Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama menilai Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum penting untuk memperkuat keterlibatan Generasi Z dalam menjaga nilai-nilai NU sekaligus memperluas khidmah di tengah perkembangan zaman.
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu mengatakan tema Muktamar NU ke-35, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”, memiliki relevansi kuat dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, menjaga marwah berarti memastikan nilai, adab, tradisi keilmuan, toleransi, gotong royong, serta kecintaan terhadap Tanah Air tetap menjadi fondasi kehidupan warga NU. Sementara memperkaya khidmah menuntut keberanian mencari cara baru dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Menjaga marwah berarti menjaga nilai, adab dan jati diri. Sedangkan memperkaya khidmah berarti berani mencari cara-cara baru agar pengabdian tetap relevan. Di sinilah Gen Z memiliki peran yang sangat penting. Mereka bukan hanya penerima warisan nilai NU, tetapi juga harus menjadi pelaku yang mengembangkan nilai itu sesuai tantangan zamannya,” ujar Ning Lia.
Ning Lia menilai menjaga tradisi NU bukan berarti seluruh pola pengabdian harus dilakukan dengan cara yang sama seperti masa lalu. Perubahan zaman justru perlu direspons dengan inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi identitas organisasi.
“Tradisi harus menjadi akar, bukan belenggu. Kita boleh menggunakan teknologi, masuk ke ruang digital, mengembangkan ekonomi kreatif dan membangun inovasi, tetapi nilai adab, toleransi, gotong royong dan cinta Tanah Air tidak boleh hilang,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan karena Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital dengan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Generasi muda juga memiliki kemampuan besar dalam menciptakan konten, membangun jejaring hingga membentuk opini publik.
Karena itu, Ning Lia mendorong agar ruang digital tidak hanya dipandang sebagai bagian dari perkembangan teknologi, tetapi juga sebagai medan baru untuk memperluas pengabdian NU kepada masyarakat.
Menurut Ning Lia, konsep khidmah perlu berkembang mengikuti perubahan kehidupan masyarakat. Jika sebelumnya pengabdian NU banyak dilakukan melalui pesantren, masjid dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, saat ini ruang digital juga dapat menjadi sarana memberikan manfaat.
“Kalau dahulu khidmah banyak dilakukan melalui pesantren, masjid dan kegiatan sosial, hari ini khidmah juga bisa dilakukan melalui media digital. Membuat konten edukatif, melawan hoaks, menjaga persatuan, membangun usaha, menciptakan lapangan kerja dan mengedukasi masyarakat juga merupakan bentuk khidmah,” ujarnya.
Keterlibatan generasi muda di ruang digital dinilai penting, terutama di tengah derasnya penyebaran informasi dan semakin besarnya tantangan dalam menjaga persatuan masyarakat.
Gen Z, menurut Ning Lia, memiliki kreativitas, kecepatan beradaptasi, serta keberanian melakukan terobosan. Sementara NU memiliki tradisi keilmuan, pengalaman organisasi dan nilai yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
“Gen Z memiliki kecepatan, kreativitas dan keberanian. NU memiliki pengalaman, tradisi keilmuan dan nilai yang telah teruji. Kalau kekuatan ini dipertemukan, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi penerus NU, tetapi sedang menyiapkan generasi penerus bangsa,” ungkapnya.
Penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di Jombang juga memiliki makna tersendiri. Jombang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah pesantren dan memiliki keterkaitan kuat dengan perjalanan Nahdlatul Ulama.
Ning Lia berharap momentum tersebut tidak hanya menghasilkan keputusan strategis organisasi, tetapi juga membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam perjalanan NU ke depan.
Menurutnya, Gen Z tidak cukup hanya ditempatkan sebagai objek kaderisasi atau penerima warisan organisasi. Generasi muda perlu diberikan kesempatan menjadi subjek perubahan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai NU.
“Jangan hanya mewariskan NU kepada Gen Z. Wariskan nilai-nilainya, berikan mereka ruang untuk berkreasi, lalu biarkan mereka membawa NU dengan cara yang sesuai zamannya. Dengan begitu, marwah tetap terjaga dan khidmah justru semakin kaya,” kata Ning Lia.
Bagi Ning Lia, semangat menjaga marwah dan memperkaya khidmah pada akhirnya harus berjalan beriringan. NU perlu tetap kokoh dengan akar tradisinya, tetapi pada saat bersamaan mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.
Dengan mempertemukan kekuatan tradisi NU dan kreativitas generasi muda, Ning Lia optimistis organisasi tersebut dapat terus memberikan kontribusi bagi umat, masyarakat, serta kemaslahatan bangsa.
Muktamar NU ke-35 pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan nilai-nilai NU tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News






