BerandaPemerintahKemenko PM Dorong 10 Juta Mahasiswa Jadi Penggerak Pengentasan Kemiskinan di Desa

Kemenko PM Dorong 10 Juta Mahasiswa Jadi Penggerak Pengentasan Kemiskinan di Desa

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong hampir 10 juta mahasiswa di Indonesia menjadi kekuatan penggerak dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui aksi pemberdayaan masyarakat di 74.000 desa.

 

- Advertisement -

Upaya tersebut dilakukan melalui Innovilleague 2026, sebuah gerakan yang menghubungkan potensi perguruan tinggi dengan persoalan kemiskinan yang masih dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput. Mahasiswa didorong tidak hanya menghasilkan gagasan di lingkungan kampus, tetapi turun langsung bersama masyarakat untuk menciptakan solusi yang mampu meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan kemandirian ekonomi warga.

 

“Di satu sisi kita memiliki jutaan penduduk miskin di desa yang membutuhkan pendampingan. Di sisi lain, terdapat sekitar 10 juta mahasiswa yang potensinya belum sepenuhnya tersalurkan. Inilah kesenjangan yang semestinya bisa kita jembatani bersama,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM Abdul Haris dalam Launching dan Sosialisasi Innovilleague 2026 secara daring, Selasa (01/09/2026).

 

Abdul Haris mengatakan Innovilleague 2026 bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya menggerakkan kekuatan akademik nasional untuk terlibat langsung dalam menjawab persoalan kemiskinan dan ketimpangan pembangunan. Potensi yang dimiliki perguruan tinggi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi inovasi dan pendampingan yang memberikan dampak langsung bagi keluarga dan masyarakat miskin.

 

Indonesia saat ini memiliki 4.416 perguruan tinggi, 33.741 program studi, dan 9.967.487 mahasiswa aktif. Menurut Abdul Haris, kekuatan tersebut dapat menjadi modal besar untuk memperluas gerakan pemberdayaan, terutama di desa-desa yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pengembangan ekonomi.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 mencatat angka kemiskinan nasional masih berada pada 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 12,10 juta jiwa berada di wilayah perdesaan, sementara 2,20 juta jiwa masih berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa desa masih menjadi salah satu ruang penting dalam percepatan pengentasan kemiskinan. Di saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka nasional mencapai 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta jiwa, dengan 1,21 juta di antaranya merupakan lulusan Diploma dan Sarjana.

 

“Inilah saatnya kita membuktikan bahwa kampus adalah ruang untuk bertindak nyata, bukan hanya ruang untuk berdialektika semata,” kata Abdul Haris.

 

Melalui Innovilleague, mahasiswa didorong menjadikan berbagai program pengabdian sebagai bagian dari upaya menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat miskin. Program yang dapat didaftarkan meliputi KKN dan KKN Tematik, proyek sosial dan kemasyarakatan, kewirausahaan sosial, teknologi tepat guna, hingga berbagai bentuk inovasi pemberdayaan lainnya.

 

Berbeda dengan kompetisi berbasis gagasan atau proposal, Innovilleague memberikan apresiasi terhadap program yang telah benar-benar dijalankan bersama masyarakat. Keberlanjutan program menjadi indikator dengan bobot penilaian tertinggi, yakni 30 persen, disusul dampak nyata sebesar 25 persen, sehingga inovasi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti setelah program mahasiswa berakhir.

 

Program ini juga membuka ruang bagi inovasi mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia melalui pembagian tiga regional, yakni Barat, Tengah, dan Timur. Berkaca pada penyelenggaraan tahun 2025, Innovilleague diikuti 482 tim yang melibatkan 1.894 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan menghasilkan ratusan inovasi pemberdayaan masyarakat.

 

Pada tahun ini, Innovilleague diperluas dalam skala nasional melalui kolaborasi Kemenko PM bersama Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Program ini juga didukung komitmen 4.014 perguruan tinggi yang pada Rakornas di Surabaya, Agustus 2025, mendeklarasikan kesanggupan untuk mendampingi 40.000 desa selama periode 2026–2029.

 

Abdul Haris menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah, tetapi juga perlu diperkuat melalui keterlibatan berbagai kekuatan masyarakat. Perguruan tinggi dan mahasiswa, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk menghadirkan pendampingan, inovasi, dan solusi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

 

“Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan wilayah tidak akan terjawab hanya dengan kebijakan dari Jakarta. Ia akan terjawab ketika mahasiswa di seluruh penjuru negeri berani turun, terlibat, dan menciptakan solusi bersama masyarakat desa. Itulah makna sejati dari semangat Mahasiswa Bergerak, Desa Berdaya, Indonesia Jaya,” pungkasnya.

 

Pendaftaran Innovilleague 2026 dibuka pada 1–30 September 2026 melalui www.mandaya.co.id. Puncak penganugerahan Mandaya Award 2026 dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM