BerandaPemerintahBeras Bantuan Jadi Penopang Keluarga di Alor, Uang Belanja Bisa untuk Sekolah...

Beras Bantuan Jadi Penopang Keluarga di Alor, Uang Belanja Bisa untuk Sekolah Anak

 Bagi sebagian keluarga di Kabupaten Alor, beras yang tersedia di dapur memiliki arti lebih dari bahan pangan untuk makan sehari-hari. Ketika kebutuhan beras dapat dipenuhi, sebagian pengeluaran rumah tangga dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk pendidikan anak. Hal itu dirasakan masyarakat penerima bantuan pangan di Desa Lembur Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Salah satunya Ayub Manapa, seorang petani yang tinggal bersama istri dan dua anaknya. Dalam sehari, keluarganya membutuhkan sekitar satu kilogram beras atau sekitar 30 kilogram dalam sebulan. Bantuan pangan yang diterimanya pun menjadi bekal untuk memenuhi kebutuhan beras keluarganya. “Sangat membantu pak. Hari ini saya bersyukur sekali karena saya dapat bantuan. Setidaknya untuk bulan ke depan, kami sudah ada bekal untuk makanan setiap hari,” ujar Ayub.

- Advertisement -

Bagi Ayub, pemenuhan kebutuhan beras di Alor juga berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayah kepulauan. Beras yang dikonsumsi masyarakat sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah menggunakan kapal. Pada Desember hingga Februari, ketika hujan dan angin dapat menghambat pelayaran, pasokan beras menjadi lebih sulit diperoleh dan harga dapat meningkat.

Dalam kondisi tersebut, keluarga perlu menyesuaikan konsumsi pangan dengan bahan yang tersedia. “Kadang-kadang kami sehari makan siang saja yang pakai nasi pak. Kalau pagi sama malam itu kadang kita makan jagung katemak atau ubi kayu begitu pak,” tuturnya.

Kehadiran bantuan pangan memberi ruang bagi keluarga untuk mengatur kembali pengeluaran rumah tangga. Beras yang diterima membantu memenuhi kebutuhan pangan, sementara uang yang sebelumnya dialokasikan untuk membeli beras dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Bagi Ayub, salah satunya adalah membayar uang sekolah anak. “Mungkin saya bisa bayar uang sekolah anak pak, begitu bisa ganti kebutuhan yang lain. Saya bersyukur sekali mungkin dengan bantuan ini saya bisa menyisihkan uang buat kebutuhan saya yang lain pak,” katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Santi, seorang ibu rumah tangga penerima bantuan pangan di Alor. Ia mengaku sangat senang menerima bantuan karena beras yang diterimanya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. “Sangat-sangat senang Bapak, karena hari ini dapat bantuan sampai 30 kilo. Ini bisa mencukupi untuk satu bulan,” ujar Santi.

Bagi Santi, keberlanjutan akses pangan juga menjadi harapan. Ia berharap bantuan pangan dapat terus hadir ketika dibutuhkan, sementara harga beras tetap berada pada tingkat yang dapat dijangkau masyarakat. “Harapannya mungkin ke depan terus ada bantuan. Ataupun kalau bisa harga berasnya tetap standar agar kita bisa menjangkau,” katanya.

Pada 2026, pemerintah melanjutkan bantuan pangan beras tahap kedua kepada 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) secara nasional. Setiap KPM memperoleh 10 kilogram beras per bulan untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Atas persetujuan anggaran tambahan, penyaluran tiga bulan tersebut dilakukan sekaligus. Total beras yang disiapkan mencapai 997,2 ribu ton.

Di Kabupaten Alor, Perum BULOG Cabang Kalabahi sebelumnya telah merampungkan penyaluran bantuan pangan alokasi Februari–Maret 2026 kepada 37.379 penerima yang tersebar di 18 kecamatan dan 175 desa/kelurahan, dengan realisasi mencapai 100 persen per 30 Juni 2026. Data tersebut menunjukkan luasnya jangkauan bantuan pangan di wilayah Kabupaten Alor.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa bantuan pangan merupakan salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. “Pemerintah hadir melalui berbagai instrumen, mulai dari Gerakan Pangan Murah, SPHP beras, hingga bantuan pangan, untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan daya beli terjaga,” tegas Amran.

Bagi keluarga penerima di Alor, makna bantuan tersebut kemudian hadir dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Beras tersimpan di dapur, kebutuhan makan keluarga lebih terjamin, dan sebagian pengeluaran dapat dialihkan untuk kebutuhan lain. Bagi sebuah keluarga, ruang tersebut dapat berarti sesuatu yang penting, kebutuhan pangan tetap terpenuhi, sementara anak tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dengan tenang.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM