Kemerdekaan bagi sebagian orang mungkin identik dengan kibaran Merah Putih, upacara, atau riuh perlombaan di kampung halaman. Namun bagi Pekerja Migran Indonesia yang berada jauh dari tanah air, kemerdekaan memiliki makna yang lebih dalam, yakni kesempatan untuk bekerja dengan aman, memperoleh hak-haknya, membahagiakan keluarga, dan suatu hari pulang ke Indonesia dengan memanen keberhasilan.
Makna itulah yang menjadi pesan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, dalam perbincangan khusus menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Baginya, pekerja migran bukan sekadar tenaga kerja yang mencari penghasilan di negeri orang, mereka adalah bagian dari keluarga Indonesia yang berjuang sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
“Bagi saya, kemerdekaan Pekerja Migran Indonesia ketika mereka bekerja dengan tenang, bekerja dengan aman, hak-haknya terlindungi. Kemudian mereka bisa bekerja dengan senyum, membahagiakan keluarganya, dan pulang ke Indonesia dengan muka yang tersenyum karena lebih sukses,” ujar Menteri Mukhtarudin.
Bagi Mukhtarudin, perjuangan dan keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang setiap langkah seseorang, ada keluarga yang menjadi alasan untuk terus bertahan. Dan dalam kehidupannya sendiri, sosok yang menempati tempat istimewa itu adalah seorang ibu.
Doa Ibu
Ketika berbicara tentang sosok yang paling berjasa dalam perjalanan hidupnya, Mukhtarudin menyebut ibunya.
“Ibu saya itu spirit saya, perjuangan saya,” tutur Menteri Mukhtarudin dengan nada terisak.
Bagi Menteri Mukhtarudin, sang ibu adalah sosok yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras. Ia mengenang ibunya sebagai pribadi yang tidak pernah memperlihatkan penderitaan dan kekecewaan kepada anak-anaknya. Apa pun yang dihadapi, sang ibu tetap menunjukkan kekuatan.
“Ibu saya itu orang yang sangat ikhlas dan tulus. Beliau tidak pernah pernah berprasangka buruk kepada anak-anaknya, tidak pernah menunjukkan penderitaan dan kekecewaan kepada anak-anaknya. Ibu saya sangat hebat,” kata Menteri Mukhtarudin tak kuasa menahan air mata.
Lebih dari itu, Menteri Mukhtarudin meyakini bahwa doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Doa dan restu sang ibu menjadi bagian yang mengiringi perjalanan hidup serta kariernya.
Rasa tersebut bahkan dituangkannya dalam sebuah lagu berjudul Doa Ibu. Bagi Menteri Mukhtarudin, ibu adalah sumber inspirasi dan bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia memaknai kebahagiaan secara sederhana: selama masih dapat membuat ibunya tersenyum, dunia akan terasa baik-baik saja.
Makna seorang ibu tersebut menjadi relevan ketika berbicara tentang Pekerja Migran Indonesia.
Sebab, di balik seorang pekerja migran yang berangkat ke negeri orang, ada keluarga yang menunggu. Ada orang tua yang melepas anaknya dengan doa. Ada ibu yang mungkin hanya bisa mengantarkan kepergian dengan pesan sederhana agar anaknya berhati-hati dan kembali dengan selamat.
Karena itu, ketika negara berbicara tentang pelindungan pekerja migran, yang sesungguhnya dilindungi bukan hanya pekerjanya. Ada keluarga dan harapan yang ikut dibawa dalam setiap keberangkatan.
Momentum Kemerdekaan
Bagi Menteri Mukhtarudin, peringatan HUT Kemerdekaan RI juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu bangsa sekaligus mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata.
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan, menurutnya, harus diteruskan dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk hidup lebih baik.
Dalam konteks pekerja migran, salah satu wujudnya adalah memastikan mereka dapat bekerja secara aman dan mendapatkan perlindungan negara.
