BerandaPemdaSemarak 14 Tahun Keistimewaan DIY, Malioboro Dipenuhi Pertunjukan Seni dan Budaya

Semarak 14 Tahun Keistimewaan DIY, Malioboro Dipenuhi Pertunjukan Seni dan Budaya

Memperingati 14 tahun Keistimewaan DIY, sejumlah komunitas di DIY merayakannya dengan menggelar beragam seni pertunjukan. Salah satunya yang diselenggarakan Sekber Keistimewaan di Kawasan Malioboro pada Minggu (30/08) kemarin.

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra mengatakan, acara yang mengangkat tema ‘Memetri Jogja Merawat Nusantara’ ini dikemas dalam beragam seni, dengan panggung utamanya di depan toko Hamzah Batik Malioboro. Kegiatan ini dilaksanakan atas l hasil kolaborasi bersama Sekber Keistimewaan DIY, Paguyuban Lurah dan Pamong DIY Nayantaka, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah DIY, serta komunitas Malioboro.

- Advertisement -

“Esensi acara ini adalah pertama, merawat ingatan kolektif bahwa sejarah asal-usul Yogyakarta sebagai kerajaan adalah pondasi utama status keistimewaan DIY. Selain itu, kami ingin menegaskan kembali, status Keistimewaan bukanlah hadiah, melainkan hasil sintesis panjang buah pergulatan sejarah, komitmen kebangsaan, serta pengakuan hukum atas tatanan Kasultanan yang mengakar jauh sebelum RI,” paparnya.

Widihasto pun menuturkan, kegiatan ini juga menjadi ajang konsolidasi jejaring lintas komponen masyarakat sebagai modal utama menjaga, merawat, memelihara, nilai serta spirit ke-Yogyakarta-an untuk memperkokoh NKRI. Dan sebagai bentuk kepedulian dan kemanusiaan, lewat momen ini digelar pula penggalangan donasi kepedulian untuk korban bencana alam di NTT, serta doa lintas agama.

Acara dibuka dengan penampilan Sanggar Biola Quinta. Sebanyak 50 pemain biola membawakan lagu-lagu nasional dan daerah. Disusul fragmen drama Spiritual Art yang menggambarkan perjuangan saat proses menuju pengesyahan UUK DIY. Rangkaian berikut diisi tari Pujiastuti dari Tamanmartani Kalasan Sleman, dilanjut tari Angguk Nganglang dari Sanggar Lestari Budaya Imogiri Bantul.

Penampilan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma turut memukau penonton. Rangkaian pertunjukan seni ini tidak hanya menghadirkan kesenian dari DIY, tetapi juga mempertemukan berbagai ekspresi budaya dari sejumlah daerah. Penanpilan Tari Bawin dari Sanggar Hamaring Kalimantan Tengah, Tari Tunggal dari Forum Pemuda Pemudi Dayak Kalimantan, dan Tari Bidu Elele dari Ikatan Keluarga Malaka NTT turut memeriahkan acara.

Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah pembacaan Ikrar Keistimewaan. Ikrar itu memuat komitmen untuk menjunjung cita-cita adiluhung pendiri Yogyakarta melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan semangat Golong Gilig sebagai penuntun arah peradaban.

Menurut Widihasto, ikrar ini juga menegaskan tekad untuk merawat jati diri masyarakat yang inklusif, nasionalis, dan berbudaya. Selain itu, terdapat pula komitmen untuk mengamalkan nilai kepemimpinan Tahta untuk Rakyat. “Komitmen ini kemudian diperluas melalui semangat kolaborasi untuk menjaga kelestarian Yogyakarta dan keutuhan NKRI. Keistimewaan DIY juga ditegaskan untuk didedikasikan bagi kejayaan Nusantara,” imbuhnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM