Indonesia dilaporkan telah memasuki fase El Nino yang mulai aktif. Dalam laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi iklim terkini bahwa fenomena El Nino 2026 telah aktif dan diprediksi berpotensi dapat mencapai level yang sangat kuat.
Merespons hal tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengaku telah siap menjalankan strategi pengendalian terhadap kemungkinan terjadinya fluktuasi harga pangan pokok strategis, terutama beras. Kondisi di hulu perberasan dinilai masih cukup baik dengan pertumbuhan harga Gabah Kering Panen (GKP) tingkat petani, sehingga di hilir diperlukan ada jurus intervensi yang cespleng.
“GKP tingkat petani posisi paling rendah itu di Sulawesi Tenggara Rp 6.500. Kemudian yang paling tinggi ada Rp 7.600, walaupun sebenarnya ada juga beberapa daerah di Jawa hampir Rp 7.700, sehingga GKP saat ini memang relatif sangat bagus bagi petani, tapi berdampak pada harga beras di penggilingan,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikutip di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).
Dalam pantauan Bapanas, per 30 Juli tercatat rerata harga beras medium dan premium di tingkat penggilingan secara nasional masing-masing berada di Rp 13.251 per kilogram (kg) dan Rp 14.673 per kg. Kendati demikian, rerata harga beras medium secara nasional di tingkat konsumen masih terkendali. Hanya rerata harga beras premium yang sedikit melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Beras memang ada beberapa yang agak naik sedikit tapi cukup stabil. Namun demikian, pertama Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan pemerintah. Kedua, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium digencarkan ke pasar-pasar. Ini karena di beberapa pasar, kami lihat masih harus dioptimalkan,” urai Deputi Ketut.
“Lalu program bantuan pangan beras tahap kedua untuk bulan Agustus akan digeber. Oleh karena itu, saya kira GPM, penyaluran SPHP, kemudian bantuan pangan, segera digerakkan secara masif,” kata Ketut lagi.
Untuk realisasi GPM sejak Januari sampai akhir Juli telah berhasil menorehkan angka hingga 6.589 kali di 38 provinsi dan 448 kabupaten/kota. Sementara penggelontoran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ke masyarakat Januari-Juli totalnya telah mencapai 1,43 juta ton.
Capaian tersebut terdiri dari realisasi penjualan beras SPHP pada Januari-Februari 2026 sebanyak 221,05 ribu ton yang merupakan perpanjangan program SPHP beras tahun 2025. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Juli tahun ini yang telah mencapai 552,38 ribu ton dan juga ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,88 ribu ton.
Ini belum termasuk rencana salur bantuan pangan beras tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton kepada 33,24 juta keluarga masing-masing 10 kg dengan alokasi 3 bulan. Dengan begitu, pemerintah bersama Perum Bulog nantinya dapat menyalurkan CBP hingga lebih dari 2 juta ton dari total stok saat ini yang masih ada di angka 5,25 juta ton.
Sebagai implikasi positif, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras hingga minggu keempat Juli tercatat ada peningkatan jumlah kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH sebanyak 43 kabupaten/kota. Sementara periode mingguan sebelumnya berada di 40 dan 41 kabupaten/kota saja.
Dilihat dari tingkat inflasi beras sampai Juni juga masih cukup terkendali. Data BPS menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98 persen. Angka ini mulai melandai 0,57 persen yang lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.
Sementara, untuk tingkat inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) sampai Juni 2026 berada di 0,45 persen. Indeks tersebut masih berada di bawah level 1 persen, sehingga mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif masih terkendali.
Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok beras yang dikuasai pemerintah untuk menghadapi musim kekeringan dan El Nino sangat kuat. Amran juga mengingatkan agar para pelaku usaha tidak ada yang memainkan harga beras.
“Yang terpenting hari ini stok kita tetap bertahan di 5,2 juta ton. Jadi insyaallah aman. Tolong sampaikan kepada seluruh pedagang, jangan mempermainkan beras karena itu untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Ini pesan tegas. Jangan mempermainkan hajat hidup orang banyak, khususnya beras, karena itu adalah kepentingan orang banyak,” tegas Amran.
Terkait perkembangan fenomena El Nino, BMKG melaporkan El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat celsius. Apabila sudah melewati batas itu, maka dapat dikatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat.
BMKG pun memprediksi kondisi tersebut dapat memicu musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral dan diprediksi berkembang menuju fase positif pada periode September hingga Desember 2026.
BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus yang melingkupi 48,84 persen wilayah serta September mencakup 25,41 persen wilayah daratan. Selain itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitasnya mencapai kategori sangat kuat hingga 75 persen.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






