BerandaPemerintahMenag di FABC XII: Sinodalitas Katolik Selaras dengan Nilai-Nilai Luhur Indonesia

Menag di FABC XII: Sinodalitas Katolik Selaras dengan Nilai-Nilai Luhur Indonesia

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membuka Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC). Menag menilai semangat sinodalitas Gereja Katolik sejalan dengan nilai musyawarah dan gotong royong yang menjadi falsafah bangsa Indonesia.

“Saya percaya bahwa semangat sinodalitas Gereja Katolik memiliki kesamaan dengan nilai-nilai luhur Indonesia, yaitu ‘musyawarah’ dan ‘gotong royong’, yang bermakna melangkah bersama demi mewujudkan kebaikan bersama,” ujar Menag di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

- Advertisement -

Ia mengatakan, berbagai persoalan global saat ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan ekonomi atau politik. Konflik bersenjata, polarisasi sosial, ekstremisme, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, migrasi massal, hingga disrupsi kecerdasan buatan (AI), menurutnya, memerlukan landasan moral yang kuat.

“Dalam situasi demikian, agama memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. Agama tidak boleh sekadar menjadi identitas. Agama harus menjadi energi yang menghadirkan kekuatan besar bagi pembangunan perdamaian dan rekonsiliasi,” tegasnya.

Menag menambahkan, nilai kasih, kebaikan, dan kepedulian harus menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan di tengah keberagaman. Karena itu, para pemimpin agama memiliki tanggung jawab memastikan agama terus menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah belah.

Menurut Menag, semangat berjalan bersama untuk mencapai kebaikan bersama tersebut sejalan dengan tema Sidang Raya XII FABC, The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia. Tema tersebut dinilainya relevan dengan kebutuhan masyarakat Asia yang menghadapi beragam tantangan bersama.

Keberagaman dan Apresiasi untuk Indonesia

Presiden FABC Kardinal Filipe Neri Ferrão menilai keberagaman Asia merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Menurutnya, semangat tersebut selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi identitas Indonesia.

“Di Asia, bukan hanya manusianya yang berpakaian penuh warna; alam kita, seluruh benua Asia pun sangat kaya akan warna, tempat kita merayakan semboyan Unity in Diversity atau kesatuan dalam keberagaman,” kata Kardinal Ferrão.

Atas nama pimpinan gereja Katolik se-Asia, Kardinal Ferrão menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Indonesia yang telah mendukung penuh penyelenggaraan acara berskala internasional ini.

Mendengarkan Kelompok Terpinggirkan

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, mengatakan Sidang Raya XII FABC bukan sekadar pertemuan para uskup, melainkan ruang bersama untuk mendengarkan suara masyarakat Asia, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan.

“Sidang ini lebih dari sekadar pertemuan para uskup. Ini adalah saat yang kudus untuk mendengarkan Roh Kudus, mendengarkan satu sama lain, serta mendengarkan suara umat di Asia, khususnya kaum perempuan, orang miskin, mereka yang terpinggirkan, para migran dan pengungsi, serta semua orang yang hidupnya sedang dipengaruhi oleh perubahan sosial dan digital yang pesat,” papar Mgr. Antonius.

Ia mengingatkan pesan Paus Fransiskus bahwa gereja yang sinodal harus mendengarkan sebelum berbicara dan mendampingi sebelum menghakimi. Hal ini sejalan dengan arahan Bapa Suci Paus Leo XIV dalam pidato perdananya pada 8 Mei 2025 yang menyerukan ucapan “Damai sejahtera bagi Anda semua” serta mengajak Gereja menjadi pembangun jembatan melalui dialog, keterbukaan, dan kasih.

“Seraya kita memperdalam komitmen untuk menjadi gereja yang lebih sinodal di Asia, kita berkumpul di sini dari berbagai bangsa, budaya, dan tradisi di seluruh Asia, bersama para tamu kehormatan dari Eropa, Afrika, Amerika, Australia, dan Oseania, bersatu sebagai saudara dan saudari dalam iman, harapan, dan kasih,” tambahnya.

Sidang Raya XII FABC ini berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta. Pertemuan ini menghimpun lebih dari 120 uskup dan kardinal dari 22 konferensi waligereja serta wilayah gerejawi se-Asia. Selain memperkuat persaudaraan lintas agama, para pimpinan gereja Katolik Asia ini berkumpul untuk merumuskan respons bersama terhadap krisis iklim dan tantangan kemanusiaan di kawasan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM