Tim Penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat melanjutkan penilaian lapangan dengan mengunjungi Geosite Danau Labuan Cermin di Kampung Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Rabu (8/7/2026). Rombongan disambut Camat Biduk-Biduk, Cipto Suprapmono bersama pemerintah kampung dan pengelola wisata.
Ia menyampaikan, Labuan Cermin menjadi salah satu kebanggaan daerah bersama kekayaan alam lain seperti pantai, kawasan karst, gua, dan keanekaragaman hayati yang mendukung Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Penggagas Kelompok Pengelola Wisata Labuan Cermin, Ramli menjelaskan danau yang ditemukan pada 1912 itu memiliki keunikan berupa dua lapisan air yang tidak bercampur. Lapisan bagian atas merupakan air tawar yang berasal dari mata air di kawasan karst, sedangkan lapisan bawah adalah air asin yang masuk dari laut. Kondisi ini menjadikan danau dijuluki sebagai “Danau Dua Rasa”.
Sementara nama Labuan Cermin berasal dari dua kata, yaitu labuan yang berarti pelabuhan dan cermin yang menggambarkan air tenang yang sangat jernih.
Dalam kesempatan itu, Ramli mengusulkan jungkung, perahu tradisional khas masyarakat pesisir Berau, sebagai ikon Geosite Danau Labuan Cermin untuk memperkuat identitas kawasan.
Selain menjadi destinasi wisata unggulan, kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Geologi (Geoheritage) melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 187.K/GL1/MEM.G/2024. Pengelolaannya dilakukan bersama masyarakat untuk menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan melalui pariwisata berkelanjutan.
Anggota Tim Penilai Geopark, Prof. Mega Fatimah Rosana menegaskan pengelolaan geopark tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Ia berharap setiap geosite memiliki identitas yang kuat agar semakin dikenal wisatawan.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






