BPOM terus mendorong kolaborasi Academia–Business–Government (ABG) dalam mempercepat pengembangan inovasi. Dalam rangka hal tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar berkesempatan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Senin (3/8/2026). Taruna Ikrar disambut langsung oleh Direktur Utama RSPON Adin Nulkhasanah beserta jajaran RSPON lainnya.
Audiensi tersebut membahas beberapa poin, antara lain mengenai neurosains. Taruna Ikrar menyampaikan komitmennya untuk mendukung RSPON tumbuh menjadi salah satu pusat riset dan pelayanan kesehatan berkelas dunia.
Ia menekankan bahwa riset di bidang neurosains, khususnya mengenai hubungan antara sistem pembuluh darah (kardiovaskular) dan neuron sinaptik pada otak, telah lama menjadi fokus penelitian yang ditekuninya. “Penelitian tentang otak merupakan passion saya. Masih banyak misteri dan komplikasi yang belum terungkap di bidang ini,” ujarnya.
Dewan Pengawas RSPON Nizar Yamanie menyoroti rekam jejak kerja sama yang telah terjalin lama dengan Taruna Ikrar, serta langkah aktif RSPON dalam memperluas jejaring kemitraan global. RSPON secara intensif membangun kolaborasi internasional dengan berbagai institusi terkemuka dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Tiongkok.
“Kita sudah membuka pintu ke mana-mana. Tim kami bergerak aktif dan responsif, bahkan sejauh ini fasilitas serta pengembangan SDM melalui capacity building di luar negeri yang kita dapatkan secara cuma-cuma. RSPON dipercaya karena keberanian dan rasa percaya diri kita dalam membangun kemitraan global,” jelasnya.
Selanjutnya, pertemuan ini juga membahas penguatan ekosistem kesehatan neurologi nasional. Pembahasan mencakup percepatan regulasi uji klinis untuk inovasi obat penyakit otak dan saraf, pengetatan pengawasan mutu, serta distribusi obat spesialis di rumah sakit, hingga rencana kolaborasi riset kesehatan otak berbasis bukti (evidence-based).
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat penelitian klinik di kawasan. Apresiasi kepada RSPON atas komitmennya dalam memperkuat penyelenggaraan penelitian klinik yang memenuhi prinsip cara uji klinik yang baik (CUKB) dan memiliki clinical research unit (CRU) untuk meningkatkan jumlah uji klinik di Indonesia sehingga menjadi contoh potensial sebagai pusat unggulan penelitian neurologi dan neurosains yang menghasilkan bukti ilmiah berkualitas tinggi.
Saat ini, baru terdapat 1 uji klinik di RSPON yang telah memperoleh persetujuan pelaksanaan uji klinik (PPUK) dari BPOM. Diharapkan ke depan semakin banyak uji klinik dari CRU RSPON, terutama untuk obat-obat inovasi baru terkait neurologi.
“Semoga sinergi antara BPOM, rumah sakit, perguruan tinggi, industri, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera,” harap Kepala BPOM menutup kunjungannya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






