BerandaPemerintahBPOM Perkuat Hilirisasi Inovasi Obat dan Makanan Berbasis Teknologi

BPOM Perkuat Hilirisasi Inovasi Obat dan Makanan Berbasis Teknologi

BPOM mendorong penguatan hilirisasi inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung ketahanan nasional, meningkatkan daya saing obat dan makanan produksi dalam negeri, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dalam talk show Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) 2026 pada Senin (14/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin melalui Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual di Hotel Four Seasons, Jakarta.

InTechSEA 2026 merupakan ajang penghargaan dan apresiasi bagi inovator berbasis teknologi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, inovator, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan dan hilirisasi inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan. Turut hadir Rektor Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa, Ketua Umum B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

- Advertisement -

Rektor Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa mengatakan, program InTechSEA merupakan salah satu upaya Universitas Hasanuddin dalam mendorong hilirisasi dan industrialisasi hasil inovasi. Melalui program ini, universitas berharap perkembangan industri dan sektor swasta tidak hanya berorientasi pada pencapaian profit, teknologi, dan inovasi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

“Melalui program InTechSEA, kami ingin mendorong perkembangan industri dan sektor swasta agar tidak hanya berorientasi pada profit, teknologi, dan inovasi, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan,” ujar Jamaluddin Jompa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi Universitas Hasanuddin, melalui penghargaan kepada industri, perusahaan, dan lembaga yang dinilai memberikan perhatian khusus terhadap aspek sosial sekaligus lingkungan dalam menjalankan kegiatan dan mengembangkan inovasinya.

Ketua Umum B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam inovasi, baik dari sisi ide maupun talenta. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah mendorong hasil riset dan inovasi agar dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Indonesia tidak kekurangan ide maupun talenta. Tantangannya adalah bagaimana mendorong ide dari hasil riset menjadi solusi yang dapat digunakan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Arsjad Rasjid.

Arsjad menekankan bahwa pengembangan inovasi membutuhkan ekosistem yang mampu membuat inovasi tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat juga menuntut kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, dan mengimplementasikan inovasi secara nyata.

Dalam talk show bertajuk “Bincang Sinergi Lintas Sektor dalam Mendukung Inovasi untuk Indonesia yang Berkelanjutan, Inklusif, dan Berdaya Saing”, Taruna Ikrar menegaskan bahwa BPOM memiliki peran strategis dalam ekosistem hilirisasi obat dan makanan. Peran tersebut mencakup proses dari hulu hingga hilir, mulai dari research and development, pre-market, post-market, hingga penyidikan.

“Berdasarkan Undang-Undang, tanggung jawab BPOM adalah memastikan keamanan, kualitas, dan khasiat atau kemanfaatan sebagai bagian dari perlindungan masyarakat,” jelas Taruna Ikrar.

Taruna menyebut, salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor. Ia menyebut bahwa sekitar 94% bahan baku obat masih berasal dari impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan kesehatan nasional, terutama dengan adanya pembelajaran dari pandemi COVID-19 mengenai pentingnya kemandirian dalam penyediaan kebutuhan kesehatan.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis bahan alam, termasuk fitofarmaka. Potensi tersebut perlu didorong melalui riset dan hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah sekaligus mendukung kemandirian kesehatan nasional.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, BPOM terus mendorong regulasi yang adaptif serta pengawasan berbasis bukti ilmiah dan risiko. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi inovasi untuk berkembang tanpa mengesampingkan aspek keamanan, manfaat, dan mutu.

“Regulasi tidak boleh tertinggal dari inovasi,” tegas Taruna Ikrar.

Untuk mempercepat hilirisasi, BPOM juga mendorong kolaborasi ABG (Academia, Business, Government). Kolaborasi ini menghubungkan perguruan tinggi sebagai penghasil riset, dunia usaha dan industri sebagai pengembang inovasi, serta pemerintah sebagai regulator dan pemberi dukungan regulatori.

Kolaborasi tersebut juga diperkuat melalui berbagai program pendampingan bagi UMKM, antara lain asistensi regulatori, bimbingan teknis, coaching clinic, layanan konsultasi, bantuan pengujian produk, hingga program Orang Tua Angkat UMKM. Dukungan tersebut diberikan agar UMKM mampu memenuhi standar keamanan dan mutu tanpa mengurangi ketentuan yang harus dipenuhi.

“BPOM tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga sebagai enabler dan mitra bagi UMKM,” jelas Taruna Ikrar.

Melalui regulasi adaptif dan kolaborasi lintas sektor, BPOM berkomitmen terus mendorong inovasi agar dapat berkembang lebih cepat, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Melalui regulasi yang adaptif dan kolaborasi ABG, BPOM berkomitmen mendorong inovasi untuk tumbuh lebih cepat, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dengan keamanan dan mutu tetap menjadi fondasi utama,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM