mempercepat transformasi menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Sebagai anggota G20 dan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia siap berperan sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang dalam membangun agenda pembangunan global pasca-2030 yang lebih adil, tangguh, dan berorientasi pada hasil nyata.

Hamburg Sustainability Conference 2026 berlangsung pada tanggal 29-30 Juni dan merupakan inisiatif bersama United Nations Development Programme (UNDP), Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), Michael Otto Foundation, dan Pemerintah Kota Hamburg. Konferensi ini mempertemukan kepala negara, pimpinan organisasi internasional, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil untuk merumuskan solusi bersama dalam mendorong transformasi sosial-ekologis.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM