Momen Hari Bahasa Isyarat Internasional selalu punya cara tersendiri untuk mengingatkan kita tentang pentingnya ruang yang setara bagi siapa saja. Pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya bukan sekadar membuka peluang besar, tapi juga memastikan mereka yang berjuang di dalamnya merasa aman, dihargai, dan terlindungi.
Perkenalkan Dayat, seorang kawan Tuli asal Jakarta Timur yang sehari-harinya mengaspal sebagai pengemudi ojek _online_. Semangat Dayat sungguh luar biasa, dia bekerja dari jam 7 pagi sampai malam menjelang menyusuri sudut-sudut kota demi mengais rezeki.
Sebagai seorang Tuli, Dayat menjalani aktivitas tersebut dengan caranya sendiri. Ia terhubung dengan sesama pekerja Tuli melalui Komunitas Ojol Tuli Relawan Indonesia (KOTRI) dan menjadi mitra ojek online yang membuka ruang baginya untuk bekerja secara mandiri.
Namun, seperti pekerja lainnya yang menghabiskan banyak waktu di jalan, risiko kecelakaan tetap menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Dayat memahami betul pentingnya mengenali batas tubuh. Ketika lelah atau mengantuk, ia memilih berhenti dan beristirahat sekitar 30 menit sebelum kembali bekerja.
Pilihan untuk beristirahat itu menjadi bagian dari caranya menjaga keselamatan. Meski begitu, suatu hari kecelakaan tetap terjadi. Saat sedang berhenti di jalan, motor yang dikendarainya ditabrak dari belakang. Ia mengalami luka di bagian dahi hingga mengeluarkan banyak darah.
Dalam kondisi tidak sadarkan diri, Dayat kemudian mendapat pertolongan. Pihak yang membantunya menghubungi panitia KOTRI dan data dari telepon selulernya digunakan untuk membantu proses penanganan bersama pihak kepolisian dan BPJS Ketenagakerjaan. Mereka memanfaatkan kontak di ponsel Dayat untuk mengurus penanganan medis hingga melapor ke pihak kepolisian.
Kisah Dayat tak berhenti sebagai cerita sedih, melainkan jadi bukti bagaimana negara dan sistem jaminan sosial hadir merangkul warganya. Berkat terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, seluruh biaya pengobatan dan perawatan Dayat selama 3 bulan di rumah sakit ditanggung penuh. Tanpa biaya sepeser pun yang keluar dari kantongnya, keluarga yang mendampingi hanya perlu memikirkan kebutuhan makan harian mereka saja.
“Saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun,” ucapnya.
Bagi Dayat, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap perlindungan bagi pekerja. Ia tidak hanya merasakan manfaatnya ketika risiko terjadi, tetapi juga memahami bahwa perlindungan sosial merupakan bagian penting dari keberlangsungan seseorang dalam bekerja.
Kisah Dayat menjadi pengingat bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada membuka akses pekerjaan dan meningkatkan pendapatan. Masyarakat juga perlu memiliki perlindungan yang membuat mereka lebih aman ketika menghadapi risiko dalam menjalankan pekerjaan.
Hal ini menjadi semakin penting bagi kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi tantangan akses dan komunikasi, termasuk pekerja Tuli. Kesempatan untuk bekerja secara mandiri perlu berjalan beriringan dengan lingkungan kerja yang aman, informasi yang dapat diakses, serta perlindungan sosial yang mampu menjangkau mereka.
Momentum Hari Bahasa Isyarat Internasional menjadi pengingat bahwa akses komunikasi merupakan bagian penting dari pemberdayaan. Bahasa isyarat bukan sekadar cara berkomunikasi, tetapi juga jembatan agar informasi mengenai hak, keselamatan kerja, layanan publik, dan perlindungan sosial dapat diterima secara setara.
Pengalaman Dayat menunjukkan bahwa ketika akses terhadap pekerjaan dan perlindungan berjalan bersama, masyarakat memiliki ruang yang lebih kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Mereka tidak hanya didorong untuk produktif, tetapi juga dipastikan memiliki perlindungan ketika risiko datang.
Kini, Dayat ingin pengalamannya diketahui oleh lebih banyak teman Tuli. Ia mengajak para pekerja Tuli untuk memastikan diri mendapatkan perlindungan ketika bekerja, terutama bagi mereka yang sehari-hari menghadapi risiko di jalan.
“Ayo teman-teman Tuli semuanya, daftar BPJS Ketenagakerjaan. Kalau mengalami kecelakaan atau terjadi sesuatu saat bekerja, itu bisa ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan,” pesannya.
Pada akhirnya, pemberdayaan bukan hanya tentang membuat masyarakat mampu bekerja dan memperoleh penghasilan. Pemberdayaan juga berarti memastikan setiap orang, termasuk pekerja Tuli, memiliki kesempatan yang setara untuk bekerja, berkomunikasi, mendapatkan perlindungan, dan melanjutkan kehidupannya dengan lebih mandiri.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