“Sebab, ketika seorang pekerja migran berangkat melalui jalur yang benar, memperoleh pekerjaan yang layak, mendapatkan hak-haknya, serta dapat kembali ke tanah air dengan selamat, di situlah kemerdekaan menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari,” terang Menteri Mukhtarudin.
Bagi Menteri Mukhtarudin, pekerja migran juga merupakan bagian dari kekuatan bangsa. Mereka tidak hanya bekerja untuk keluarga, tetapi turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Karena itu, peringatan HUT RI menjadi pengingat bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak bangsa dapat memperoleh kesempatan yang layak untuk meningkatkan kesejahteraan.
Migran Aman sebagai Gerakan Bersama
Upaya mencegah penempatan nonprosedural kemudian tidak dapat dilakukan oleh pemerintah pusat seorang diri. Melalui Gerakan Nasional Migran Aman, pemerintah mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk membangun kesadaran dan memperkuat perlindungan pekerja migran.
“Gerakan ini dirancang sebagai gerakan bersama yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerhati pekerja migran, hingga kelompok masyarakat lainnya. Tujuannya jelas: menekan penempatan pekerja migran secara nonprosedural yang berpotensi berujung pada Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” ucap Menteri Mukhtarudin.
Dengan demikian, perlindungan pekerja migran tidak hanya dimulai ketika seseorang sudah berada di luar negeri. Perlindungan justru harus dimulai sejak seseorang memiliki niat untuk bekerja ke luar negeri.
Ketika Dunia Butuh Pekerja Indonesia
Di tengah tantangan tersebut, terdapat peluang besar yang sedang terbuka. Dunia kerja internasional kini tidak lagi hanya membutuhkan pekerja pada sektor domestik. Peluang semakin berkembang pada sektor formal dan profesional, termasuk sektor yang membutuhkan keterampilan menengah hingga tinggi.
Korea Selatan, Jepang, negara-negara di Eropa, Timur Tengah, hingga berbagai negara lainnya menjadi bagian dari ruang peluang tersebut.
Peluang tersebut semakin terbuka karena sejumlah negara menghadapi fenomena aging population, ketika jumlah penduduk usia produktif di negara-negara tersebut semakin terbatas, Indonesia justru sedang menikmati bonus demografi.
“Jadi kayak botol ketemu tutupnya,” ujar Menteri Mukhtarudin menggambarkan pertemuan antara kebutuhan tenaga kerja di negara penempatan dan besarnya populasi usia produktif Indonesia.
Namun, peluang besar tersebut tidak otomatis dapat diisi. Kompetensi menjadi kunci.
Generasi muda yang ingin bekerja di luar negeri harus mempersiapkan mental, dokumen, kemampuan bahasa, keterampilan teknis, serta soft skill. Kesiapan tersebut penting agar pekerja tidak hanya mampu berangkat, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang di negara penempatan.
Rudi, Cerita dari Negeri Ginseng
Dalam momentum ini, Menteri Mukhtarudin juga berkesempatan untuk menyapa Rudi, pekerja migran asal Tulungagung, Jawa Timur, yang telah bekerja di Korea Selatan sejak 2014.
Melalui obrolan secara daring, Rudi menceritakan pengalamannya bekerja di sektor manufaktur, tepatnya di pabrik peleburan aluminium yang memproduksi komponen untuk kendaraan.
Bertahun-tahun menjalani kehidupan di Korea Selatan membuatnya tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga pengalaman dan kesempatan membangun kehidupan bersama keluarganya.
Hasil kerja kerasnya perlahan diwujudkan dalam bentuk aset di kampung halaman. Rudi menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk membeli tanah persawahan di Tulungagung. Sawah tersebut kemudian dikelola keluarganya dan menjadi aset produktif yang menghasilkan.
Bagi Rudi, bekerja di luar negeri bukan semata-mata tentang menerima gaji setiap bulan. Ada tujuan yang lebih Panjang, yakni membangun masa depan keluarga.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan yang jauh lebih besar daripada sekadar keinginan.
Ia pun memberikan pesan kepada calon pekerja migran yang ingin bekerja ke Korea Selatan.
