Masa awal kehidupan merupakan periode krusial dalam menentukan kualitas kesehatan, kemampuan kognitif, dan produktivitas seseorang di masa mendatang. Karena itu, pemenuhan gizi dan perlindungan kesehatan anak perlu dipandang bukan hanya sebagai agenda kesehatan, tetapi juga sebagai investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menjadi keynote speaker dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 di Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (8/8/2026). Forum ini mempertemukan para ahli kesehatan anak dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk membahas perkembangan penelitian, tantangan kesehatan anak, serta pendekatan berbasis sains dalam mendukung tumbuh kembang optimal. Pada kesempatan tersebut, Kepala BPOM menyampaikan keynote speech bertajuk “Advancing Brain and Cognitive Health in Children: Integrating Neuroscience, Nutrition, and Innovation for Southeast Asia.”
Kepala BPOM menekankan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode paling kritis bagi perkembangan otak. Kecukupan nutrisi dan neuroplastisitas berperan penting dalam periode tersebut, termasuk melalui gut-brain axis, yaitu komunikasi 2 arah antara saluran pencernaan dan sistem saraf pusat. Keseimbangan mikrobiota usus mendukung regulasi sistem imun dan perkembangan otak, sementara gut dysbiosis dapat memicu inflamasi yang berpotensi mengganggu neuroplastisitas dan fungsi neurologis.
Tantangan tersebut tecermin dari masih tingginya persoalan malnutrisi pada anak. Di Indonesia, dari sekitar 22,6 juta anak usia di bawah 5 tahun, prevalensi stunting tercatat sebesar 19,8%, wasting 6,3%, dan overweight 3,3%. Menurut Taruna, intervensi gizi sejak awal kehidupan, mulai dari promosi ASI, pemberian makanan pendamping yang tepat, suplementasi mikronutrien, hingga program nutrisi di sekolah, dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan, perkembangan kognitif, pendidikan, dan produktivitas anak.
Investasi tersebut juga memberikan manfaat ekonomi. Setiap US$1 yang diinvestasikan pada pengembangan anak usia dini dapat menghasilkan pengembalian hingga US$13 melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas. Dengan demikian, optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak bukan semata agenda kesehatan, melainkan investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Pandangan senada disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah Yanuarso. Menurutnya, perkembangan ilmu kesehatan anak perlu terus diikuti oleh tenaga kesehatan. Penguatan pengetahuan dan deteksi dini diperlukan agar gangguan kesehatan dapat ditangani lebih cepat dan tidak menghambat tumbuh kembang anak.
“Melalui forum ini, kami ingin memperkuat pemahaman dan memperbarui pengetahuan para dokter anak mengenai berbagai perkembangan ilmu dan pendekatan dalam kesehatan anak, termasuk growth faltering, precision biotics, tatalaksana alergi, serta deteksi dan penanganan defisiensi besi,” ujar Piprim.
Dalam forum tersebut, Taruna Ikrar juga menegaskan peran regulasi berbasis bukti dalam memastikan inovasi untuk kesehatan anak dapat diterapkan secara aman dan bertanggung jawab. “BPOM memastikan pangan bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, memenuhi standar keamanan, mutu, nilai gizi, serta klaim manfaat yang didukung bukti ilmiah. Regulasi bukan penghambat inovasi, melainkan enabler bagi inovasi yang aman, bermutu, dan bermanfaat,” tukas Taruna.
Untuk mewujudkan kesehatan anak yang lebih baik di Asia Tenggara, Taruna mendorong kolaborasi antara academia, business, and government (ABG) melalui penguatan riset dan bukti ilmiah, inovasi dan akses, sistem regulasi, serta kepercayaan publik. Healthy brains build healthy nations. Science inspires innovation. Evidence builds trust. Collaboration creates impact.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