Menurutnya, kehidupan di Korea tidak selalu seperti gambaran indah yang muncul di media sosial. Pekerjaan berat, cuaca sangat berbeda dengan Indonesia, dan pekerja harus mampu beradaptasi dengan lingkungan serta tuntutan pekerjaan.
“Jangan asal melihat yang enak-enak di media sosial yang. Kita harus berjuang demi masa depan,” pesan Rudi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bekerja di luar negeri bukanlah perjalanan instan menuju kesuksesan. Ada proses, perjuangan, disiplin, dan ketahanan mental yang harus dilalui.
Bukan Sekadar Pergi, tapi Harus Berdaya Saing
Bagi pemerintah, keberhasilan pekerja migran tidak seharusnya berhenti pada keberangkatan dan penerimaan upah.
Pekerja migran diharapkan memperoleh pengalaman, meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, serta membawa pulang pengetahuan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri.
Mukhtarudin menyebut proses tersebut sebagai sebuah siklus. Pekerja migran berangkat untuk bekerja, meningkatkan kemampuan dan pengalaman, kemudian kembali ke tanah air dengan daya saing global yang lebih kuat.
Dari sinilah muncul gagasan agar pekerja migran tidak selamanya menjadi pencari kerja. Mereka dapat berkembang menjadi pencipta lapangan kerja.
Kisah sejumlah purna pekerja migran menjadi gambaran nyata. Ada yang menyisihkan penghasilannya untuk investasi, kemudian menggunakan modal tersebut untuk membangun usaha mikro. Ada pula purna pekerja migran yang berkembang menjadi pengusaha dengan omzet miliaran rupiah, bahkan ada yang bergerak di sektor makanan dan minuman hingga mampu melakukan ekspor.
Harapannya, pekerja migran tidak hanya membawa pulang penghasilan, tetapi juga membawa pulang kemampuan untuk menciptakan penghasilan bagi orang lain.
SMK Go Global untuk Masa Depan Pekerja Migran
Peluang kerja internasional yang semakin luas juga mendorong kebutuhan terhadap tenaga kerja Indonesia yang kompeten.
Menurut Muhtarudin, kebutuhan tenaga kerja di luar negeri cukup besar, tetapi belum seluruhnya dapat dipenuhi karena masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan pasar kerja dan kompetensi calon pekerja.
Karena itu, pemerintah mendorong program SMK Go Global sebagai salah satu program prioritas untuk meningkatkan kesiapan lulusan SMK menghadapi kebutuhan pasar kerja internasional.
Program tersebut diarahkan pada peningkatan kemampuan bahasa, keterampilan teknis, dan sertifikasi kompetensi sehingga lulusan dapat mengisi peluang kerja formal di luar negeri.
Tujuan akhirnya bukan semata meningkatkan angka penempatan. Lebih jauh, pekerja migran yang ditempatkan diharapkan aman, memiliki kompetensi, memperoleh pekerjaan yang layak, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Merah Putih yang Tetap Dibawa
Jarak ribuan kilometer ternyata tidak serta-merta memutus hubungan pekerja migran dengan tanah air.
Di Korea Selatan, Rudi dan komunitas Pekerja Migran Indonesia tetap merayakan kemerdekaan. Upacara di KBRI, perlombaan, hingga berkumpul bersama sesama warga Indonesia menjadi ruang untuk merawat rasa kebangsaan di negeri orang.
Bagi mereka, Indonesia bukan sekadar tempat asal. Indonesia adalah rumah yang menjadi alasan mengapa perjuangan itu dilakukan.
Semangat itulah yang juga menjadi bagian dari makna HUT RI bagi Mukhtarudin.
Baginya, peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang memastikan kemerdekaan memberikan manfaat nyata bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Termasuk bagi pekerja migran yang mengharumkan nama Indonesia di negara penempatan.
Mereka membawa Merah Putih bukan hanya dalam upacara atau perayaan. Mereka membawanya melalui kerja keras, profesionalisme, dan sikap yang menunjukkan bahwa pekerja Indonesia mampu bersaing di dunia.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






